Memahami Alasan Manchester United: Kenapa Pilih Sesko dan Bukan Watkins?

Manchester United incar Benjamin Sesko dari RB Leipzig. Striker muda ini dinilai cocok untuk skema Ruben Amorim, tapi risikonya tidak kecil.

Diperbarui 31 Juli 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tendangannya sering terlalu keras hingga mudah diblok bek lawan atau terbaca kiper. Ia pun kadang terlalu fokus menembak ketimbang melihat rekan yang berada di posisi lebih baik.

Meski demikian, perkembangan Sesko patut diapresiasi. Ia kini lebih sering turun membantu build-up, walau belum sematang pemain seperti Harry Kane atau Alexander Isak.

Yang menarik, ketika diberi ruang dan waktu terbatas, justru keputusan Sesko sering lebih baik, indikasi bahwa ia masih butuh penyederhanaan peran di fase awal kariernya di klub besar.

Ollie Watkins: Alternatif yang Lebih Matang Tapi Mahal

Selain Sesko, nama Ollie Watkins juga sempat menjadi bahan diskusi internal Manchester United. Striker Aston Villa ini tampil konsisten dengan 16 gol di Premier League musim lalu.

Watkins dikenal sebagai striker yang tahu persis kapan harus menusuk ke belakang garis pertahanan, kemampuan yang sangat berharga di liga secepat EPL.

Namun, ada dua masalah utama: usia dan harga. Watkins akan berusia 30 tahun pada akhir tahun ini, sementara Villa mematok harga tinggi hingga £60 juta.

Bagi United, investasi semahal itu untuk pemain di usia puncak dirasa terlalu berisiko, apalagi dengan skema Amorim yang menuntut intensitas tinggi dan adaptasi jangka panjang.

Dari sisi taktis, Watkins memang bisa membuka ruang bagi pemain seperti Cunha, Fernandes, atau Mbeumo. Tapi struktur harga dan resistensi Villa membuat opsi ini menguap cepat.

Alhasil, Sesko dianggap sebagai solusi yang lebih efisien dalam jangka panjang meskipun membutuhkan waktu dan bimbingan yang tepat.

Mencari Jawaban untuk Kutukan Nomor 9 MU

Jika Benjamin Sesko benar-benar mendarat di Old Trafford, ia akan menjadi striker ketiga yang direkrut dalam tiga musim terakhir.

Sebelumnya ada Rasmus Hojlund dan Wout Weghorst, yang keduanya belum mampu memberikan stabilitas dan produktivitas yang diharapkan dari seorang No. 9.

Masalah United sebenarnya lebih kompleks dari sekadar siapa yang mencetak gol. Struktur permainan, distribusi bola ke sepertiga akhir, serta kemampuan menjaga tekanan ofensif masih belum ideal.

Striker United sering dibebani tugas ganda: mencetak gol, memulai pressing, bahkan kadang menjadi playmaker dadakan karena kurangnya koneksi dari lini tengah dan sayap.

Sesko punya atribut untuk menghadapi tantangan ini, tapi tetap butuh dukungan sistem dan eksekusi tim yang jauh lebih rapi. Tanpa itu, striker sehebat apa pun akan kesulitan berkembang di Old Trafford.

Apakah Amorim dan tim rekrutmennya siap menciptakan ekosistem yang mendukung Sesko? Jawabannya akan menentukan apakah ini transfer cerdas atau sekadar eksperimen baru yang berakhir buntu.

 
 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan