Mengenal Sosok Ellyas Pical, Sang Juara Dunia Tinju Pertama dari Indonesia

Sebelum era Chris John, Indonesia pernah memiliki seorang petinju kelas dunia pada diri Ellyas Pical. Sosok kelahiran Maluku tersebut merupakan aset emas bangsa dengan prestasi segudang.

Diterbitkan 16 September 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sempat Depresi dan Tak Mau Balik ke Ring

Kegagalan kontra Cesar Planco tak membuat Elly mundur. Setahun setelahnya, kedua petinju ini kembali bertemu di Jakarta dan kali ini, Elly tak memberi ampun dan menjatuhkan Cesar Polanco dengan KO. Ia kemudian kembali mengamankan gelarnya dengan membabat habis petinju Korea Selatan, Lee Dong-chun.

Mimpi buruknya justru terjadi pada tahun 1987. Melawan unggulan Thailand, Khaosan Galaxy, Elly dihajar KO pada ronde 14 dan menjatuhkan dirinya ke titik terendah sepanjang karier profesional.

Berbulan-bulan setelahnya, Elly masih enggan kembali ke ring. Pikirannya terus berputar pada pukulan KO yang dilepaskan Khaosai pada dirinya. Hatinya bergelut dan perasaannya berkecamuk. Meski begitu, mimpinya sudah membawanya terlalu jauh. Melangkah maju adalah satu-satunya jalan bagi Elly.

Oktober 1987, Elly kembali ke Senayan. Ia menantang sang juara bertahan IBF kelas bantam yunior dari Korea Selatan, Tae-ill Chang. Setelah pertarungan panjang 15 ronde, Elly dinyatakan menang melalui keputusan angka tidak bulat (split decision). Gelar tersebut bertahan selama 2 tahun sebelum Elly harus mengakui keunggulan petinju Kolombia, Juan Polo Perez dalam laga yang digelar di Virginia, Amerika Serikat.

Legenda yang Terlupakan

Pasca kekalahan di Amerika Serikat, nama Elly perlahan meredup. Ia sempat memainkan sejumlah laga non-gelar, namun tak membuat kariernya kembali seperti pada masa kejayaan. Ia perlahan mengalihkan fokusnya pada kehidupan personal dan menjauh dari mimpinya yang telah rampung.

Fase hingar bingar dan ketenaran dirinya pun tak lagi terlihat. Demi melanjutkan hidup, Elly menggantungkan nasibnya pada hingar bingar yang lain, yaitu menjadi satpam sebuah diskotek.

Derita Elly tak hanya sampai di sana, ia juga pernah dipenjara sebab perdagangan narkoba. Tujuh bulan setelahnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menjadikannya asisten ketua di KONI Pusat setelah hari pembebasan. KONI sempat dikecam masyarakat atas dasar melupakan jasa seorang legenda bangsa.

Ellyas Pical pensiun dengan rekor mengesankan. Ia meninggalkan ring tinju setelah memainkan total 26 pertandingan profesional dengan catatan 20 kemenangan (11 kemenangan melalui KO), 1 hasil imbang, dan 5 kekalahan. Namanya terpatri di puncak tertinggi blantika tinju nasional.

Penerus Ellyas Pical dari Masa ke Masa

Setelah pensiunnya Ellyas Pical, Indonesia tak kekurangan bakat petinju. Kejayaan Elly seakan membuka mata dunia bahwa negaranya tak dapat dianggap remeh. Indonesia total memiliki 5 petinju selain Elly yang sempat memenangkan gelar internasional, dengan 2 orang berhasil juara pada kategori badan besar (WBA, WBC, IBF, WBO).

Dari Merauke, Indonesia memiliki sosok bernama Muhammad Rachman. Ia jadi satu-satunya petinju Indonesia yang meraih juara pada dua kategori badan besar berbeda. Rachman sempat merasakan sabuk juara IBF Minimumweight pada periode 2004-2007. Kemudian, pada 2011-2012, Rachman juga berhasil mengamankan sabuk WBA Minimumweight.

Indonesia juga sempat dibuat bangga oleh sosok fenomenal asal Banjarnegara, Chris John. Bersaing pada kelas WBA Featherweight, ia berhasil menjadi juara dunia terlama dari Indonesia, yaitu sepanjang 10 tahun. Rekornya juga sangat fantastis, Chris John berhasil mempertahankan gelarnya sebanyak 18 kali. Ia dikenal dunia sebagai The Dragon.

Masih ada nama-nama seperti Daud Yordan dan Tibo Monabesa yang juga sempat merasakan gelar internasional. Selain itu, pada kategori wanita, terdapat nama Irma Arifin yang meledak pada era 2000an awal dengan gelar juara dunia WIBF Flyweight. Mereka adalah para petarung bangsa yang siap terluka demi kebanggan dan sebuah sabuk juara.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Deniz Akbar, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan