Sukses

Cek Fakta: Benarkah Kasus Kematian Covid-19 di Uganda Rendah karena Hydroxychloroquine?

Liputan6.com, Jakarta - Cek Fakta Liputan6.com menemukan klaim yang menyebut kasus kematian virus corona covid-19 di Uganda sangat rendah. Kasus di Uganda rendah karena obat Hydroxychloroquine.

Adalah pemilik akun Facebook atas nama Mitja Ostrbenk yang membagikan postingan kalau Hydroxychloroquine merupakan obat untuk menekan angka kematian kasus virus corona covid-19 di Uganda.

Dia membagikan artikel dari situs palmerfoundation, yang mengklaim isu ini. Begini narasi dari tangkapan layar yang diunggah Mitja Ostrbenk:

"Hydroxychloroquine adalah alasan mengapa Uganda, dengan populasi 43 juta, hanya memiliki 15 kematian karena COVID-19."

Mitja Ostrbenk mengunggah hal tersebut pada 2 Oktober 2020.

Lalu, benarkah angka kematian akibat virus corona covid-19 di Uganda rendah karena Hydroxychloroquine?

 

2 dari 4 halaman

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim tersebut menggunakan mesin pencari, Google, dengan kata kunci: "Hydroxychloroquine Uganda Covid-19". Hasil penelusuran mengarahkan ke artikel berjudul: "Uganda’s Low COVID-19 Cases Due to Restrictions, Not Hydroxychloroquine" yang dipublikasikan FactCheck.org pada 12 Oktober 2020.

Dalam artikelnya, FactCheck.org menyebut kasus covid-19 di Uganda yang disebutkan oleh situs palmerfoundation sudah tidak diperbarui lagi. Saat ini, kasus covid-19 di Uganda sudah lebih dari 9.800 kasus, 90 di antaranya berakhir dengan kematian.

Artikel tersebut juga mengambil penjelasan dari Dr. William Worodria, seorang dokter konsultan di Kementerian Kesehatan Uganda sekaligus komite manajemen covid-19. Dia mengakui, di awal terjadinya kasus covid-19, Uganda menggunakan Hydroxychloroquine, karena menganggap virus ini seperti malaria.

"Dalam pedoman di Uganda, kami memasukkan penggunaan Hydroxychloroquine dalam pengobatan. Namun, setelah melihat bukti tidak ada perbedaan antara pasien covid-19 menggunakan Hydroxychloroquine dan yang tidak, kami menghapusnya dari pedoman penanganan covid-19," katanya.

Dr. William Worodria pun memastikan penggunaan Chloroquine atau Hydroxychloroquine tidak lagi direkomendasikan untuk pengobatan pasien covid-19 di Uganda.

Disebutkan juga dalam FactCheck.org, angka kematian di Uganda akibat covid-19 sangat rendah bukan karena Hydroxychloroquine. Dilaporkan, pada Maret 2020, ketika pandemi covid-19 baru terjadi, pemerintah Uganda langsung menerapkan lockdown atau penguncian wilayah di seluruh negeri.

Hasil penelusuran juga mengarahkan ke situs CGTN Afrika dengan artikel berjudul: "Uganda records 146 new COVID-19 cases, two new deaths". Disebutkan dalam artikel tersebut, kasus kematian virus corona covid-19 di Uganda pada 2 Oktober 2020 sudah 81. Padahal di hari itu, palmerfoundation menyebut angka kematian di Uganda hanya 15.

 

3 dari 4 halaman

Kesimpulan

Informasi yang menyebut kasus kematian di Uganda akibat covid-19 sangat rendah karena Hydroxychloroquine adalah salah. Faktanya, pada Maret 2020, ketika pandemi covid-19 baru terjadi, pemerintah Uganda langsung menerapkan lockdown atau penguncian wilayah di seluruh negeri.

Tim covid-19 Uganda juga sudah melarang penggunaan Hydroxychloroquine untuk menangani pasien yang terjangkit covid-19.

4 dari 4 halaman

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.