Enzo Maresca: Pemimpin Sunyi yang Membangun Chelsea dengan Ketenangan dan Kejelasan Visi

Dengan pendekatan tenang dan filosofinya yang konsisten, pelatih asal Italia itu membangun ulang The Blues menjadi tim yang tak hanya bertalenta, tapi juga mulai menyatu sebagai sebuah kesatuan.

Diperbarui 11 Juli 2025, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Enzo Maresca bukan nama besar saat menjejakkan kaki di Stamford Bridge, tetapi kini ia memimpin Chelsea ke final Piala Dunia Antarklub 2025. Dengan pendekatan tenang dan filosofinya yang konsisten, pelatih asal Italia itu membangun ulang The Blues menjadi tim yang tak hanya bertalenta, tapi juga mulai menyatu sebagai sebuah kesatuan.

Chelsea akan menghadapi PSG di partai puncak pada Senin dini hari, 14 Juli 2025, di MetLife Stadium, East Rutherford. Kemenangan atas juara Liga Champions itu bisa jadi pencapaian terbesar Maresca sejauh ini, melengkapi musim yang sudah diwarnai berbagai kejutan dan pencapaian historis.

Mari selami bagaimana sosok yang dulu membawa Leicester promosi kini menjelma jadi sosok sentral di ruang ganti Chelsea—dengan cara yang berbeda dari para pendahulunya.

Dari Promosi Leicester ke Puncak Dunia

Chelsea dikenal sebagai klub yang tak ragu mengganti pelatih. Musim lalu, meski Mauricio Pochettino membawa tim finis di peringkat enam Premier League, keduanya sepakat berpisah. Klub merasa perlu mencari sosok baru untuk memimpin skuad muda dan mahal mereka.

Masuklah Maresca, yang datang nyaris tanpa gemuruh setelah membawa Leicester promosi ke Premier League. Ia mulai memimpin Chelsea pada Juli 2024, langsung dihadapkan pada ekspektasi tinggi dan dinamika ruang ganti yang kompleks.

Perjalanannya tak mulus sejak awal. Namun, dalam dua bulan terakhir, performa Chelsea menunjukkan konsistensi dan arah. Mereka finis keempat di Premier League dan menjuarai UEFA Conference League, menghajar Real Betis 4-1 di final.

Filosofi Tenang, Hasil Menyakinkan

Berbeda dari para pendahulu seperti Mourinho, Conte, atau Tuchel yang dikenal lantang dan ekspresif, Maresca justru hadir dengan ketenangan dan komunikasi efektif. Ia memahami pemain karena pernah ada di posisi mereka.

“Dia mantan pesepak bola, jadi saya rasa kualitas utamanya adalah memahami pemain dan perasaan mereka dalam berbagai situasi,” kata gelandang Romeo Lavia kepada FIFA. “Itulah kunci dari kemajuan kami dan bagaimana kami bisa merasa nyaman.”

Pendekatannya berhasil membawa banyak pemain berkembang. Moises Caicedo kini dianggap salah satu gelandang bertahan terbaik di Eropa, Enzo Fernandez tampil konsisten dan memimpin, dan Levi Colwill menjadi pilar di lini belakang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Cole Palmer sempat kehilangan sentuhannya, tidak mencetak gol dari open play sejak Januari. Maresca tidak panik. Ia bereksperimen, menggeser Palmer ke berbagai posisi, dari sayap kanan, kiri, hingga gelandang serang. Hasilnya langsung terlihat di ajang Piala Dunia Antarklub. Palmer mencetak gol dan assist di babak 16 besar dan perempat final, mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai poros serangan Chelsea. “Jelas dia menerapkan filosofinya ke dalam klub dan tim, dan kami semua menerimanya,” ujar Tosin Adarabioyo. “Kami mendapat hasil luar biasa dan mencapai semua target musim ini. Luar biasa, dia manajer muda tapi mampu melakukan hal-hal luar biasa untuk kami.”

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan