Sukses

Simak 6 Informasi Hoaks Seputar Bencana dan Fenomena Alam

Liputan6.com, Jakarta- Informasi seputar bencana dan fenomena alam kerap muncul di tengah masyarakat. Namun, di tengah kebutuhan atas informasi seputar bencana, terdapat oknum yang menyebar informasi palsu.

Keberadaan informasi palsu seputar bencana dan fenomena alam tentunya akan meresahkan masyarakat, menimbulkan kekhawatiran bahkan menciptakan kepanikan.

Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi seputar bencana dan fenomena alam, dengan hasil penelusuran informasi tersebut palsu alias hoaks.

Berikut informasi seputar bencana dan fenomena alam dengan hasil penelusuran hoaks:

1. Tanah Longsor di Sumatera Utara pada 21 November 2020

Informasi tentang bencana alam beredar di Facebook berupa unggahan foto.

 

 Hoaks tanah longsor. (Facebook)

Disebutkan telah terjadi tanah longsor di Provinsi Sumatera Utara, pada Sabtu (21/11/2020). 

Unggahan foto tersebut diberi narasi sebagai berikut:

"Y Allah semoga jln kekampungku ini

Segera diperbaiki,jln sidikalang longsor"

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim yang menyebut telah terjadi tanah longsor di Medan adalah hoaks karena informasi itu mengada-ada. Faktanya, foto yang beredar di media sosial merupakan kejadian di tahun 2019 bukan 2020.

 

2. Daerah Berbahaya Gunung Merapi Diperluas Menjadi 10 KM

 Gunung Merapi masih mengalami aktivitas kegempaan yang tinggi. Bahkan, ada unggahan yang mengklaim kalau daerah bahaya Gunung Merapi diperluas menjadi 10 kilometer.

Unggahan tersebut berupa foto peta yang diberi keterangan sebagai berikut:

 

 Hoaks daerah berbahaya Gunung Merapi. (Facebook)

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, Klaim yang menyebut daerah berbahaya di Gunung Merapi diperluas menjadi 10 kilometer adalah hoaks karena tidak ada bukti yang mengatakan hal tersebut.

 

3. Gelombang Panas Melanda Indonesia

Beredar informasi yang menyebut Indonesia bakal dilanda gelombang panas. Disebutkan beberapa netizen suhu panas di Indonesia bisa mencapai 40 hingga 50 derajat celcius.

Begini narasi yang mereka buat untuk klaim cuaca panas di Indonesia:

"Buat saudara ku yang baik

Siapkan diri menghadapi

Gelombang Panas

Banyak Minum yaaa

Hindari minum ES

Minum seteguk demi seteguk jangan langsung

Bisa sampai 40-50 derajat.

Silahkan kondisikan tubuh.

AWAS..!!!!!*

GELOMBANG PANAS KINI MELANDA NEGARA KITA".

Selain di Facebook, klaim ini juga beredar di WhatsApp Group.

Lalu benarkah informasi tersebut?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, informasi soal gelombang panas ekstrem yang akan melanda Indonesia adalah hoaks. BMKG telah membantahnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Informasi Palsu Seputar Bencana dan Fenomena Alam Berikutnya

4. Video Ini Bukan Menggambarkan Banjir di Bandara Internasional India

Di media sosial, Facebook, beredar sebuah video yang menggambarkan Bandara Interasional Rajiv Gandhi di India mengalami banjir akibat hujan lebat yang turun sepanjang bulan Oktober 2020.

Adalah pemilik akun Facebook atas nama Gulbarga ka culture yang mengunggah video Bandara Interasional Rajiv Gandhi di India mengalami banjir. Dia pun memberikan narasi seperti ini:

"Ini adalah bandara internasional Hyderabad atau Rajiv Gandhi."

Lalu benarkah video itu menggambarkan Bandara Interasional Rajiv Gandhi di India mengalami banjir?

Informasi yang menyebut video Bandara Interasional Rajiv Gandhi di India mengalami banjir adalah salah. Faktanya, video tersebut merupakan musibah banjir di Bandara Internasional Meksiko City pada 31 Agustus 2017.

 

5. Rekaman Suara Prediksi Gempa di Banten

Sebuah rekaman suara berisi pernyataan seseorang yang memprediksi gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau dalam waktu dekat beredar di media sosial. Rekaman ini beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp pada 29 September 2020.

Dalam rekaman itu, seorang pria yang mengaku bernama Andre memprediksi akan ada gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau. Ia mengaku informasi itu didapat dari Sekda Provinsi Banten dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Saudaraku ini Andre, saya baru dapat kabar dari Sekda Provinsi, beliau dapat data resmi dari BMKG yang memperkirakaan kalau Gunung Krakatau akan ada letusan yang mengakibatkan gempa dalam waktu dekat. Belum tahu apakah hari ini atau dalam beberapa hari ke depan. Besarnya gempa itu di atas 8 skala richter," ucap seseorang dalam rekaman tersebut.

Si pria tersebut kemudian meminta informasi soal potensi gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau ditindaklanjuti.

"Artinya keluarga-keluarga kita yang ada di sekitaran pantai mohon diingatkan. Karena sekarang ini Sekda sudah memerintahkan instansi terkait, Badan Penanggulangan Bencana untuk menentunkan titik koordinat untuk penyelamatan jadi tolong disampaikan ke keluarga," lanjut dia.

Benarkah rekaman suara tersebut berisi informasi valid soal gempa? 

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6,com, rekaman suara berisi pernyataan seseorang yang memprediksi gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau beredar di media sosial ternyata tidak benar alias hoaks.

Kepala Dinas Kominfo Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati menyebut rekaman itu pernah beredar usai terjadi tsunami Selat Sunda pada akhir 2018 lalu.

 

6. Video Peristiwa Banjir Bandang Cicurug Sukabumi

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri video yang diklaim sebagai banjir bandang Cicurug Sukabumi

Cek fakta Liputan6.com mendapati video yang mengklaim sebagai peristiwa banjir bandang Cicurug Sukabumi.

Video yang diklaim sebagai banjir bandang Cicurug Sukabumi tersebut beredar di aplikasi percakapan WhatsApp.

Video menampilkan luapan air sungai ke daratan, air tersebut terlihat menyapu semua benda yang ada di daratan, seperti bangunan dan kendaraan.

Dalam video yang diambil dari ketinggian tersebut terdengar suara sejumlah orang yang berteriak.

Benarkah video yang mengklaim sebagai peristiwa banjir bandang Cicurug Sukabumi? 

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim video peristiwa banjir bandang Cicurug Sukabumi tidak benar.

Video tersebut telah beredar di YouTube sebelum kejadian banjir bandang Cicurug Sukabumi,  pada Senin 21 September 2020.

Video tersebut adalah peristiwa tsunami yang melanda Jepang, pada 2011. 

3 dari 3 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam  cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.