Sukses

Elon Musk dan Kepentingan Politiknya Melalui Twitter

Liputan6.com, Jakarta - Pemilik baru Twitter Elon Musk selama akhir pekan lalu mengaktifkan kembali akun Twitter Donald Trump yang sebelumnya di-banned.

Keputusan Elon Musk kembali mengizinkan Donald Trump berkicau di Twitter pun menimbulkan pertanyaan. Apakah langkah ini akan mempengaruhi popularitas Trump di 2024 dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi aktivitas ekstremis di platform tersebut.

Satu hal yang langsung diklarifikasi adalah peran politik Elon Musk dan bagaimana dia memandang masa depan Twitter.

Ketika Musk pertama kali menunjukkan minatnya membeli Twitter, ada banyak teori mengenai apa yang memotivasi keputusan tersebut. 

Dengan fakta bahwa orang terkaya di dunia ini sudah memiliki dua perusahaan berpengaruh lainnya yang berfokus pada bidang teknologi, tidak jelas apakah dia benar-benar ingin mengambil alih Twitter atau hanya ingin mengumpulkan kekuatan sosial dan meningkatkan kekuatan bisnisnya. 

Penjelasan-penjelasan ini mungkin masih menggambarkan sebagian dari alasan mengapa Elon Musk bertindak seperti itu. Tetapi tidak mungkin untuk mengabaikan kenyataan yang muncul bahwa Musk menjadikan Twitter sebagai senjata ampuh untuk aktivisme sayap kanan.

Pada 19 November 2022, Musk membuat polling alias jajak pendapat di akun Twitternya tentang apakah para followers ingin akun Donald Trump dipulihkan atau tidak. Setelah para pengguna memberikan suaranya dalam poll tersebut, akun Trump kembali aktif.

“Orang-orang telah berbicara. Akun Trump akan dipulihkan. Vox Populi Vox Dei,” kata Elon Musk dalam tweet-nya. 

Mengutip MSNBC, Rabu (23/11/2022), penting untuk tidak hanya memperhatikan hasil dari reaktivasi akun Trump, tetapi juga bagaimana Elon Musk membingkainya untuk mendapatkan perhatian publik dan audiensnya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 5 halaman

Elon Musk dan Provokasi Trump

Sebelumnya, setelah 6 Januari, Twitter memutuskan untuk melarang Trump secara permanen karena percaya risiko provokasi kekerasan lebih lanjut, yang melanggar berbagai kebijakan perusahaan.

Elon Musk tidak membahas mengenai kriteria provokasi kekerasan dalam berbagai komentar publiknya tentang pengembalian akun Trump.

Apa yang dilakukan Musk adalah untuk menghindari pertanyaan tentang kekerasan Trump yang dilakukan dengan bingkai demokrasi melalui polling.

Elon Musk juga tahu betul bahwa basis pengikutnya sebagian besar bersayap kanan dan kemungkinan poll yang dia lakukan menargetkan mereka dan mengharapkan mereka menjawab ‘ya’.

Jadi saat dia mengatakan "rakyat telah berbicara," maksudnya adalah "Legiun pendukung sayap kanan saya telah memberikan saya mandat melalui jajak pendapat yang saya buat.”

Polling Musk di Twitter menjadi tanda populisme sayap kanan dan bagaimana Musk memandang Twitter sebagai platform untuk melancarkan agenda politiknya.

 

 

 

3 dari 5 halaman

Sepak Terjang Elon Musk

Sepak terjang Musk di Twitter sejauh ini diwarnai dengan berbagai kekacauan. Pemecatan massal, kebijakan ad hoc yang tidak konsisten, serta pesan-pesan kontradiktif tentang apa yang dilakukan dan tidak dilakukan Twitter. Tetapi, perilakunya lebih terlihat sebagai penyusunan proyek politik.

Peluncuran Twitter Blue yang gagal yang awalnya ia kemukakan sebagai cara untuk membangun pendapatan Twitter merupakan salah satu proyek politiknya. 

Biasanya, verifikasi biru diperuntukkan bagi tokoh publik seperti pejabat pemerintah, jurnalis, dan selebriti. Tetapi, setelah diimplementasikan, skema Elon Musk mengalami banyak masalah karena banyak disinformasi, banyak yang meniru, dan ada kasus besar yang menyebabkan perusahaan yang ditiru kehilangan uang dalam jumlah yang besar. 

Salah satu proposisi nilai yang jelas dalam proyek Musk tersebut adalah untuk melemahkan kekuatan media sayap kiri dan meningkatkan disinformasi sayap kanan.

Elon Musk menggambarkan gagasan terkait Twitter Blue sebagai the greater leveler dan sebagai cara untuk menganggu kekuatan para jurnalis profesional. 

Idenya adalah bahwa dengan membuat lencana verifikasi biru  media sentris dan liberal memiliki pengaruh yang lebih kecil untuk mengatur berbagai narasi. Karena, media tersebut kini cenderung semakin skeptis terhadap Musk dan banyak masalah politik yang menjadi fokusnya.

 

 

 

 

4 dari 5 halaman

Menjadikan Rumah Bagi Sayap Kanan

Ada tanda-tanda lain bahwa Musk mencoba menjadikan Twitter sebagai rumah bagi sayap kanan. Hanya beberapa hari setelah mengambil alih Twitter, Musk secara resmi mendukung Partai Republik untuk pemilihan legislatif periode menengah.

Ini adalah langkah yang mencolok bagi eksekutif baru sebuah perusahaan media sosial yang berjanji memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Tentu saja Musk diizinkan untuk mengekspresikan pandangannya. Namun, intervensi partisannya yang instan juga menimbulkan pertanyaan apakah dia akan mengeksploitasi kekuatannya atas algoritme dan kebijakan Twitter untuk mendukung gerakan politik yang dia yakini atau anggap lebih menguntungkan secara pribadi.

Fenomena lain yang menarik adalah bahwa Musk terus-menerus berinteraksi dengan publik dan tampaknya mencari dukungan dari para komunikator sayap kanan, sering kali datang dari bagian yang cukup spesifik dari wacana konservatif Amerika.

 

5 dari 5 halaman

Fokus Elon Musk

Jika Musk fokus pada kemanusiaan seperti yang dia katakan, bukankah dia akan lebih tertarik untuk mendengarkan orang-orang di seluruh spektrum politik?

Jika dia benar-benar tertarik untuk meningkatkan salah satu sarana publik digital yang paling berpengaruh di dunia anglophone, bukankah dia mungkin tidak akan terlalu memperhatikan situasi politik yang otoriter?

Permainan Musk menjadi semakin jelas, dan kepentingan yang dia miliki dalam memainkan permainan ini juga jelas. Sebagai orang terkaya di Bumi dan seorang eksekutif yang dengan bangga mengeksploitasi, dia memiliki kepentingan langsung dalam memperkuat kekuatan kaum kanan.

Terlebih, tidak ada bukti bahwa Musk memandang Twitter sebagai salah satu platform untuk membangun ruang sipil demi pemenuhan masyarakat global secara online. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.