Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 menjadi edisi perdana dengan jumlah kontestan hingga 48 tim, dari sebelumnya hanya 32 tim. Penambahan jumlah peserta ini masih menuai pro dan kontra, meski pelaksananaannya tinggal hitungan jam.
Penambahan kontestan menjadi 48 negara untuk Piala Dunia 2026 telah ditetapkan FIFA sejak lama. Tepatnya sekitar 2016-2017 dan menjadi perluasan dan perubahan format pertama sejak 1998.Â
Format turnamen pun mengalami perubahan. Fase penyisihan Piala Dunia 2026 terdiri dari 12 grup dengan masing-masing grup berisikan empat tim. Dua tim teratas di setiap grup dan delapan tim peringkat ketiga terbaik melaju ke babak 32 besar.Â
Advertisement
Bertambahnya jumlah kontestan otomatis menambah jumlah pertandingan. Total ada 104 laga akan dimainkan, lebih banyak dari sebelumnya hanya 64 pertandingan. Selain itu, tim yang mencapai babak semifinal akan meningkat dari tujuh menjadi delapan laga.Â
Waktu penyelenggaraan juga lebih panjang. Piala Dunia 2026 akan berlangsung selama 39 hari, meningkat dari 32 hari pada edisi 2014 dan 2018.
Perubahan ini menuai pro dan kontra. Muncul anggapan Piala Dunia 2026 akan terasa kurang bergengsi karena terlalu banyak tim yang ikut serta. Tapi penambahan ini memperbesar persentase dan peluang negara-negara yang selama ini sulit lolos.
"Piala Dunia 2026 ini memberikan kesempatan kepada negara-negara lain, negara-negara kecil yang tidak punya kesempatan untuk ikut Piala Dunia sekarang terbuka dengan 48 tim," kata Ronny Pangemanan, pengamat sepak bola kepada Liputan6.com, Kamis (11/6).
Slot Bertambah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5244341/original/060020400_1749177933-000_49DW34G.jpg)
Pria yang akrab disapa Bung Ropan itu mencontohkan benua Asia, yang pada kali ini punya sembilan wakil di Piala Dunia 2026. Termasuk Yordania dan Uzbeksitan, yang berstatus sebagai debutan. Padahal pada edisi-edisi sebelumnya, Asia umumnya hanya mengirimpat 4-6 wakil ke Piala Dunia.
Situasi semacam ini juga terjadi pada benua lain. Termasuk Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), di mana mereka kini juga punya tim debutan seperti Curacao dan Tanjung Verde. Lalu dari Afrika, Republik Demokratik (RD) Kongo dan Haiti akhirnya tampil di Piala Dunia lagi setelah 52 tahun.
"Ini yang diinginkan oleh FIFA, memberikan kesempatan kepada negara-negara yang mungkin kalau tidak dinaikin, mereka sampai kapan pun tidak akan lolos. Misalnya sekarang kita nggak tahu, misalnya Curaçao, kan bisa lolos," ujarnya.
Dia menambahkan, "Uzbekistan sekarang, Yordania, ya Tanjung Verde. Itu kan orang nggak tahu Tanjung Verde gimana nih,. Jadi semua ini ditambah semua untuk bisa diisi benua lain."Â
"Memang kelihatan lebih sesak dengan 48 tim ini. Ya banyak anggapan lebih bagus, Piala Dunia misalnya 16 atau 24 tim, karena itu bisa terukur, tersaring dengan baik. Jadi yang ikut itu tim-tim yang memang punya kualitas bagus," ucap Bung Ropan menambahkan.
Advertisement
Kualitas Pertandingan Menurun?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173170/original/034296800_1742817773-Vinicius_Jr.jpg)
Lantas apakah penambahan peserta menjadi 48 tim akan menurunkan kualitas pertandingan Piala Dunia? Bung Ropan tidak berpendapat demikian. Dia menilai aspek kompetitif pentas bola dunia empat tahunan ini akan tetap terjaga.
Pasalnya, ke-48 tim nantinya akan bersaing untuk lolos ke fase berikutnya. Mereka berjuang agar bisa melewati fase grup yang hanya diambil 32 tim untuk fase gugur.
"Saya pikir kualitas pertandingan tetap akan terjaga, bahkan tetap terlihat. Seperti nanti ini, Maroko sudah ketemu Brazil satu grup. Jadi, memang syarat dengan ini harus bisa lolos, ya, karena setelah 48 tim itu akan ada 32 tim. Jadi ya itu, memberikan kesempatan juga kepada tim-tim lain yang tidak pernah merasakan tuh lolos ke fase gugur, itu kali ini terbuka, ya," terang Ropan.
Ropan mencontohkan Iran, misalnya, yang sedang berkonflik dengan Amerika Serikat. "Bukan tidak mungkin Iran lolos gitu karena dia di pertandingan pembukaan dengan Selandia Baru. Saya rasa Iran bisa menang. Yang paling kuat di grup dia kan, di Grup G itu, Belgia. Baru nanti terakhir baru dia dengan Mesir. Jadi, dia bisa kemungkinan untuk lolos ke babak 32 besar," ujar dia.
Pembantaian Tak Terhindarkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482260/original/008149300_1769169646-Curacao-Kelme.jpg)
Di sisi lain, Bung Ropan juga tak menutup mata bila skor telak alias pembantaian terjadi dalam fase grup Piala Dunia 2026. Terutama pada pertandingan-pertandingan yang mempertemukan tim favorit dengan negara yang masuk dalam pot terendah atau ranking besar seperti Brasil kontra Haiti dan Jerman melawan Curacao.Â
"Ada, sangat, sangat berpotensi, sangat berpotensi. Karena tim-tim yang seperti, maaf, Haiti misalnya, satu grup dengan Brasil. Bukan tidak mungkin Haiti ini jadi bulan-bulanan di atas 5 gol. Jadi memang hujan gol, pesta gol akan terjadi. Jerman melawan Curaçao juga, bukan tidak mungkin Jerman akan bikin 5-6 gol. Itu pasti akan terjadi di dalam sini," jelasnya.
Tapi, kata Ropan, itu bagian dari risiko. Tim negara yang menelan kekalahan telak pun menurutnya jadi mendapatkan pelajaran berharga dan berbenah lagi untuk ke depannya. Namun dia juga mengingatkan bahwa potensi kejutan dari tim non unggulan bukan sesuatu yang tak mungkin terjadi di edisi kali ini.
"Kalau soal potensi gol banyak ya resiko, karena berhadapan dengan tim-tim kuat. Tetap harus dirasakan (kekalahan telak), kalau bagi tim-tim yang walaupun mereka kalah dengan banyak, mereka kan punya pengalaman bahwa mereka sudah pernah ketemu dengan tim ini, tim kuat," ucapnya.
"Tapi kalau mau melihat dari pertandingan-pertandingan uji coba, saya pikir ini hati-hati tim-tim kuat. Misalnya, Algeria bisa mengalahkan Belanda (1-0), Irak menahan Spanyol (1-1). Jadi banyak, banyak kejutan-kejutan. Itu yang terjadi di dalam pertandingan-pertandingan nantinya gitu. Jadi, bukan tidak mungkin juga di Piala Dunia ini ada kejutan-kejutan yang akan diberikan oleh tim-tim yang underdog, gitu," jelas Ropan menambahkan.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7261845/original/041809000_1780048281-Tugas__22_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5300825/original/063294400_1753929347-20250721_132106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256939/original/031845200_1781177432-WhatsApp_Image_2026-06-11_at_6.03.46_PM.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308673/original/064337100_1754551857-THOMAS_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5482291/original/069866400_1769170838-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221927/original/048236500_1747377679-75th-FIFA-Congress.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4007081/original/085437700_1650961647-20220426-PPATK-Ivan-Yustiavandana-10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289006/original/057664800_1783383743-balogun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473583/original/010189000_1687242103-Emi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556676/original/076947400_1776291207-000_A7XX4PU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8476989/original/007377700_1782387801-000_B88X9RV.jpg)