Sukses

Cek Fakta: Tidak Benar Anggota Brimob di Maluku Meninggal Dunia karena Disuntik Vaksin AstraZeneca

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang seorang anggota Brimob di Maluku meninggal dunia karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca beredar di media sosial. Kabar tersebut disebarkan akun Facebook Aron pada 9 April 2021 lalu.

Akun Facebook Aron mengunggah sejumlah foto seorang pria yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Foto tersebut kemudian dikaitkan dengan meninggalnya seorang anggota Brimob di Maluku karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca.

"Setelah menerima vaksin astrazaneca, anggota brimob maluku meninggal," tulis akun Facebook Aron.

Konten yang disebarkan akun Facebook Aron telah 7 kali dibagikan dan 28 kali direspons warganet.

Benarkah seorang anggota Brimob di Maluku meninggal dunia karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca? Berikut penelusurannya.

 

 

2 dari 5 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar seorang anggota Brimob di Maluku meninggal dunia karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "brimob maluku meninggal dunia vaksin AstraZeneca" di kolom pencarian Google Search.

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang meluruskan kabar tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul "Komnas KIPI: Danki Brimob Maluku Meninggal Dunia Bukan karena Vaksinasi Covid-19" yang dimuat situs Liputan6.com pada 6 April 2021 lalu.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Safari mengatakan, Komandan Kompi Batalion Brimob Polda Maluku, Iptu LT, meninggal dunia bukan karena vaksinasi Covid-19, melainkan karena terinfeksi Covid-19.

Seperti yang diketahui, Iptu LT meninggal dunia 5 hari setelah disuntik vaksin AstraZeneca pada 30 Maret 2021.

"Almarhum meninggal bukan karena vaksin, tapi karena terinfeksi Covid-19," kata Hindra saat dikonfirmasi merdeka.com, Senin (5/4/2021).

Hindra menegaskan bahwa Iptu LT sudah terpapar Covid-19 sebelum disuntik vaksin AstraZeneca. Hal ini diketahui berdasarkan hasil penelitian dan audit Komnas KIPI.

"Kalau tanggal terpaparnya saya tidak hafal, tapi yang pasti almarhum terpapar sebelum 30 Maret (tanggal disuntik). Jadi berdasarkan hasil audit Komnas KIPI almarhum meninggal bukan gara-gara vaksin," ujarnya.

Selain itu, berdasarkan audit, Komnas KIPI menyatakan bahwa Iptu LT tidak memiliki penyakit penyerta.

"Tidak ada penyakit penyerta, sakitnya karena Covid-19," tegasnya.

Sementara itu, terkait laporan 20 anggota Brimob lainnya yang mengalami KIPI ringan dengan gejala meriang, kata Hindra, seluruh anggota Brimob tersebut saat ini sudah sehat.

"Mereka sudah sehat semua, sehari doang meriangnya, sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala," kata dia.

Hindra juga menekankan bahwa tidak ada laporan lainnya terkait KIPI berat AstraZeneca. Yang ada hanyalah gejala ringan saja seperti yang dialami oleh 20 anggota Brimob itu, yakni meriang.

"Tidak ada, iya gejala ringan saja," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Informasi dihimpun, Iptu LT sempat mengikuti vaksinasi massal di lapangan upacara Polda Maluku pada 30 Maret 2021. Setelah disuntik vaksin, Iptu LT meriang, seperti anggota Brimob lainnya. Lima hari setelah disuntik, Iptu LT meninggal dunia.

Liputan6.com juga menemukan artikel berisi klarifikasi dari Polri atas kabar meninggalnya anggota Brimob di Maluku karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca. Adalah artikel berjudul "Polri Sebut Meninggalnya Anggota Brimob di Maluku Bukan karena Vaksin AstraZeneca" yang dimuat situs merdeka.com pada 8 April 2021 lalu.

Merdeka.com - Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyampaikan, anggota Brimob Polda Maluku Iptu Laurens Tenine (LT) meninggal dunia karena terinfeksi virus corona. Sehingga, Argo menegaskan bahwa Iptu LT tidak meninggal karena vaksin AstraZeneca.

"Dilakukan sampel pemeriksaan Covid-19 (RT-PCR) di RS Haulussy Ambon dengan hasil positif," kata Irjen Argo Yuwono dikutip dari siaran pers Humas Polri, Kamis (8/4).

Argo menjelaskan kronologi meninggalnya anggota Brimob itu. Berdasarkan kesaksian dari keluarga, saat pasien tiba di RS Bhayangkara, pasien memang sudah tidak sadar. Setelah diperiksa oleh Dokter jaga UGD di RS tersebut, dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada respon napas dan nadi pasien. Selanjutnya, kata Argo, dokter pun melakukan tindakan resusitasi jantung paru selama 1 siklus, namun sayangnya dokter menyatakan hal itu tidak berhasil.

"Pasien juga diperiksakan rekam jantung dengan alat EKG didapatkan hasil no respons. Untuk refleks pupil dan kornea negatif dan dinyatakan meninggal dunia pukul 07.17 WIT," ujar Argo.

Secara terpisah, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Safari sebelumnya juga mengatakan hal yang sama dengan Argo. Dia mengatakan bahwa Komandan Kompi Batalion Brimob Polda Maluku itu meninggal dunia bukan karena vaksin. Melainkan karena terpapar Covid-19. Berdasarkan hasil audit Komnas KIPI, Iptu LT diketahui sudah terpapar Covid-19 sebelum disuntik vaksin AstraZeneca.

"Almarhum meninggal bukan karena vaksin, tapi karena terinfeksi Covid-19. Yang pasti almarhum terpapar sebelum 30 maret (tanggal disuntik), kata Hindra saat dikonfirmasi merdeka.com, Senin lalu.

Diberitakan sebelumnya, Iptu LT sempat mengikuti vaksinasi massal di lapangan upacara Polda Maluku pada 30 Maret 2021. Setelah disuntik vaksin, Iptu LT meriang, seperti 19 anggota Brimob lainnya. Kemudian, 5 hari setelah disuntik, Iptu LT meninggal dunia.

Referensi:

https://www.merdeka.com/peristiwa/polri-sebut-meninggalnya-anggota-brimob-di-maluku-bukan-karena-vaksin-astrazeneca.html

https://www.liputan6.com/news/read/4524394/komnas-kipi-danki-brimob-maluku-meninggal-dunia-bukan-karena-vaksinasi-covid-19

 

3 dari 5 halaman

Kesimpulan

Kabar seorang anggota Brimob di Maluku meninggal dunia karena disuntik vaksin Covid-19 AstraZeneca ternyata tidak benar.

Faktanya, Komandan Kompi Batalion Brimob Polda Maluku, Iptu LT, meninggal dunia bukan karena vaksinasi Covid-19, melainkan karena terinfeksi Covid-19.

 

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini