Ribut-ribut Regulasi 11 Pemain Asing di Super League dan Potensi Krisis Seperti Timnas Arab Saudi

Perubahan besar kembali menghampiri sepak bola Indonesia. Liga 1 yang kini berganti nama menjadi Super League, siap memasuki era baru dengan regulasi baru: setiap klub boleh mendaftarkan 11 pemain asing.

Diperbarui 10 Juli 2025, 13:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

"Ini sangat merugikan pengembangan pemain lokal Indonesia. Kita bukan negara maju sepak bola yang bisa mengekspor pemain lokal ke luar negeri,” katanya.

Akmal mengingatkan soal pengalaman Arab Saudi yang prestasinya sempat menurun akibat terlalu terbuka terhadap pemain asing.

"Pemain asing pasti direkrut untuk dimainkan. Artinya, pemain lokal akan kehilangan tempat dan sulit berkembang. Ujungnya, Timnas juga yang kena imbas,” tegasnya.

Nada serupa disampaikan Presiden Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), Andritany Ardhiyasa. Meski tidak menolak regulasi secara langsung, ia menyoroti pentingnya memberi menit bermain kepada pemain lokal.

“Kalau muara dari kompetisi ini adalah prestasi Tim Nasional, maka regulasi ini kontradiktif dengan pernyataan pelatih Patrick Kluivert. Kalau pemain tidak punya menit bermain di klub, bagaimana mereka bisa dapat kesempatan di Timnas?," kata kiper Persija Jakarta itu.

Belajar dari Merosotnya Timnas Arab Saudi

September 2024 lalu, Timnas Arab Saudi bermain imbang 1-1 lawan Timnas Indonesia di kandang sendiri. Sang pelatih, Roberto Mancini, membuat keluhan yang bisa jadi refleksi bagi kondisi sepak bola terkini terkait dengan minimnya menit bermain para pemain lokal.

"Para pemain Timnas Arab Saudi harus rutin bermain terutama dengan klub mereka. Saya memiliki 20 pemain yang duduk sebagai pemain pengganti di pertandingan lokal," ucap Mancini dikutip dari Arriyadiyah.

"Tidak ada solusi untuk dilema ini," tegas pria yang pernah melatih Timnas Italia tersebut.

Saudi Pro League membuka keran pemain asing lebar-lebar. Perubahan besar dibuat untuk mengakomodir kedatangan Cristiano Ronaldo dan banyak pemain top lain. Kini, setiap klub Saudi Pro League bisa mendaftarkan 10 pemain dan memainkan delapan diantaranya.

"Ingat, Arab Saudi prestasinya menurun karena membuka ruang global kepada pemain asing sehingga pemain-pemain nasional mereka minim yang bermain," kata Akmal.

Regulasi Bakal Paksa Pemain Lokal Hijrah ke Luar Negeri?

Dari sudut pandang lain, dengan dibukanya keran pemain asing, situasi ini bisa membuat pemain lokal keluar dari zona nyaman. Mereka akan dipaksa untuk tidak membuang kesempatan dan berani mengambil langkah besar dengan bergabung dengan klub luar negeri.

Namun, Akmal mengingatkan bahwa Indonesia belum berada pada level negera pengekspor pemain keluar negeri. Indonesia bukan Brasil, Argentina, atau bahkan Jepang yang banyak mengirim banyak pemain sepak bola ke berbagai penjuru dunia.

"Sementara, Indonesia masih sangat sulit. Jangankan main di level Eropa atau Asia, bermain di ASEAN saja kita sangat kesulitan untuk mengekspor pemain lokal kita," kata Akmal.

Soal persaingan, Andritany meyakini bahwa pemain lokal tidak pernah takut. Namun, eks kiper Timnas Indonesia itu meminta agar persaingan dibuat secara adil mulai dari aspek fasilitas, infrastruktur dan ekosistem yang berkualitas, seperti negara-negara yang memang industri sepakbolanya telah berjalan dengan baik.

"Sebagai asosiasi yang menaungi pemain lokal dan juga asing, APPI tidak mempermasalahkan berapapun kuota pemain asing yang ada. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dengan jam terbang talenta lokal di Indonesia," kata Andritany.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan