Piala Presiden 2025: Tradisi Pramusim yang Kini Menggema hingga 16 Ribu Kilometer

Dalam kalender sepak bola nasional, Piala Presiden bukan lagi sekadar turnamen pramusim

Diperbarui 15 Juli 2025, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selain itu, tiga nilai lainnya terus dijaga: pelibatan UMKM, komitmen pada fair play, dan transparansi keuangan—yang dibuktikan dengan audit rutin oleh PricewaterhouseCoopers (PwC).

Lebih dari Sepak Bola: Piala Presiden jadi Diplomasi Budaya

Edisi 2025 menjadi bukti bahwa sepak bola bisa menjadi jembatan diplomasi budaya. Pelatih Oxford United, Garry Rowett, dan pelatih Port FC, Alexandre Gama, bahkan merasakan pengalaman budaya yang tak terlupakan: menaiki Sisingaan di Gedung Sate.

Kesenian khas Subang itu biasanya hanya tampil di perayaan lokal, tapi kali ini menjadi simbol penyambutan tamu internasional. Para pemain Persib Bandung, usai juara BRI Liga 1 2024/2025, juga diarak dengan Sisingaan.

Liam Rice, jurnalis dari Oxford Mail yang turut meliput perjalanan Oxford United di Indonesia, menyampaikan kekagumannya dalam kolom pribadi. Ia tidak hanya menulis soal pertandingan, tapi juga membagikan pengalaman mencicipi kuliner lokal seperti terong panggang, mi, jamur, nasi, dan tahu Bandung yang ia sebut 'lezat dan berair'.

"Saya belum pernah mencicipi tahu yang begitu lezat dan berair. Itu menjadi awal hari yang luar biasa," tulisnya.

Liam juga dibuat takjub oleh atmosfer suporter Indonesia yang menurutnya 'tidak jauh berbeda dari suasana pertandingan League One di Inggris'. Ia menggambarkan para pendukung yang mengenakan atribut khas seperti jaket Fred Perry dan Stone Island, menyanyikan yel-yel, serta mengibarkan spanduk, layaknya pertandingan besar di tanah Britania.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Nyata

Namun, Piala Presiden bukan hanya soal pertandingan dan atraksi budaya. Turnamen ini juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyebut kegiatan ini sebagai berkah bagi pelaku ekonomi lokal.

"Ekonomi juga tumbuh. Banyak pedagang di luar. Sopir angkot dapat orderan. Ini angin segar bagi masyarakat Jawa Barat," ungkap KDM.

Setiap pertandingan menjadi momen panen bagi ratusan pelaku UMKM yang menjajakan dagangan di sekitar stadion. Hebatnya, mereka tidak dipungut biaya sewa. Ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang meminta agar kegiatan olahraga berdampak langsung pada rakyat kecil.

“Tidak bayar uang sewa. Supaya mereka gembira. Seperti pesan Presiden, harus berdampak kepada rakyat kecil. Kepada ojek-ojek, hotel, rumah sewa, pedagang kaki lima, semua harus ikut merasakan manfaat,” kata Maruarar Sirait.

Menatap Masa Depan yang Lebih Terbuka

Dengan partisipasi klub-klub luar negeri, penyelenggaraan yang profesional, serta dampak ekonomi yang merata, Piala Presiden 2025 telah menembus batas sebagai turnamen pramusim. Ia menjadi peristiwa budaya, alat diplomasi, dan ajang pemberdayaan ekonomi rakyat dalam satu paket utuh.

Garry Rowett, pelatih Oxford United, merangkum pengalaman klubnya dengan singkat namun padat.

“Ini pengalaman baru bagi kami. Sangat menarik, berbagai jenis pertandingan yang kami jalani,” ujarnya.

Bukan tidak mungkin, di masa mendatang, Piala Presiden akan menjadi salah satu turnamen pramusim paling bergengsi di kawasan Asia—atau bahkan dunia. Sebab dari Bandung hingga Oxford, satu pesan tersampaikan dengan jelas: sepak bola adalah milik semua, dan tradisi yang dijalankan dengan tulus, akan menemukan jalannya menuju hati siapa pun, di mana pun.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan