Sukses

Negara Bagian di India Ini Haruskan Orang dalam Karantina Virus Corona Kirim Selfie Tiap Jam

Liputan6.com, New Delhi - Sebuah negara bagian di India selatan telah menemukan solusi kontroversial untuk memastikan orang-orang tetap di rumah selama karantina virus Corona. Solusi tersebut yakni warga di negara bagian tersebut diharuskan mengirimkan selfie ke pemerintah tiap jam.

Menurut the Minister of Medical Education negara bagian Karnataka, orang yang dikarantina karena virus Corona diharuskan untuk mengunduh aplikasi di ponsel mereka. Nantinya, mereka harus mengambil dan mengirim selfie setiap jam ke pejabat pemerintah mulai dari jam 7 pagi hingga 10 malam.

Aplikasi itu juga akan memberi tahu koordinat GPS orang tersebut sehingga pemerintah setempat dapat memverifikasi lokasi orang tersebut. Jika orang yang dikarantina tak mengirim selfie, mereka mungkin akan dipindahkan ke salah satu pusat karantina virus Corona pemerintah India.

"Setiap selfie yang dikirim oleh orang yang dikarantina di rumah, akan dilihat oleh tim Verifikasi Foto Pemerintah. Jika foto-foto yang salah dikirim, mereka akan dipindahkan ke lokasi Karantina Massal."

 

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Demikian dalam siara pers dari kementerian setempat seperti dilaporkan oleh Buzzfeednews. Netizen India mengecam langkah yang diambil oleh pemerintah tersebut dan mengklaim hal tersebut melanggar privasi mereka.

"Lebih banyak sampah paternalistik yang melanggar privasi. Bagaimana jika pemerintah melakukan tugas mereka dan mencari cara lain untuk membuat orang tetap di rumah?" tulis @mitalisaran.

"Apa-apaan ini? Mereka pasti mengada-ada," cuit @BucketheadCase.

 

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

Pekan lalu, Perdana Menteri India Narendra Modi memerintahkan untuk melakukan lockdown di India yang memiliki 1,3 miliar penduduk dan membatalkan semua penerbangan, kereta api, dan bus untuk memperlambat penyebaran virus.

 

4 dari 4 halaman

Selanjutnya

Langkah itu diumumkan beberapa jam sebelum lockdown diberlakukan. Ini memicu pembelian bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya di seluruh negeri dengan panik dan menyebabkan jutaan buruh migran terdampar di perbatasan negara, menjadikan mereka kehilangan tempat tinggal dan menganggur.