Liputan6.com, Jakarta Ular seringkali menjadi hewan yang disalahpahami, menimbulkan ketakutan meskipun banyak spesies tidak berbahaya. Penampilan atau perilaku defensifnya kerap membuat jenis ular tidak berbisa tapi sering dikira berbahaya. Pemahaman yang tepat sangat krusial untuk keselamatan manusia dan upaya konservasi reptil ini.
Kesalahpahaman ini tidak hanya membahayakan manusia yang mungkin bereaksi berlebihan, tetapi juga mengancam keberadaan ular non-berbisa yang penting bagi ekosistem. Mengenali ciri-ciri spesifik antara ular berbisa dan tidak berbisa dapat mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Liputan6Â akan mengulas lima jenis ular tidak berbisa yang paling sering salah diidentifikasi sebagai ular berbahaya. Dengan mengetahui karakteristik unik mereka, kita dapat lebih bijak dalam berinteraksi dengan satwa liar ini di lingkungan sekitar. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut, Selasa (16/9/2025)
Advertisement
1. Ular Jagung (Corn Snake - Pantherophis guttatus)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3059665/original/056815300_1582607896-0_Corn-Snake__1_.jpg)
Ular jagung, atau Pantherophis guttatus, adalah spesies ular tidak berbisa yang berasal dari wilayah timur dan selatan Amerika Serikat. Ular ini memiliki tubuh ramping dengan panjang rata-rata 90 hingga 150 cm saat dewasa. Nama "corn snake" berasal dari pola sisiknya yang menyerupai biji jagung di bagian perutnya, serta sering ditemukan di perkebunan jagung.
Warna dan pola ular jagung bervariasi, mulai dari oranye, merah, cokelat, hingga abu-abu dengan motif khas seperti pita atau gelang. Corak belang berwarna hitam juga terdapat pada bagian tubuh atas, sementara bagian perut cenderung berwarna putih dengan pola kotak-kotak. Ular jagung sering disalahpahami sebagai ular berbisa, terutama karena kemiripan pola warnanya dengan ular berbisa seperti Copperhead.
Di alam liar, ular jagung biasanya hidup di hutan, ladang jagung, semak belukar, dan daerah perkebunan. Mereka lebih menyukai tempat yang hangat dan lembap dengan banyak tempat persembunyian. Habitat aslinya adalah di Amerika Utara.
Sebagai karnivora, ular jagung gemar memangsa tikus dan reptil kecil lainnya. Mereka juga memakan burung dan telur. Ular ini sering bersembunyi di dekat lumbung hasil panen jagung, menunggu mangsa lewat untuk disergap, sehingga membantu mengendalikan populasi hama di alam.
Ular jagung adalah hewan nokturnal yang aktif pada malam hari. Mereka memiliki kemampuan merayap yang lincah dan mampu memanjat permukaan kasar. Meskipun tidak berbisa, ular jagung melumpuhkan mangsanya dengan cara melilit. Ular ini dikenal ramah dan mudah dijinakkan, serta cenderung jinak dan jarang menggigit manusia, menjadikannya populer sebagai reptil peliharaan.
Salah satu alasan ular jagung sering dikira berbahaya adalah kemiripan pola warnanya dengan ular Copperhead yang berbisa. Namun, ada perbedaan kunci yang dapat diperhatikan. Ular jagung memiliki pupil mata bulat, sedangkan Copperhead memiliki pupil vertikal seperti celah.
Pola pada ular jagung biasanya lebih teratur dan jelas, seringkali berupa bercak-bercak merah atau oranye yang dibatasi hitam. Sementara itu, Copperhead memiliki pola berbentuk jam pasir yang lebih tidak beraturan. Bentuk kepala ular jagung juga lebih ramping dibandingkan kepala Copperhead yang lebih segitiga dan lebar.
Ular jagung sangat populer sebagai hewan peliharaan karena sifatnya yang jinak, ukurannya yang sedang, dan perawatannya yang sederhana. Mereka memiliki warna kulit yang cantik dan beragam corak atau motif. Status konservasi ular jagung adalah "Kurang Mengkhawatirkan" (Least Concern) oleh IUCN. Keberadaan mereka bermanfaat bagi ekosistem sebagai pengendali hama pengerat.
Advertisement
2. Ular Raja (Kingsnake - Lampropeltis getula)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2994497/original/007461900_1576143088-BBC_C.jpg)
Ular raja, atau Lampropeltis, adalah genus ular tidak berbisa dari famili Colubridae yang terdiri dari berbagai spesies dan subspesies. Nama "Kingsnake" (ular raja) diberikan karena kemampuannya memangsa ular lain, termasuk ular berbisa. Ular raja berukuran kecil hingga sedang, dengan panjang 1 hingga 1,5 meter.
Ular ini memiliki pola dan warna yang bervariasi, seringkali dengan sisik yang mengilap, mulus, dan tegas. Beberapa spesies ular raja meniru penampilan ular berbisa untuk menakut-nakuti predator. Ular ini tersebar luas di Benua Amerika, dapat ditemukan di berbagai habitat seperti hutan, padang rumput, dan gurun.
Ular raja adalah predator oportunistik yang memakan berbagai mangsa. Diet mereka meliputi tikus, burung, telur, kadal, dan ular lain. Menariknya, mereka juga memangsa ular berbisa seperti ular derik, Copperhead, dan Cottonmouth.
Ular raja dikenal karena kekebalannya terhadap bisa ular lain, memungkinkan mereka untuk memangsa ular berbisa tanpa cedera. Meskipun tidak berbisa, ular raja dapat menunjukkan perilaku defensif seperti mendesis dan menggoyangkan ekornya seperti ular berbisa ketika merasa terancam. Mereka membunuh mangsanya dengan cara melilit.
Ular raja umumnya jinak, tetapi gigitannya bisa menyakitkan meskipun tidak berbahaya. Perilaku ini seringkali membuat manusia salah mengira mereka sebagai ular berbahaya.
Ular raja sering disalahpahami sebagai ular karang (Coral Snake) yang sangat berbisa karena pola cincin warna merah, kuning/putih, dan hitam yang serupa. Namun, ada sajak populer untuk membedakannya di Amerika Utara: "Red touches yellow, kills a fellow; red touches black, venom lack."
Pada ular karang berbisa, cincin merah bersentuhan dengan kuning. Sedangkan pada ular raja, cincin merah bersentuhan dengan hitam. Kepala ular karang berwarna hitam dengan moncong pendek, sementara kepala ular raja merah sebagian besar merah dengan moncong memanjang.
Ular raja adalah hewan peliharaan yang populer karena penampilannya yang memukau dan sifatnya yang relatif jinak. Mereka memainkan peran penting dalam ekosistem dengan mengendalikan populasi hewan pengerat dan ular lainnya. Status konservasi sebagian besar spesies ular raja adalah "Kurang Mengkhawatirkan" (Least Concern).
3. Ular Gopher/Bullsnake (Pituophis catenifer/melanoleucus)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4736970/original/037640500_1707284210-Screenshot_2024-02-07_at_12.11.54.jpg)
Ular Gopher atau Bullsnake, dengan nama ilmiah Pituophis catenifer/melanoleucus, adalah jenis ular tidak berbisa yang dikenal di Amerika Utara. Ular ini memiliki tubuh panjang dan ramping dengan pola warna yang mencolok, seringkali dengan warna dasar cerah seperti kuning atau oranye, dan bercak-bercak hitam atau cokelat. Mereka dapat tumbuh hingga 1,8 meter dan memiliki tubuh yang cukup berbobot.
Ular ini sering disalahpahami sebagai ular derik karena pola tubuhnya yang berbintik dan perilaku defensifnya yang meniru ular derik. Kehadiran ular ini di berbagai habitat sering menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu.
Ular Gopher tersebar luas di berbagai habitat di Amerika Utara, termasuk padang rumput, hutan gugur, dan daerah bersemak. Mereka memiliki kemampuan adaptasi yang baik dan dapat bertahan hidup di berbagai lingkungan. Sebagai predator yang tangguh dan efisien, ular Gopher memangsa berbagai jenis hewan.
Diet mereka meliputi tikus, kelinci, dan beberapa jenis burung kecil. Mereka menggunakan indra penciuman yang tajam untuk melacak mangsa. Kemampuan berburu mereka menjadikannya bagian penting dari rantai makanan.
Ular Gopher adalah predator yang menggunakan tubuhnya yang panjang dan kuat untuk menangkap dan melilit mangsa hingga mati. Ketika merasa terancam, mereka dapat memalsukan serangan atau mengeluarkan suara desis yang mengancam. Mereka juga dapat memipihkan kepala dan menggetarkan ekornya untuk meniru ular derik, meskipun tidak memiliki rattle.
Meskipun tidak berbisa, gigitan ular Gopher dewasa bisa menyakitkan. Perilaku defensif ini seringkali menjadi penyebab utama kesalahpahaman tentang status bisanya.
Ular Gopher sering dikira ular derik karena pola tubuhnya yang berbintik dan perilaku defensifnya yang meniru ular derik, seperti mendesis keras dan menggetarkan ekor. Namun, ular Gopher tidak memiliki rattle di ujung ekornya, yang merupakan pembeda utama.
Bentuk kepala ular Gopher lebih ramping dibandingkan kepala ular derik yang lebih segitiga. Pupil mata ular Gopher bulat, sedangkan ular derik memiliki pupil vertikal. Ular Gopher juga tidak memiliki lubang sensor panas (pit organs) yang khas pada ular derik.
Ular Gopher memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi hewan kecil, terutama tikus dan hewan pengerat lainnya, sehingga membantu menjaga ekosistem. Status konservasi ular Gopher umumnya adalah "Kurang Mengkhawatirkan" (Least Concern).
Advertisement
4. Ular Air Biasa (Common Watersnake - Nerodia sipedon)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/997069/original/001967300_1442902865-20150922-Ular_Perawan.jpg)
Ular air biasa, atau Nerodia sipedon, adalah ular tidak berbisa yang senang menghabiskan waktu di dalam atau di sekitar air. Mereka memiliki tubuh gemuk berwarna hijau, abu-abu, atau cokelat yang dihiasi pola belang di sekujur tubuh. Ular ini sering disalahpahami sebagai ular berbisa seperti Water Moccasin (Cottonmouth) karena habitat akuatik dan perilaku defensifnya.
Ular air belang (Homalopsis buccata), yang juga dikenal sebagai ular kadut belang, merupakan spesies ular air yang tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penampilan dan perilakunya seringkali membingungkan masyarakat awam.
Ular air biasa ditemukan di berbagai perairan seperti kolam, danau, sungai, dan rawa-rawa di Amerika Utara bagian timur dan tengah. Ular air belang dapat dijumpai di sekitar perairan, daerah aliran sungai, rawa-rawa, kolam, atau perairan dekat pemukiman warga di Asia Tenggara. Diet utama ular air adalah ikan dan amfibi.
Mereka adalah predator yang efisien di lingkungan akuatik, membantu mengendalikan populasi ikan dan amfibi kecil. Keberadaan mereka sangat penting untuk menjaga ekosistem perairan tetap seimbang.
Ular air biasa tidak berbisa, tetapi akan menggigit dengan mudah jika merasa terancam. Gigitan mereka tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan luka dan pendarahan. Mereka juga dapat mengeluarkan bau busuk (musk) sebagai mekanisme pertahanan diri.
Ular air belang merupakan hewan nokturnal, aktif mencari makan pada malam hari di sekitar sungai atau rawa-rawa. Karena coraknya yang mirip anakonda, banyak masyarakat tertarik memelihara ular ini, meskipun harus tetap berhati-hati.
Ular air biasa sering dikira Water Moccasin yang berbisa. Perbedaan utama terletak pada bentuk kepala: ular air biasa memiliki kepala yang lebih ramping, sedangkan Water Moccasin memiliki kepala yang lebih besar dan segitiga. Pupil mata ular air biasa bulat, sementara Water Moccasin memiliki pupil vertikal.
Saat berenang, Water Moccasin cenderung mengapung di permukaan air dengan sebagian besar tubuhnya terlihat, sedangkan ular air biasa berenang dengan tubuh lebih banyak terendam. Bagian dalam mulut Water Moccasin berwarna putih cerah (seperti kapas), yang tidak dimiliki ular air biasa.
Ular air memainkan peran penting dalam ekosistem perairan sebagai predator ikan dan amfibi. Mereka membantu menjaga keseimbangan populasi di habitatnya. Status konservasi sebagian besar spesies ular air adalah "Kurang Mengkhawatirkan" (Least Concern).
5. Ular Tikus Hitam (Black Rat Snake - Pantherophis obsoletus)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342696/original/035831500_1757398938-4ba11aaa-0721-4072-a098-2a0945cd3f89.jpg)
Ular tikus hitam, atau Pantherophis obsoletus, juga dikenal sebagai western rat snake atau pilot black snake. Ini adalah spesies ular tidak berbisa yang berasal dari Amerika Utara bagian tengah. Ular ini dapat tumbuh sangat besar, dengan panjang tipikal 106,5–183 cm, dan rekor terpanjang mencapai 256,5 cm, menjadikannya ular terpanjang di Amerika Utara.
Ular ini sering disalahpahami sebagai ular berbisa karena ukurannya yang besar, warna gelapnya, dan perilaku defensifnya. Penampilannya yang mencolok seringkali menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan di kalangan masyarakat.
Ular tikus hitam ditemukan di berbagai habitat, termasuk hutan, padang rumput, lahan pertanian, dan daerah perkotaan. Mereka lebih menyukai habitat yang lembap dengan banyak tempat berlindung, seperti batu dan batang kayu. Ular ini juga merupakan pemanjat yang handal dan perenang yang baik.
Makanan utama ular tikus hitam terdiri dari berbagai jenis hewan pengerat seperti tikus, marmut, dan kelinci, serta burung dan telur. Mereka adalah predator yang lincah dan efisien dalam berburu mangsa, membantu mengendalikan populasi hama.
Ular tikus hitam adalah ular diurnal/krepuskular yang aktif berburu di siang hari atau senja. Mereka adalah konstriktor yang melumpuhkan mangsanya dengan cara melilit. Ketika terancam, ular ini dapat menggetarkan ekornya, mengeluarkan bau busuk (musk), atau menyerang.
Meskipun tidak berbisa, mereka memiliki insting melarikan diri yang kuat, tetapi akan menggigit sebagai bentuk pertahanan jika terancam. Ular ini dikenal pemalu dan jinak, menjadikannya hewan peliharaan favorit bagi sebagian orang.
Ular tikus hitam sering disamakan dengan ular derik atau ular berbisa lainnya. Namun, ular tikus hitam tidak berbisa dan tidak memiliki rattle di ekornya seperti ular derik. Ini adalah perbedaan fisik yang sangat jelas.
Bentuk kepala ular tikus hitam lebih ramping dibandingkan ular berbisa yang umumnya memiliki kepala segitiga. Pupil mata ular tikus hitam bulat, berbeda dengan pupil vertikal pada banyak ular berbisa. Mereka juga tidak memiliki lubang sensor panas.
Ular tikus hitam sangat bermanfaat bagi manusia karena membantu mengendalikan populasi tikus dan hama pengerat lainnya di lahan pertanian dan pemukiman. Mereka adalah pemanjat yang sangat baik dan sering ditemukan di pohon atau di atap bangunan. Status konservasi ular tikus hitam adalah "Kurang Mengkhawatirkan" (Least Concern) oleh IUCN. Melestarikan habitat alami mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies ini.
Advertisement
People Also Ask
1. Apakah sebagian besar ular di permukiman tidak berbisa?
Jawaban: Ya, sebagian besar ular yang ditemukan di sekitar pemukiman manusia tidak berbisa. Namun, tetap penting untuk berhati-hati karena mereka bisa menyerang jika merasa terancam.
2. Tanaman apa yang tidak disukai ular?
Jawaban: Beberapa tanaman beraroma kuat seperti serai wangi, lavender, marigold, lidah mertua, dan mint dikenal dapat membantu mengusir ular secara alami.
3. Apakah pestisida dapat mengusir ular?
Jawaban: Tidak, pestisida tidak dirancang untuk mengusir ular. Penggunaan berlebihan justru dapat merusak ekosistem yang menjaga populasi ular tetap terkendali.
4. Apa yang harus dilakukan jika menemukan ular di rumah?
Jawaban: Jika menemukan ular di rumah, jangan mencoba menangkapnya sendiri. Segera hubungi pihak berwenang atau ahli penanganan satwa liar seperti Damkar untuk penanganan yang aman.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3885023/original/ACg8ocJhAqQ111Qo7aNKJo-e-gQosi_iVPv_IfWPcQDZFdPai56-TQS9%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3059663/original/049919600_1582607896-0_Corn-Snake__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812235/original/087792300_1550019778-1709255D-BDFF-4E25-B45D-78CC996796BF.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263380/original/090952300_1781922466-AP26171045705794-Brasil_vs_Haiti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263965/original/063636200_1782038065-000_B7RD77E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)