Sukses

Pemberantasan Hoaks dan Vaksin Berperan Atasi Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta- Penularan Covid-19 diringi dengan sebaran hoaks seputar penyakit yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 tersebut, dua hal ini pun sama berbahayanya. Spesialis penyakit dalam dan vaksinolog, dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD mengatakan, pemberantasan hoaks dengan pemerataan vaksin Covid-19 memiliki peran yang sama dalam mengatasi pandemi Covid-19.

"Tentu nyetop produksi hoaks itu sulit ya, setiap ada hoaks ditangkap sulit ya. kita nggak tau sumber produksi hoaksnya," kata Dirga, dalam Virtual Class Cek Fakta Liputan6.com, Rabu (30/11/2022)

Menurut Dirga, cara untuk melawan hoaks adalah dengan membanjiri masyarakat dengan informasi yang benar. Pasalnya, pembuat dan penyebar hoaks sangat kreatif. Jika kita tidak jeli membedakan informasi benar dan hoaks maka dapat tersesat.

"Jika ada isu-isu yang spesifik kita mengcounter, seperti beralihnya tv analog ke digital saja dihubungkan dengan vaksin jadi memang yang membuat hoaks itu kreatif sekali," ucapnya.

Dirga melanjutkan, maraknya sebaran hoaks harus dibentengi dengan edukasi terhadap masyarakat, sebagai generasi muda sebaiknya ikut berperan dalam melindungi golongan yang rentan terpapar hoaks.

"Ini harus dicounter isu per isu memang, setiap hari memang ada hoaks, kita harus counter dengan berita yang benar," ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Vaksin Hindari Gejala Berat hingga Kematian

Dirga mengatakan meski vaksinasi masih memungkinkan seorang tertular Covid-19, tetapi vaksin dapat mencegah seseorang mengalami gejala berat jika terinfeksi COVID-19 bahkan hingga meninggal dunia.

"Gunanya vaksinasi saat orang sudah divaksinasi maka orang memiliki antibodi atau kekebalan terhadao covid-19," kata Dirga.

Berdasarkan data, kata dr Dirga, 84 persen orang yang meninggal pada gelombang Covid-19 kali ini disebabkan karena belum disuntik vaksin pertama, kedua, dan penguat atau booster.

"Datanya menarik sekali 84 persen orang yang meninggal karena Covid-19 gelombang ini adalah orang yang belum booster," ucap Dirga.

Dirga pun mengajak masyarakat yang saat ini belum lengkap tahapan vaksinasinya untuk melengkapinya hingga tiga kali atau booster pertama. Saat ini jumlah masyarakat yang sudah divaksin hingga tahap dua masih di bawah 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia dan yang sudah divaksin hingga tahap booster baru 28 persen.

"Tentu kita harus mengutamakan orang berisko tinggi terutama lansia, lansia itu banyak sekali yang belum booster," tutupnya

 

3 dari 3 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS