Sukses

Laga Portugal vs Uruguay Kemasukan Pria Kibarkan Bendera LGBT, Ini 3 Pesannya untuk Dunia

Liputan6.com, Doha - Salah seorang penonton tiba-tiba saja masuk ke lapangan di tengah-tengah pertandingan laga kedua Grup H Piala Dunia 2022, Portugal vs Uruguay, yang digelar di Lusail Iconic Stadium, Lusail pada Selasa, 29 November 2022, pukul 02.00 Wib.

Peristiwa pria mengibarkan bendera LGBT terjadi pada babak kedua, tepatnya di menit ke-50-an.

Dilansir London Evening Standard pada Selasa (29/11) selama beberapa detik, pria yang diketahui bernama Mario Ferri berhasil berlari di pertandingan tersebut secara bebas, sebelum akhirnya dengan cepat dijegal petugas keamanan dan dibawa ke luar lapangan.

Kejadian seperti ini biasa terjadi di berbagai pertandingan olahraga, terlebih di sepak bola. Orang seperti Mario Ferri biasa disebut pitch invader atau penyerbu lapangan.

Biasanya pitch invader memasuki lapangan untuk melakukan beberapa hal. Pertama, untuk bertemu pemain bintang secara langsung di laga pertandingan dan kemudian meminta foto bersama atau tanda tangan.

Hal seperti ini pernah terjadi kepada rival Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Amerika Selatan, saat Argentina melawan Ekuador di Estadio Monumental Banco Pichincha pada 30 Maret 2022.

Kedua, alasan pitch invader terjadi adalah sebagai bentuk protes. Inilah yang dilakukan Mario Ferri dalam pertandingan Portugal melawan Uruguay di laga Piala Dunia Qatar 2022.

Melalui aksinya, Mario Ferri memberi tiga pesan kepada dunia. Apa saja pesannya?

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Bawa Bendera LGBTQ+

Hal pertama yang pasti dilihat dari aksi Mario Ferri ini tentunya adalah bendera pelangi yang dibawanya saat memasuki lapangan. Bendera pelangi, atau yang juga dikenal dengan sebutan pride flag, dibawanya sebagai bentuk solidaritas untuk kelompok LGBTQ+ yang menjadi korban diskriminasi.

Isu mengenai bendera pelangi dan atribut LGBTQ+ lainnya di ajang Piala Dunia Qatar 2022 memang menarik perhatian orang. Seperti yang kita ketahui, Qatar melarang adanya praktik dan kampanye LGBTQ+ apapun di negaranya, sehingga atribut apapun yang membawa unsur kampanye itu dilarang. 

Namun, usai runtutan kontroversi, FIFA akhirnya mencabut larangan. Atribut pelangi dan semacamnya dipastikan tidak akan disita. Pengumuman ini terjadi setelah pelarangan ban lengan OneLove yang memunculkan wacana Inggris, Jerman, dan Denmark ingin meninggalkan FIFA.

3 dari 4 halaman

Untuk Wanita Iran

Pesan kedua adalah sebagai bentuk dukungannya terhadap wanita-wanita Iran. Saat melakukan aksinya, Mario Ferri memakai baju biru. Di bagian belakang baju tersebut, tertulis pesan “RESPECT FOR IRANIAN WOMAN”. Pesan itu merujuk kepada keadaan diskriminasi yang dirasakan wanita Iran di negaranya sendiri.

Perlu diketahui bahwa di Iran telah terjadi banyak protes. Protes telah terjadi di seluruh Iran sejak pertengahan September setelah kematian Mahsa Amini, seorang wanita berusia 22 tahun dari provinsi Kurdistan Iran.

Amini ditangkap oleh polisi moralitas negara di ibu kota Teheran karena diduga tidak mematuhi aturan berpakaian wanita Iran.

Dalam ajang Piala Dunia 2022 Qatar ini, suara dukungan terhadap Mahsa Amini memang telah bergema. Misalnya di luar Stadion Internasional Khalifa, menjelang pertandingan pertama Iran di Piala Dunia 2022 melawan Inggris (21/11/2022). Teriakan 'Sebut namanya, Mahsa Amini' bergema saat itu.

Lalu dilansir BBC, timnas Iran juga menolak untuk menyanyikan lagu kebangsaan mereka sebelum pertandingan melawan Inggris sebagai dukungan untuk protes Mahsa Amini itu.

4 dari 4 halaman

Bantu Ukarina

Ketiga adalah pesan dukungannya terhadap Ukraina. Selain tulisan “RESPECT FOR IRANIAN WOMAN”, bagian depan baju Mario Ferri, yang memiliki simbol Superman, juga bertuliskan "SAVE UKRAINE"

Tentunya dukungan ini merujuk kepada invasi Rusia terhadap Ukraina. Dilansir CNN, Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Rusia telah berulang kali menargetkan infrastruktur listrik di Ukraina, sehingga membuat lebih dari tujuh juta orang tanpa listrik, menurut pejabat Ukraina.

Rusia memang mengakui menyerang infrastruktur dasar untuk mengurangi kemampuan Ukraina untuk berperang dan mendorongnya untuk bernegosiasi. Di sisi lain, Rusia juga membantah telah melakukan jenis serangan apapun yang menargetkan warga sipil.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS