Jaga Regenerasi, Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2026 Diikuti 220 Lifter

220 lifter ikut Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2026 yang mulai menerapkan aturan Minimal Angkatan Pertama (MAP).

OlehThomas
Diterbitkan 22 Juli 2026, 15:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi Remaja dan Junior Pupuk Indonesia 2026 resmi bergulir di Hotel Khas Semarang, Jawa Tengah, pada 22-24 Juli 2026. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) menerapkan aturan Minimal Angkatan Pertama (MAP) sebagai syarat bagi atlet yang akan tampil di setiap kelas pertandingan.

Penerapan MAP diyakini akan meningkatkan kualitas persaingan sekaligus memastikan hanya atlet-atlet terbaik dari masing-masing daerah yang berlaga pada kejuaraan nasional tahun ini.

Kejurnas diikuti total 297 peserta, yang terdiri atas 220 lifter remaja dan yunior serta 77 ofisial dari 23 provinsi. Rinciannya, sebanyak 105 lifter remaja putra-putri dan 115 lifter yunior putra-putri.

Kejuaraan dibuka secara resmi oleh SVP Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pupuk Indonesia, Frans Adisuranta Ginting.

"Kami harapkan melalui angkat besi ini, kami bisa melakukan pemberdayaan masyarakat dan kami mendukung PABSI agar lebih banyak lagi melahirkan atlet berprestasi," ujar Frans saat pembukaan Kejurnas, Selasa (22/7/2026).

Selain menerapkan MAP, PB PABSI juga memberikan penghargaan bagi lifter terbaik putra dan putri di kategori remaja maupun junior sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi bagi atlet yang mampu mencatatkan prestasi terbaik.

Seleksi Atlet Semakin Ketat

Sekretaris Jenderal PB PABSI, Djoko Pramono, mengatakan aturan MAP diberlakukan agar persaingan di Kejurnas berlangsung lebih kompetitif. Dengan regulasi tersebut, setiap daerah didorong untuk mengirimkan lifter terbaik yang telah memenuhi standar kemampuan sesuai perubahan kelas yang ditetapkan Federasi Angkat Besi Dunia (IWF).

"Diharapkan dari kejurnas ini akan muncul lifter-lifter muda potensial yang kelak bisa dipanggil ke Pelatnas. Sekaligus, sebagai ajang monitoring sejauh mana perkembangan pembinaan para lifter remaja dan yunior di daerah-daerah saat ini. Jadi, mereka tidak asal mengirimkan sembarang lifter saja yang penting tampil di kejurnas," kata Djoko.

Menurutnya, penerapan MAP juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembinaan atlet usia muda sehingga regenerasi lifter nasional dapat berjalan lebih terarah.

Standar MAP Disesuaikan Tiap Kelas

PB PABSI menetapkan standar MAP yang berbeda pada setiap kelas pertandingan, baik di kategori remaja maupun junior.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pada kelompok remaja putra, misalnya, kelas 56 kg mewajibkan angkatan minimal 55 kg untuk snatch dan 70 kg clean and jerk, sedangkan kelas tertinggi (+70 kg) menetapkan minimal 85 kg snatch dan 105 kg clean and jerk. Sementara di kelompok remaja putri, standar MAP dimulai dari kelas 45 kg dengan angkatan minimal 30 kg snatch dan 40 kg clean and jerk, hingga kelas +57 kg yang mewajibkan minimal 50 kg snatch dan 60 kg clean and jerk. Adapun pada kategori junior, standar MAP juga mengalami peningkatan. Untuk putra, kelas 60 kg dimulai dari 75 kg snatch dan 95 kg clean and jerk, sedangkan kelas +75 kg mencapai minimal 95 kg snatch dan 115 kg clean and jerk. Di sektor junior putri, MAP dimulai dari kelas 49 kg dengan angkatan minimal 45 kg snatch dan 55 kg clean and jerk, hingga kelas +61 kg yang mensyaratkan minimal 70 kg snatch dan 90 kg clean and jerk. Dengan penerapan regulasi baru tersebut, PB PABSI berharap Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior Pupuk Indonesia 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan pembinaan atlet muda di daerah sekaligus wadah menjaring calon-calon lifter masa depan Indonesia menuju pemusatan latihan nasional.

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan