Pengorbanan Lucy Bronze: Bermain di Euro Wanita 2025 dengan Kaki Retak dan Bantu Inggris Juara

Timnas Inggris wanita kembali menorehkan sejarah di pentas sepak bola dengan menjuarai Euro 2025. Salah satu sosok kunci di balik kemenangan dramatis itu adalah Lucy Bronze.

Diperbarui 28 Juli 2025, 08:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Timnas Inggris wanita kembali menorehkan sejarah di pentas sepak bola Eropa. Mereka sukses mempertahankan gelar juara Euro setelah mengalahkan Spanyol di final.

Lionesses mengalahkan Spanyol lewat adu penalti dengan skor 3-1, Minggu (27/7/2025) malam WIB. Laga final di St. Jakob Park berakhir imbang 1-1 sampai perpanjangan waktu sebelum Chloe Kelly mencetak gol penentu di babak tos-tosan.

Salah satu sosok kunci di balik kemenangan dramatis itu adalah Lucy Bronze. Bek senior Inggris tersebut ternyata bermain dalam kondisi cedera sepanjang turnamen.

Bronze tampil dalam final melawan Spanyol meski sedang tidak bugar sepenuhnya. Pengalamannya terbukti penting saat Inggris harus berjuang keras melewati babak adu penalti.

Namun, tak banyak yang tahu pengorbanan besar yang dilakukan Bronze untuk negaranya. Ia menyembunyikan cedera serius demi bisa tampil membela Inggris.

Bermain dengan Kaki Retak demi Timnas

Lucy Bronze mengungkap fakta mengejutkan setelah final Euro 2025 usai. Sepanjang turnamen, ia bermain dengan tulang kering yang retak dan cedera tambahan di lutut.

Bronze tampil sebagai starter dalam laga final kontra Spanyol di Basel, yang berakhir imbang 1-1 sebelum dilanjutkan ke adu penalti. Ia juga mencatat penampilan ke-140 bersama Timnas Inggris, menyamai rekor Alex Scott.

"Saya sebenarnya bermain sepanjang turnamen dengan tulang kering yang retak, dan kemudian lutut di kaki satunya lagi cedera," ujar Bronze kepada BBC.

"Itulah kenapa saya mendapat banyak pujian dari para pemain setelah pertandingan melawan Swedia, karena saya menahan rasa sakit yang luar biasa," lanjutnya.

Keteguhan Mental di Tengah Kritik

Meski performa Inggris tidak begitu meyakinkan selama fase gugur, mereka menunjukkan semangat pantang menyerah. Bronze pun menyatakan bahwa keyakinan tim tak pernah luntur.

Inggris hanya sempat unggul selama kurang dari lima menit dalam seluruh fase knockout. Namun, mereka berhasil menyingkirkan Swedia dan Italia sebelum menundukkan Spanyol di final.

"Saya rasa kami tidak pernah kehilangan kepercayaan diri," ucap Bronze.

"Ada banyak suara dari luar, tapi kami tetap bersama dan berjuang hingga menang lewat penalti," tambahnya.

Final yang Penuh Emosi dan Kemenangan Bersejarah

Laga final berlangsung ketat dengan Spanyol mencetak gol lebih dulu lewat Mariona Caldentey. Alessia Russo kemudian menyamakan kedudukan dan memaksa pertandingan lanjut ke perpanjangan waktu.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Bronze sempat mengalami cedera lagi di laga final, meski masih bisa bermain sebentar sebelum akhirnya ditarik keluar dan digantikan Niamh Charles. Adu penalti pun menjadi penentu gelar juara. "Tim ini sangat menginspirasi untuk menjadi bagiannya. Apa yang kami lakukan hari ini sungguh luar biasa," ucap Bronze penuh semangat. "Menang lewat adu penalti adalah perasaan yang luar biasa, tetapi kalah dengan cara itu adalah cara yang sangat menyakitkan untuk kalah di final," katanya.

Halaman
Show All
Aga Deta AndityaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan