Momen Unik Piala Dunia: Kemenangan Politik Timnas Italia di Kepemimpinan Fasisme

Simak kisah unik kemenangan Italia di Piala Dunia 1938 yang sarat politik fasisme.

Diterbitkan 10 April 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Protes Anti-Fasis dan Atmosfer Politik di Prancis

Piala Dunia 1938 diselenggarakan di tengah ketegangan politik global yang meningkat, terutama di Prancis. Hubungan antara Prancis dan Italia memburuk drastis akibat pernyataan anti-Prancis dan pro-Franco yang dilontarkan Mussolini pada Mei 1938. Sentimen anti-fasis di Prancis sangat kuat, dan banyak yang tidak menyukai rezim fasis Italia yang semakin otoriter.

Pembunuhan Carlo Rosselli, seorang intelektual anti-fasis Italia yang diasingkan di Prancis, pada Juni 1937, semakin memperkeruh suasana. Rosselli, bersama saudaranya Nello, dibunuh di Normandy oleh kelompok sayap kanan ekstrem Prancis, Cagoule. Peristiwa ini menambah daftar panjang alasan bagi warga Prancis dan Italia yang diasingkan untuk menentang rezim Mussolini.

Ketika tim Italia tiba di Marseille, mereka disambut oleh sekitar 3.000 demonstran anti-fasis Prancis dan Italia. Meskipun pers Italia berusaha melaporkan penerimaan yang sopan, kenyataannya adalah kehadiran tim Italia, sebagai representasi langsung dari rezim fasis, menjadi sasaran utama protes. Fasisme telah mempolitisasi sepak bola, dan tim Italia menuai konsekuensinya.

Simbolisme Seragam Hitam dan Kontroversi

Salah satu momen paling provokatif terjadi pada pertandingan perempat final melawan Prancis. Karena kedua negara biasanya bermain dengan seragam biru, undian menentukan siapa yang harus berganti warna. Italia kalah dalam undian, dan alih-alih mengenakan seragam kedua tradisional berwarna putih, tim diperintahkan untuk bermain dengan seragam serba hitam.

Seragam hitam ini, yang dikenal sebagai “maglia nera”, bukan sekadar pilihan warna. Seragam tersebut menampilkan Fascio Littorio, simbol fasisme, di dada kiri. Ini adalah representasi langsung dari rezim dan merupakan pesan provokatif yang jelas ditujukan kepada para demonstran anti-fasis.

Pelatih Vittorio Pozzo menggambarkan momen krusial saat para pemainnya memberikan hormat fasis sebelum pertandingan pertama melawan Norwegia. Tindakan ini disambut dengan cemoohan dan hinaan yang memekakkan telinga dari penonton. Pozzo, dengan tegas, memerintahkan para pemain untuk mengulangi hormat fasis tersebut, menegaskan bahwa mereka tidak takut. Ia menginterpretasikannya sebagai kemenangan dalam “pertempuran intimidasi”.

Mitos "Menang atau Mati" dan Realitasnya

Sebuah legenda urban yang terkenal berkembang seputar Piala Dunia 1938, mengisahkan telegram yang konon dikirim oleh Mussolini kepada tim sebelum final. Instruksi dalam telegram tersebut sangat sederhana dan menakutkan: “Menang atau Mati”. Mitos ini menggambarkan betapa ekstremnya tekanan yang diduga diberikan oleh rezim fasis terhadap tim nasional.

Namun, Piero Rava, satu-satunya anggota tim yang masih hidup pada tahun 2001, secara tegas membantah kebenaran mitos ini. Menurut Rava, Mussolini memang mengirimkan telegram, tetapi isinya hanyalah ucapan selamat dan dukungan. Tidak ada ancaman atau instruksi yang mengancam jiwa seperti yang digambarkan dalam legenda tersebut.

Kisah ini menyoroti bagaimana narasi politik dapat membentuk persepsi publik tentang suatu peristiwa, bahkan bertahun-tahun setelahnya. Meskipun mitos “Menang atau Mati” tidak benar, keberadaannya menunjukkan intensitas politisasi sepak bola pada masa itu. Hal ini juga menjadi pelajaran berharga bagi perhelatan olahraga besar di masa depan, termasuk piala dunia 2026.

Warisan dan Transisi Vittorio Pozzo

Italia berhasil memenangkan final melawan Hungaria dengan skor 4-2, mengamankan gelar Piala Dunia kedua mereka secara berturut-turut. Sebagai penghargaan atas upaya mereka, setiap anggota skuad menerima bonus kemenangan sebesar 8.000 Lire, setara dengan sekitar tiga bulan gaji, serta Medali Emas fasis. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Mussolini dalam resepsi singkat di Palazzo Venezia, Roma.

Meskipun rezim fasis jatuh pada tahun 1943, pelatih Vittorio Pozzo menunjukkan kemampuan transisi yang luar biasa. Ia berhasil beradaptasi dengan mulus dari kediktatoran ke Republik demokratis, tetap menjabat sebagai pelatih Italia hingga tahun 1948. Pozzo juga terus menulis untuk surat kabar La Stampa hingga kematiannya 20 tahun kemudian, menunjukkan dedikasinya yang berkelanjutan pada dunia sepak bola.

Gerakan politik seperti seragam hitam dan hormat Romawi, yang mencerminkan kebangkitan sepak bola Italia di bawah fasisme, dianggap sebagai salah satu momen paling politis dan tidak menyenangkan dalam sejarah Piala Dunia dan FIFA. Momen-momen ini menjadi pengingat penting akan potensi politisasi olahraga, sebuah isu yang tetap relevan dan perlu diwaspadai dalam setiap penyelenggaraan ajang global, termasuk piala dunia 2026 mendatang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan