Sukses

Cek Fakta: Vaksin Covid-19 Bakal Dipasang Barcode? Simak Faktanya

Liputan6.com, Jakarta - Beredar di media sosial postingan terkait vaksin covid-19 yang akan diberikan barcode atau chip di tubuh manusia. Postingan ini ramai dibagikan sejak pekan lalu.

Salah satu akun yang mengunggahnya bernama إيرما. Dia mempostingnya pada 5 Desember 2020.

Dalam postingannya terdapat potongan cuplikan berita dari website media online dengan judul "Vaksin Covid-19 Akan Dipasangi Barcode."

Selain itu ia menambahkan narasi: "Vaksin kok pake big data? Itu demi kesehatan atau karna ingin pemasangan chip/barcode untuk setiap manusia??

Lalu benarkah vaksin covid-19 akan diberikan barcode atau chip di tubuh manusia?

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 5 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri fakta dan menemukan penjelasan dari Direktur Digital Healthcare PT Bio Farma (Persero), Soleh Ayubi. Ia mengatakan bahwa pembuatan sistem informasi data yang sedang dikembangkan oleh pihaknya akan mengikuti regulasi yang ada.

"Semua proses ini harus mengikuti best practice, harus mengikuti regulasi yang ada. Baik regulasi dari Kementerian Kesehatan, Badan POM, Kominfo, berkaitan privasi data (penerima vaskin) dan seterusnya," ujarnya seperti dilansir dari artikel berjudul "Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi COVID-19 Hindari Informasi Ganda" yang tayang 6 Desember 2020 di laman covid19.go.id

Data-data yang dikelola Bio Farma tidak hanya terbatas pada data penerima vaksin, tetapi juga data-data vaksin yang didistribusikan. Soleh mengatakan, Bio Farma akan memastikan keamanan vaksin yang akan dipantau secara digital lewat label barcode yang ada di botol hingga tempat penyimpanan vaksin.

"Dan ini jadi yang menjadi pertama di Asia Tenggara. Setiap botol vaksin akan ada ID-nya, akan ada barcodenya," kata Soleh.

Selain itu Cek Fakta Liputan6.com juga menemukan artikel berjudul "Pendaftaran Vaksinasi COVID-19 Mandiri Tunggu Keputusan Menkes" yang tayang di Liputan6.com pada 1 Desember 2020.

Dalam artikel tersebut, menjelaskan pendataan penting untuk distribusi vaksin.

"Takutnya ada oknum-oknum yang menyalahgunakan vaksin. Vaksin nanti dijual mahal, seperti yang kita alami pada awal-awal tahun 2020. Masker bisa dijual dengan harga yang berkali-kali lipat," kata Erick.

"Jangan sampai ada pihak-pihak yang tidak mendapatkan vaksin atau double vaksin. Nah ini, yang sering terjadi di Indonesia," ujar Erick.

Selain itu dalam artikel berjudul "Erick Thohir Jamin Kerahasiaan Data Vaksinasi Covid-19 Masyarakat" yang tayang di Liputan6.com 24 November 2020, Erick juga menjamin kerahasiaan data masyarakat.

"Kembali saya tekankan, data ini milik pemerintah. Kami dari BUMN, Telkom, Bio Farma, sebagai agregator saja untuk menjaga agar data terekam dengan baik. Jadi ini bukan milik kita, ini milik pemerintah," ujarnya.

"Yang namanya data pribadi itu tidak bisa jadi domain publik atau milik sebuah perusahaan, maka dari itu kerahasiaannya kita jaga sejak awal, karena itu saya tekankan kita bantu, dan data milik pemerintah," katanya menegaskan.

Selain itu ada artikel dari Tempo.co berjudul "Bio Farma Siapkan Teknologi Cegah Penimbunan dan Pemalsuan Vaksin Covid-19" yang tayang 2 Desember 2020.

Berikut isi artikelnya:

"TEMPO.CO, Bandung - Bio Farma bekerja sama dengan PT Telkom mengembangkan infrastruktur digital layanan vaksinasi Covid-19. Salah satunya dengan penggunaan teknologi track and trace berupa 2D barcode pada kemasan vaksin Covid-19 yang dilakukan saat proses pengemasan produk vaksin.

Aplikasi teknologi tersebut untuk memastikan produk vaksin yang digunakan asli, sekaligus mengendalikan stoknya. Selain juga menampilkan informasi detail tanggal kedaluwarsa, nomor batch, dan nomor serial produk ketika barcode dipindai bagi pengguna.

“Pemasangan teknologi track and trace, dalam bentuk barcode yang dapat dipindai, dipasang pada kemasan primer (vial), sekunder (dus kemasan) maupun tersier hingga truk pengantar," kata Direktur Digital Health Care Bio Fama, Soleh Udin Al Ayubi,yang akrab dengan sapaan Ayub, dikutip dari rilis, Rabu 2 Desember 2020.

Ayub mengatakan, infrastruktur digital tersebut juga dikembangkan untuk mengawasi vaksin saat proses distribusi. Salah satunya dengan menyematkan Freeze Tag, untuk memastikan suhu vaksin tetap berada antara 2-8 derajat Celsius saat proses pengiriman berlangsung.

Vaksin Covid-19, misalnya, akan didistribusikan ke Dinas Kesehatan provinsi atau distributor penyalur vaksin. Distribusi ini mensyaratkan pemenuhan Good Ditribution Practise (GDP) dengan memperhatikan sistem rantai dingin atau cold chain system. Salah satunya dengan memastikan suhu vaksin tetap berada di antara 2-8 derajat Celcius, agar kualitas vaksin tetap terjaga.

Infrastruktur digital tersebut juga memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS). Bersama dengan Freeze Tag, keduanya sekaligus digunakan untuk memindai posisi pengantaran vaksin, dan memantau suhu vaksin selama perjalanan berlangsung secara real-time dari command center yang berada di Bio Farma.

Konsumen juga bisa memanfaatkan infrastruktur digital tersebut untuk melakukan pre-order layanan vaksinasi Covid-19 via aplikasi, website, atau datang langsung ke klinik-klinik yang sudah ditentukan melayani program vaksinasi Covid-19 secara mandiri. Layanan pre-order memastikan tidak ada penimbunan vaksin Covid-19 da dengan cara yang sama Bio Farma bisa mengetahui permintaan vaksin sebenarnya di satu wilayah.

“Sebagai contoh, suatu klinik atau tempat pelayanan vaksinasi, akan dikirimkan sesuai dengan permintaan yang terdata dari sistem yang diajukan oleh masyarakat melalui pemesanan pre-order,” kata Ayub.

Infrastruktur digital tersebut sekaligus menjadi solusi digital untuk memudahkan proses pelaporan yang terintegrasi dengan sistem lain. Misalnya, seseorang yang sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19 akan mendapat sertifikat digital yang bisa digunakan saat untuk bepergian menggunakan kereta atau pesawat.

Bio Farma tengah mengembangkan infrastruktur digital tersebut bersama PT Telkom. Keduanya berperan sebagai agregator, dengan mengintegrasikan data yang diperoleh dari berbagai Kementerian dan Lembaga. Diantaranya Dukcapil, Kemenkes, Kominfo, BPJS, serta TNI/Polri untuk mengembangkan sistem perencanaan distribusi vaksin, layanan vaksinasi, validitas calon penerima vaksin, hingga monitoringnya.

Sistem juga akan terintegrasi dengan Holding BUMN Farmasi lainnya, diantaranya Kimia Farma dan Indofarma yang memiliki rumah sakit, klinik, serta unit pelayanan kesehatan lainnya."

3 dari 5 halaman

Kesimpulan

Postingan yang menyebut vaksin covid-19 akan dipasang di tubuh manusia adalah tidak benar. Faktanya barcode itu akan dipasang di botol atau kemasannya.

4 dari 5 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini