Momen Unik Piala Dunia: Tarian Roger Milla di Atas Penderitaan Diego Maradona

Mari kenang momen tak terduga di Piala Dunia 1990 saat Kamerun secara mengejutkan menumbangkan juara bertahan Argentina yang diperkuat Diego Maradona.

Diterbitkan 28 April 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Detail Pertandingan dan Drama di Lapangan

Gol kemenangan Kamerun dicetak oleh François Omam-Biyik melalui sundulan pada menit ke-67. Gol ini tercipta setelah ia menerima umpan dari Cyrille Makanaky. Omam-Biyik melompat sangat tinggi, sementara penjaganya, Nestor Sensini, ragu-ragu. Bola sundulannya meluncur rendah ke arah gawang, dan kiper Argentina Nery Pumpido, juara Piala Dunia 1986, secara tidak terduga gagal mengamankan bola sehingga masuk ke gawangnya sendiri.

Pertandingan ini juga diwarnai dengan drama kartu merah. Kamerun harus bermain dengan sembilan pemain setelah André Kana-Biyik dan Benjamin Massing diusir wasit. Kartu merah pertama diberikan kepada André Kana-Biyik karena pelanggaran terhadap Claudio Caniggia. Kartu merah kedua diberikan kepada Benjamin Massing karena tekel kerasnya terhadap Caniggia, yang membuatnya kehilangan sepatunya dan pantas mendapatkan kartu merah.

Meskipun demikian, Diego Maradona mengakui keunggulan Kamerun. "Saya tidak bisa membantah, dan saya tidak bisa membuat alasan. Jika Kamerun menang, itu karena mereka adalah tim terbaik," kata Maradona.

Kiper Argentina, Nery Pumpido, yang melakukan blunder gol, kemudian mengalami cedera di pertandingan berikutnya, mengakhiri karier internasionalnya. Penggantinya, Sergio Goycochea, tampil cemerlang di sisa turnamen.

Kisah di Balik Tim Kamerun yang Tak Terduga

Di balik kemenangan mengejutkan ini, terdapat kisah unik mengenai persiapan Kamerun. Pelatih mereka adalah Valeri Nepomniachi, seorang mantan pemain yang minim pengalaman melatih tim utama dan tidak menguasai bahasa Prancis maupun Inggris. Instruksi timnya di Piala Dunia diterjemahkan oleh seorang sopir kedutaan Kamerun di Moskow, dan seringkali diabaikan oleh para pemain.

Presiden Kamerun, Paul Biya, juga memainkan peran penting dengan secara pribadi meminta Roger Milla, yang saat itu berusia 38 tahun dan telah pensiun dari sepak bola internasional, untuk kembali bermain di Piala Dunia. Milla, yang bermain di klub Saint-Pierroise di Réunion, menyatakan kesiapannya untuk kembali membela negaranya.

Persiapan tim Kamerun juga diwarnai kekacauan internal, termasuk pertengkaran mengenai kedatangan Milla dan keterlambatan pembayaran bonus pemain. Kiper Joseph-Antoine Bell bahkan mengkritik rekan satu timnya sebelum turnamen, menyatakan bahwa mereka "tidak punya peluang menghadapi Argentina, atau tim lain mana pun."

Akibatnya, Thomas N'Kono secara mendadak menjadi kiper utama hanya beberapa jam sebelum pertandingan pembuka. Penampilan spektakulernya kemudian menginspirasi Gianluigi Buffon muda untuk menjadi kiper.

Perjalanan Kamerun di Italia 1990

Setelah kemenangan sensasional atas Argentina, Kamerun melanjutkan perjalanannya di Piala Dunia 1990 dengan performa yang mengesankan. Roger Milla, yang masuk sebagai pemain pengganti di pertandingan pertama, menjadi sensasi turnamen. Ia mencetak dua gol melawan Rumania dan dua gol lagi melawan Kolombia di babak kedua. Milla menjadi salah satu bintang paling menonjol di turnamen tersebut, dengan selebrasi golnya yang ikonik di dekat tiang bendera sudut.

Perjalanan Kamerun akhirnya terhenti di perempat final setelah dikalahkan Inggris dengan skor 3-2. Inggris berhasil bangkit setelah sempat tertinggal dari Kamerun. Roger Milla pernah berujar bahwa Tuhan menghentikan mereka di perempat final untuk mencegah "ledakan" di Afrika jika mengalahkan Inggris.

Milla sendiri kembali bermain di Piala Dunia 1994 dan memecahkan rekornya sendiri sebagai pencetak gol tertua di Piala Dunia pada usia 42 tahun 39 hari. Sekembalinya dari Italia, tim Kamerun disambut meriah, bahkan pemerintah mengumumkan hari libur nasional. Parade kemenangan mereka berlangsung selama dua hari penuh, dengan Presiden Biya memberikan penghargaan kepada para pemain, pelatih, staf pendukung, dan bahkan jurnalis.

Warisan Kejutan Kamerun

Kisah Kamerun di Piala Dunia 1990 menjadi warisan berharga yang terus menginspirasi. Dua belas tahun kemudian, pada Piala Dunia 2002, juara bertahan Prancis juga dikalahkan 1-0 oleh tim Afrika yang tidak diunggulkan, Senegal, di pertandingan pembuka. Momen ini mengingatkan pada kejutan yang diciptakan Kamerun.

Namun, Roger Milla mencatat perbedaan signifikan antara kedua kejutan tersebut. Pada tahun 1990, sebagian besar pemain Kamerun bermain di klub domestik, dan tidak ada pemain outfield yang berbasis di tim papan atas Eropa. Berbeda dengan Senegal pada tahun 2002, di mana sebagian besar penggawanya berbasis Eropa dan banyak yang merumput di kasta Prancis.

"Tidak ada tim yang bisa melakukan apa yang kami lakukan pada tahun 1990 lagi. Elemen kejutan tidak ada lagi. Semua orang tahu segalanya tentang semua tim sekarang," kata Milla.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan