Ciri Ular Weling dan Bedanya dengan Welang yang Penting Diketahui

Kenali lebih dekat ciri ular weling dan bedanya dengan welang, dua reptil berbisa mematikan yang sering disalahpahami, demi keselamatan Anda dan keluarga.

Diterbitkan 11 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ular weling (Bungarus candidus) dan ular welang (Bungarus fasciatus) merupakan dua spesies ular berbisa yang kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Keduanya seringkali disalahartikan karena kemiripan nama dan genus, padahal memiliki karakteristik fisik serta tingkat bahaya yang berbeda.

Liputan6 akan mengulas secara komprehensif mengenai ciri-ciri ular weling dan perbedaannya dengan ular welang. Informasi ini penting agar masyarakat dapat membedakan kedua jenis ular berbisa ini dengan benar.

Mengenali perbedaan antara ular weling dan welang bukan hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga langkah penting dalam menjaga keselamatan. Kedua ular ini memiliki bisa neurotoksin yang mematikan. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut, Selasa (11/11/2025).

Mengenal Ciri-ciri Ular Weling (Bungarus candidus)

Ular weling, atau yang dikenal juga sebagai Malayan Krait, merupakan reptil berbisa yang tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

  • Ular ini memiliki pola belang hitam dan putih yang sangat mencolok di sepanjang tubuhnya, dari kepala hingga ujung ekor. Umumnya, bagian perut ular weling berwarna putih polos tanpa corak, meskipun beberapa populasi dapat menunjukkan variasi warna.
  • Panjang tubuh ular weling dewasa dapat mencapai sekitar 108 cm hingga 155 cm, menjadikannya ular berukuran sedang. Kepala ular weling relatif kecil, berbentuk bulat atau oval, dan hampir menyatu dengan lehernya tanpa perbedaan yang jelas. Matanya juga kecil dengan pupil berbentuk bulat.
  • Habitat ular weling sangat beragam, mencakup hutan, perkebunan, hingga area persawahan dan permukiman manusia, terutama dekat sumber air. Ular ini aktif mencari mangsa pada malam hari (nokturnal) dan cenderung pasif serta bersembunyi di siang hari. Meskipun pemalu, ular weling dapat menyerang dengan cepat tanpa peringatan jika merasa terprovokasi.
  • Bisa ular weling bersifat neurotoksin kuat yang menargetkan sistem saraf pusat, menyebabkan kelumpuhan otot dan berpotensi gagal napas. Tingkat kematian tanpa penanganan medis bisa mencapai 60-70%. Penting untuk segera mencari pertolongan medis darurat jika tergigit, meskipun antibisa monovalen khusus belum tersedia di Indonesia, antibisa polivalen dapat digunakan.

Karakteristik Ular Welang (Bungarus fasciatus)

Ular welang, dengan nama ilmiah Bungarus fasciatus, adalah spesies krait terbesar yang juga tersebar luas di Asia. Ciri khasnya adalah pola gelang hitam dan kuning mencolok yang melingkupi seluruh tubuhnya, termasuk sisi atas, samping, dan perut, membentuk "cincin" yang utuh. Pola ini tampak rapi dan konsisten, berbeda dengan weling.

  • Ular welang dewasa dapat mencapai panjang 1,5 hingga 2,1 meter, menjadikannya lebih panjang dari weling. Kepalanya lebar, pipih, dan berbentuk segitiga, terpisah jelas dari lehernya. Pada bagian kepala juga terdapat motif menyerupai huruf "V". Tubuhnya cenderung panjang dan ramping, dengan penampang tubuh berbentuk segitiga karena tulang punggung yang dinaikkan, dan memiliki ekor berujung tumpul.
  • Habitat ular welang meliputi hutan, rawa-rawa, lahan pertanian, dan sering dijumpai di dekat pemukiman manusia atau sumber air. Sama seperti weling, ular welang juga nokturnal, aktif pada malam hari dan bersembunyi di siang hari. Ular ini umumnya tidak agresif dan pemalu, namun gigitan dapat terjadi jika tidak sengaja terinjak atau terganggu saat masuk rumah.
  • Bisa ular welang juga merupakan neurotoksin yang mematikan, menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan, gagal pernapasan, hingga kematian. Namun, rasio kematian akibat gigitan welang dilaporkan lebih rendah (1-10%) dibandingkan weling, kemungkinan karena sedikitnya kasus gigitan. Antibisa polivalen tersedia di Indonesia untuk penanganan gigitan welang.

Perbedaan Ular Weling dan Ular Welang

Meskipun berada dalam genus yang sama (Bungarus), ular weling dan ular welang memiliki perbedaan signifikan yang penting untuk diketahui.

1. Pola Warna

Perbedaan paling mencolok terletak pada pola warna belangnya. Ular weling memiliki belang hitam dan putih pucat yang tidak simetris, dengan perut putih polos. Sebaliknya, ular welang memiliki belang hitam dan kuning cerah yang rapi, konsisten, dan melingkar sempurna hingga ke perut.

2. Bentuk Kepala

Selain pola warna, bentuk kepala juga menjadi pembeda utama. Kepala ular weling cenderung kecil, lonjong, dan menyatu dengan leher. Sementara itu, kepala ular welang lebih lebar, pipih, berbentuk segitiga, dan terpisah jelas dari leher, bahkan memiliki motif "V" di kepalanya. Perbedaan ini memudahkan identifikasi visual di lapangan.

3. Bentuk Tubuh

Bentuk tubuh dan ekor juga memperjelas perbedaan keduanya. Ular weling memiliki tubuh ramping, silindris, membulat, dan ekor meruncing. Berbeda dengan welang yang memiliki tubuh panjang, ramping, penampang segitiga karena tulang punggung yang dinaikkan, dan ekor berujung tumpul. Dari segi ukuran, welang umumnya lebih panjang, mencapai 1,5 hingga 2,1 meter, sedangkan weling sekitar 1,08 hingga 1,55 meter.

4. Toksisitas

Meskipun keduanya memiliki bisa neurotoksin mematikan, tingkat toksisitas dan agresivitas sedikit berbeda. Bisa ular weling dianggap lebih kuat dan lebih sering dilaporkan menyebabkan kematian pada manusia. Ular weling juga cenderung lebih cepat menyerang jika terprovokasi, sementara welang lebih tenang dan tidak agresif.

People Also Ask

1. Apa ciri fisik utama ular weling?

Jawaban: Ular weling memiliki pola belang hitam dan putih mencolok di tubuhnya, serta perut putih polos. Kepalanya kecil dan menyatu dengan leher, dengan ekor meruncing.

2. Bagaimana cara membedakan ular weling dan ular welang dari pola warnanya?

Jawaban: Ular weling memiliki belang hitam dan putih pucat yang tidak simetris dengan perut putih polos. Sementara itu, ular welang memiliki belang hitam dan kuning cerah yang rapi, konsisten, dan melingkar sempurna hingga ke perut.

3. Seberapa berbahayakah bisa ular weling dan welang?

Jawaban: Keduanya memiliki bisa neurotoksin kuat yang dapat menyebabkan kelumpuhan pernapasan dan kematian jika tidak ditangani. Bisa weling umumnya dianggap lebih mematikan dan lebih sering dilaporkan menyebabkan kematian manusia.

4. Apa yang harus dilakukan jika digigit salah satu ular ini?

Jawaban: Segera cari pertolongan medis darurat. Meskipun Indonesia belum memiliki antibisa monovalen khusus untuk weling, antibisa polivalen dapat digunakan sebagai penanganan awal yang vital untuk kedua jenis gigitan.