Kisah Skandal di Balik Lini Pertahanan: Ketika John Terry Merebut Tunangan sang Sahabat

Di ruang ganti Chelsea musim 2008/2009, dua sahabat tampak tak tergantikan. John Terry dan Wayne Bridge adalah bagian dari barisan pertahanan kuat klub London itu, sekaligus rekan setim di timnas Inggris.

Diperbarui 11 Juli 2025, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Vanessa bahkan menolak tudingan bahwa Terry datang ke rumahnya dua kali seminggu untuk hubungan fisik. “Semua berita mengenai dia datang ke rumah saya dua kali seminggu untuk berhubungan, itu tidak pernah terjadi,” ucapnya tegas dalam sebuah wawancara.

Di sisi lain, Perroncel juga mengklaim bahwa hubungannya dengan Bridge sudah kembali normal dan Toni Poole, istri John Terry, masih menjalin hubungan baik dengannya. Namun, di balik semua bantahan itu, keretakan sudah telanjur menganga di antara dua rekan setim.

Dua Tangan yang Tak Pernah Lagi Berjabat

Bagi Wayne Bridge, luka akibat pengkhianatan itu lebih dalam dari sekadar gosip media. Setelah skandal mencuat, ia memutus semua komunikasi dengan John Terry. Tak ada lagi sapaan hangat di lapangan atau tawa di ruang ganti. Apa yang dulunya sahabat, berubah menjadi simbol pengkhianatan.

Puncaknya terjadi pada Februari 2010. Dalam pertandingan antara Manchester City dan Chelsea di Stamford Bridge, Wayne Bridge—yang kala itu telah pindah ke City—menolak jabat tangan dari John Terry saat pemain berbaris sebelum laga. Tindakan yang menuai sorotan dunia. Namun, bagi Bridge, itu adalah bentuk perlawanan.

“Saya merasa fantastis. Itu adalah hari yang luar biasa. Saya tahu saya telah melakukan hal yang benar. Jabat tangan, semuanya adalah tentang penghormatan dan saya tidak bisa menghormati dia,” kata Bridge dalam sebuah wawancara usai laga.

Pertemuan mereka kembali terjadi pada 2011 saat Bridge membela West Ham menghadapi Chelsea. Lagi-lagi, tangan John Terry tak pernah disambut. Simbol kecil, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa luka dari pengkhianatan tak sembuh hanya dengan waktu.

Lebih dari Sepak Bola: Sebuah Cerita tentang Harga Diri

Skandal ini bukan hanya mengguncang ruang ganti Chelsea, tetapi juga menyentuh titik paling rapuh dari hubungan antarpemain. Dalam dunia sepak bola yang keras dan penuh ego, kepercayaan adalah salah satu hal paling mahal. Ketika itu hilang, tak ada taktik atau trofi yang bisa memperbaikinya.

John Terry, sang kapten, boleh saja melanjutkan kariernya dengan deretan gelar. Namun, noda dari kisah ini tak akan hilang dari ingatan publik. Ia pernah menerima gelar Ayah Terbaik, tapi juga menjadi simbol dari pengkhianatan seorang rekan.

Wayne Bridge, yang memilih diam selama bertahun-tahun, akhirnya bersuara melalui tindakannya: menolak bersalaman. Gestur kecil itu bergema lebih lantang dari kata-kata. Sebab, dalam sepak bola—seperti dalam hidup—kadang, luka terbesar datang bukan dari lawan, tapi dari orang yang seharusnya berdiri di sisi kita.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan