Ribut-ribut Regulasi 11 Pemain Asing di Super League dan Potensi Krisis Seperti Timnas Arab Saudi

Perubahan besar kembali menghampiri sepak bola Indonesia. Liga 1 yang kini berganti nama menjadi Super League, siap memasuki era baru dengan regulasi baru: setiap klub boleh mendaftarkan 11 pemain asing.

Diperbarui 10 Juli 2025, 13:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Perubahan besar kembali menghampiri sepak bola Indonesia. Liga 1 yang kini berganti nama menjadi Super League, siap memasuki era baru dengan regulasi baru: setiap klub boleh mendaftarkan 11 pemain asing, dengan delapan di antaranya bisa dimainkan dalam satu pertandingan.

Keputusan ini diumumkan oleh Direktur Utama I-League, Ferry Paulus, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar belum lama ini. Menurut Ferry, langkah ini diambil atas kesepakatan mayoritas klub peserta. Tujuan utamanya jelas: meningkatkan daya saing klub-klub Indonesia di pentas Asia.

“Kalau kita melihat regulasi musim lalu itu kan enam pemain asing bermain, delapan didaftarkan. Klub-klub merasa seperti ‘nanggung’. Sekarang, didaftarkan boleh 11, yang bermain tetap delapan,” ujar Ferry.

Di balik angka-angka itu, regulasi ini menyimpan potensi pergeseran besar dalam lanskap kompetisi. Klub-klub kini dihadapkan pada dilema: mengejar prestasi dengan kekuatan asing, atau tetap konsisten mengembangkan pemain lokal?

Antara Ambisi Asia dan Realita di Ruang Ganti

Menurut Ferry, tambahan kuota pendaftaran pemain asing ini tidak akan mengganggu ruang bagi pemain lokal. Ia menegaskan bahwa meski 11 bisa didaftarkan, penggunaan tetap maksimal delapan pemain asing di atas lapangan. Namun, tidak kewajiban bagi klub untuk memenuhi kuota tersebut.

General Manajer Arema FC, Yusrinal Fitrianadi, melihat adanya potensi konflik di dalam tim akibat banyaknya pemain asing yang tidak mendapatkan menit bermain. Karena itu, Arema FC memilih untuk tak mengontrak 11 pemain asing.

“Delapan yang bermain dari 11 pemain, artinya ada tiga pemain asing yang tidak bermain. Itu agak problem di tim, bisa mengganggu ruang ganti. Paling banyak Arema FC pakai sembilan pemain asing saja, sesuai kebutuhan," kata Yusrinal.

Sementara itu, Madura United melalui Komisaris mereka, Zia Ul Haq, menilai keputusan ini sebagai hasil kompromi dari dinamika internal para pemegang saham I-League. Baginya, regulasi 8+11 bukan hal baru.

“Sudah pernah dibahas sebelumnya. Bagi kami tidak ada masalah,” ujarnya singkat.

Nasib Pemain Lokal dan Masa Depan Timnas

Tak sedikit pihak yang menyayangkan regulasi ini. Salah satunya adalah pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali. Ia menyebut keputusan tersebut terlalu tergesa-gesa dan bisa berdampak negatif dalam jangka panjang, baik secara finansial maupun teknis.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

"Ini sangat merugikan pengembangan pemain lokal Indonesia. Kita bukan negara maju sepak bola yang bisa mengekspor pemain lokal ke luar negeri,” katanya. Akmal mengingatkan soal pengalaman Arab Saudi yang prestasinya sempat menurun akibat terlalu terbuka terhadap pemain asing. "Pemain asing pasti direkrut untuk dimainkan. Artinya, pemain lokal akan kehilangan tempat dan sulit berkembang. Ujungnya, Timnas juga yang kena imbas,” tegasnya. Nada serupa disampaikan Presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Andritany Ardhiyasa. Meski tidak menolak regulasi secara langsung, ia menyoroti pentingnya memberi menit bermain kepada pemain lokal. “Kalau muara dari kompetisi ini adalah prestasi Tim Nasional, maka regulasi ini kontradiktif dengan pernyataan pelatih Patrick Kluivert. Kalau pemain tidak punya menit bermain di klub, bagaimana mereka bisa dapat kesempatan di Timnas?," kata kiper Persija Jakarta itu.

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan