Liputan6.com, Jakarta- Masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hoaks dan disinformasi yang marak beredar pascademonstrasi yang berujung kericuhan di sejumlah daerah. Kabar bohong tersebut dikemas sedemikan rupa sehingga sulit dikenali dan dengan mudah bisa menyesatkan.
 "Ruang publik digital kini dibanjiri beragam informasi. Dalam kondisi riuh seperti ini masyarakat perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru mempercayai setiap kabar," kata Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Dr. Radius Setiyawan, dikutip dari Antara, Senin (8/9/2025).
Kewaspadaan ini sangat penting karena potensi hoaks dan disinformasi sangat mungkin muncul, yang justru dapat memperkeruh keadaan apabila masyarakat tidak cermat dalam menyikapi kabar di media sosial. Gelombang demonstrasi kerap diiringi dengan maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi di berbagai platform digital, yang sering kali bertujuan untuk memprovokasi.
Advertisement
Dalam kondisi riuh seperti ini, masyarakat perlu berhati-hati dan tidak terburu-buru mempercayai setiap kabar yang beredar. Informasi palsu ini, baik berupa video manipulasi, narasi fitnah, hingga ajakan kebencian, dapat menimbulkan kerusuhan dan memecah belah masyarakat jika tidak disaring dengan baik.
Dinamika Informasi Digital Pasca-Kericuhan
Pasca terjadinya demo dan kerusuhan, ruang publik, khususnya media sosial, dibanjiri oleh beragam informasi. Kondisi ini memperlihatkan dinamika wacana yang kompleks di masyarakat digital, dengan berbagai analisis bermunculan di media sosial, mulai dari yang rasional hingga spekulatif dan cenderung konspiratif.
Masing-masing analisis tersebut memiliki dasar, argumen, dan pendukungnya sendiri. Dalam situasi yang riuh seperti ini, potensi hoaks sangat besar dan bisa memperkeruh situasi sosial-politik yang rentan. Hal ini menuntut kewaspadaan ekstra dari setiap pengguna internet.
Konten menyesatkan ini bisa berupa video yang dimanipulasi, narasi fitnah, hingga ajakan kebencian yang memicu emosi massa. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membekali diri dengan literasi digital yang kuat agar tidak mudah terprovokasi oleh konten tidak jelas.
Advertisement
Bahaya Mempercayai Hoaks
Mempercayai hoaks dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi individu maupun tatanan sosial. Salah satu dampak paling nyata adalah kemampuannya memicu keributan, keresahan, perselisihan, bahkan ujaran kebencian di masyarakat. Hoaks juga berpotensi memecah belah dan menciptakan polarisasi yang tajam, di mana individu terbagi dalam kelompok dengan pandangan yang sangat berlawanan.
Selain itu, bahaya mempercayai hoaks juga berdampak pada kesehatan mental. Informasi palsu dapat menyebabkan kecemasan, kepanikan, dan berbagai gangguan emosional. Dalam kasus yang ekstrem, provokasi dari hoaks bahkan berpotensi memicu skizofrenia atau gangguan mental berat yang memengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi seseorang.
Hoaks juga merusak kepercayaan terhadap institusi penting seperti media, pemerintah, pejabat publik, dan bahkan ilmu pengetahuan. Ketika berita palsu terus beredar, masyarakat dapat kehilangan keyakinan pada sumber informasi yang sah dan data yang valid, sehingga sulit membedakan fakta dari fiksi. Hal ini juga dapat merugikan pihak tertentu, mencemarkan nama baik, dan merusak reputasi individu atau kelompok yang menjadi target.
Lebih jauh lagi, hoaks dapat membahayakan nyawa dan mengganggu ketertiban sosial. Informasi palsu yang menyebar luas juga dapat menimbulkan kepanikan massal, mengganggu ketertiban, dan membuat masyarakat sulit membedakan informasi yang valid.
Dari sisi ekonomi dan politik, hoaks dapat memengaruhi kestabilan negara. Banyak hoaks sengaja dibuat untuk mencapai tujuan tertentu dan mendapatkan keuntungan finansial dari viralitasnya. Dampak yang ditimbulkan bisa sangat besar, termasuk mengancam keutuhan negara secara keseluruhan.
Terakhir, jika dibiarkan, bahaya mempercayai hoaks dapat membentuk pola pikir masyarakat yang mudah percaya pada informasi palsu tanpa verifikasi. Hoaks mengaburkan kemampuan seseorang untuk bertindak secara rasional, memicu tindakan impulsif dan irasional yang bisa membahayakan diri sendiri atau orang lain.
Modus Penyebaran Hoaks dan Tips Menghindarinya
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa kerusuhan tidak selalu terjadi secara spontan. Dalam banyak kasus, terdapat aktor atau pihak tertentu yang memang mengarahkan massa menuju tindakan destruktif. Mereka memahami bagaimana memicu emosi kerumunan hingga berubah menjadi aksi pembakaran dan penjarahan.
Untuk menghindari hoaks pasca-demonstrasi, masyarakat diimbau untuk:
- Periksa Sumber Informasi dengan Cermat: Pastikan informasi berasal dari sumber kredibel seperti media massa resmi atau situs pemerintah.
- Verifikasi Fakta Melalui Platform Terpercaya: Gunakan platform cek fakta atau bandingkan informasi dari berbagai sumber terpercaya.
- Cermati Tanggal dan Konteks Informasi: Hoaks seringkali menggunakan informasi lama atau di luar konteks.
- Waspadai Judul Sensasional dan Bahasa Emosional: Judul yang terlalu dramatis atau provokatif patut dicurigai.
- Jangan Mudah Percaya Pesan Berantai: Pesan berantai sering menjadi media penyebaran hoaks; lakukan pengecekan terlebih dahulu.
- Waspada Terhadap Manipulasi Media: Berhati-hatilah terhadap gambar dan video yang dimanipulasi.
Pentingnya kesadaran di tengah maraknya aksi demonstrasi, masyarakat perlu tetap waspada terhadap informasi yang beredar. Hoaks tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan sosial. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan dan meningkatkan literasi digital, kita bisa mengurangi risiko penyebaran informasi palsu dan provokasi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/98/original/064466600_1470996248-IMG_20151206_113422.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5336254/original/065832700_1756868411-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__89_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262534/original/058192400_1781834566-091123000_1781254919-WhatsApp_Image_2026-06-12_at_15.37.48__1_.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8547478/original/026135100_1782489514-1186643.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8546248/original/055983900_1782487868-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_22.25.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562151/original/092484300_1776790649-Prabowo_Dudung.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263705/original/015489300_1781963735-Noni_Madueke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8383836/original/060443200_1782262774-IMG-20260624-WA0005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261677/original/091626500_1781753480-063_2282078791.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8405832/original/011890700_1782288653-000_B83J62M.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261521/original/040972300_1781736777-Croatia_s_Josko_Gvardiol__4__challenges_for_the_ball_with_England_s_Noni_Madueke__20_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8546248/original/055983900_1782487868-WhatsApp_Image_2026-06-26_at_22.25.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562151/original/092484300_1776790649-Prabowo_Dudung.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8412492/original/062584200_1782296555-Screenshot_2026-06-24_171913.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8396393/original/062125800_1782277425-Teddy_Prabowo.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8274704/original/058850000_1782127995-1001383226.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3274952/original/072089200_1603351856-20201022-Aksi-Tolak-UU-Omnibus-Law-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264252/original/062040900_1782101935-42099.jpg)