Kisah Kejatuhan Anderson: The Next Ronaldinho yang Kariernya Merosot Drastis usai Tinggalkan Manchester United

Namanya melejit saat berseragam Manchester United, bahkan digadang-gadang sebagai 'The Next Ronaldinho'. Dibeli dari Porto saat masih remaja, harapan besar melekat padanya.

Diperbarui 09 Juli 2025, 09:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Pulang ke Brasil, tapi Tak Membaik

Setelah masa peminjaman singkat di Fiorentina, Anderson kembali ke Brasil dengan harapan membangun ulang kariernya. Namun, lagi-lagi, masalah lama membayang. Berat badannya naik signifikan, kebugarannya menurun drastis.

Salah satu momen paling mengkhawatirkan terjadi di Internacional. Dalam satu pertandingan, ia harus mengenakan masker oksigen di bangku cadangan setelah ditarik keluar karena kelelahan. Perhatian publik pun tak terelakkan.

Setelah beberapa musim yang mengecewakan, termasuk masa pinjaman ke Coritiba, ia kembali ke Eropa dan bergabung dengan Adana Demirspor. Namun, dia hanya tampil 15 kali, dan gantung sepatu di usia 31.

Masalah Tak Usai di Luar Lapangan

Pensiun tak membuat hidup Anderson lebih tenang. Pada 2021, ia dituduh terlibat dalam skema penipuan kripto senilai £4,7 juta (sekitar Rp99 miliar). Namanya masuk dalam penyelidikan kasus pencurian, penipuan, dan pencucian uang.

Anderson membantah tuduhan tersebut. Namun, kasus itu menambah daftar panjang masalah yang membelitnya sejak gantung sepatu. Nasib hukumnya hingga kini belum diketahui secara pasti.

Tak berhenti di situ. Pada 2024, surat perintah penahanan dikeluarkan karena Anderson gagal membayar tunjangan anak senilai £45.000 (sekitar Rp950 juta). Ia diancam hukuman 30 hari penjara jika tak melunasi di tengah kewajibannya sebagai ayah dari sembilan anak.

Akhir yang Jauh dari Gemilang

Kini, Anderson masih berkutat di dunia sepak bola, bekerja sebagai asisten pelatih tim muda Adana Demirspor di Turki. Namun, pekerjaannya tak sepenuhnya bisa menutupi bayang-bayang masa lalu.

Kisah Anderson menjadi pengingat keras bahwa bakat saja tak cukup di dunia sepak bola. Disiplin, dedikasi, dan profesionalisme tetap kunci utama untuk bertahan di level atas.

Ia pernah berada di puncak dunia, mencium trofi Liga Champions dan dielu-elukan oleh puluhan ribu fans. Namun, perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa jatuh dari puncak bisa terjadi secepat naik ke sana—terutama ketika semua potensi tak dijaga.

Sumber: GiveMeSport

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan