Capello Menyentil AC Milan: Performa Bagus, tapi Identitas Italia Kian Menipis

Fabio Capello melontarkan kritik tajam ke AC Milan soal minimnya pemain Italia di starting XI, meski Rossoneri tampil kompetitif di Serie A 2025/2026.

Diterbitkan 06 Januari 2026, 23:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - AC Milan menjalani musim 2025/2026 dengan performa yang solid. Rossoneri konsisten bersaing di papan atas Serie A dan jarang tergelincir.

Hingga pekan ke-17, Milan baru sekali menelan kekalahan. Stabilitas permainan dan kedalaman skuad menjadi kunci performa mereka sejauh ini.

Namun, di balik catatan positif tersebut, muncul kritik bernada serius. Sorotan itu datang dari sosok legendaris sepak bola Italia, Fabio Capello.

Capello tidak menyoal hasil. Ia justru mengangkat isu yang lebih mendasar, yakni makin tipisnya kehadiran pemain Italia di tubuh AC Milan.

Minim Pemain Italia, Alarm dari Fabio Capello

Fabio Capello menilai komposisi Milan sebagai masalah struktural. Ia menyoroti fakta bahwa Rossoneri kerap hanya menurunkan satu pemain Italia di starting XI, yakni Davide Bartesaghi.

“Milan hanya punya satu pemain Italia di starting eleven; Juventus hanya punya dua; Inter empat atau lima; Roma dua atau tiga. Ini kuncinya," ucap Capello kepada Marca.

"Kita tidak punya banyak peluang untuk masa depan. Sistem pelatihan telah gagal; terlalu banyak taktik dan terlalu sedikit sepak bola. Inilah masalahnya di Italia," sambungnya.

Secara kuantitas, Milan sebenarnya memiliki pemain lokal. Nama seperti Matteo Gabbia, Samuele Ricci, hingga Lorenzo Torriani ada dalam skuad, tetapi hanya Gabbia yang rutin mendapat menit bermain.

Leao, Pressing, dan Gaya Bermain Milan

Selain isu identitas, Capello juga menyinggung aspek taktik. Ia menilai Milan kekurangan pemain depan yang agresif saat bertahan.

Sorotan itu mengarah pada Rafael Leao. Capello menganggap winger asal Portugal tersebut bukan tipe pemain yang ideal untuk pressing intens.

"Kita berbicara tentang pemain yang, ketika mereka menguasai bola, membahayakan lawan, dan ketika tim tidak menguasainya, mereka harus mundur, tetapi tidak melakukan pressing," ucapnya.

Bagi Capello, ini bukan kritik personal. Ia melihatnya sebagai gambaran filosofi tim yang terlalu bergantung pada kualitas individu, bukan kerja kolektif tanpa bola.

Sumber: Marca

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Jersey Ikonik Pele dari Final Piala Dunia 1958 Terjual Rp72,5 Miliar

Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan