Bukan Sekadar Mahal, Ini Alasan Liverpool Berani Bayar Rp2 Triliun untuk Wirtz

Liverpool resmi mendatangkan Florian Wirtz dengan rekor klub. Apa yang membuat transfer ini sejalan dengan strategi cerdas FSG selama satu dekade terakhir?

Diperbarui 22 Juni 2025, 17:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Wirtz dan Pola Lama yang Selalu Berhasil

Saat Liverpool memilih untuk merekrut Wirtz, mereka bukan hanya mencari playmaker baru. Mereka juga meneruskan pola yang selama ini menghasilkan pemain-pemain kunci. Seperti Mane dan Salah yang tampil lebih efektif di posisi berbeda dari klub sebelumnya, Wirtz juga bisa saja mengalami reposisi peran di bawah Arne Slot.

Fleksibilitas posisi memang jadi salah satu ciri khas rekrutan sukses Liverpool. Roberto Firmino diubah jadi false nine, Gini Wijnaldum dari gelandang serang menjadi gelandang bertahan, dan kini Wirtz berpotensi menjadi pusat kreativitas dengan sentuhan berbeda. Meskipun ia dikenal sebagai nomor 10, Liverpool tak selalu memaksa pemain bertalenta untuk bermain di peran aslinya.

Apalagi, kemampuan Wirtz untuk bergerak ke kiri dan mencari ruang di sisi kotak penalti membuatnya mirip dengan gaya Eden Hazard di masa emasnya. Itu bisa menjadi senjata baru yang dimaksimalkan Slot di lini tengah Liverpool yang tengah dibentuk ulang.

Dengan gaya mainnya yang energik dan cerdas dalam mencari celah, Wirtz tampaknya akan menjadi poros baru dalam permainan menyerang Liverpool. Dan seperti transfer besar sebelumnya, The Reds tampaknya sudah tahu apa yang mereka lakukan.

Investasi Besar, Risiko Kecil?

Nominal transfer Wirtz jelas mencolok. Tapi jika melihat perhitungan keuangan dan nilai jangka panjangnya, ini tetap sejalan dengan pendekatan “minim risiko” Liverpool. Biaya awal £100 juta bisa naik menjadi £116 juta, namun dengan gaji yang relatif terukur untuk pemain kelas dunia, total beban finansial klub masih dalam kendali.

Selain itu, Liverpool juga mendapatkan keuntungan dari kebijakan belanja cerdas musim panas ini. Kepergian Klopp yang disertai dengan profit transfer membuka ruang bagi rekrutan besar seperti Wirtz. Bahkan dari sisi amortisasi, beban tahunan tetap terdistribusi rapi selama lima tahun kontrak.

Sebagai perbandingan, Chelsea di bawah Clearlake dan Todd Boehly banyak membeli pemain muda tanpa rekam jejak yang cukup, sementara Manchester United lebih banyak merekrut pemain senior dengan gaji tinggi dan nilai jual kembali rendah. Liverpool berada di tengah—mereka membeli mahal, tapi berdasarkan data dan pertimbangan matang.

Dan sejauh ini, strategi itu telah membawa mereka sukses. Nama-nama seperti Alisson, Van Dijk, Salah, dan Mane adalah bukti nyatanya. Kini, Wirtz diharapkan jadi batu loncatan berikutnya.

Warisan Klopp dan Langkah Arne Slot

Meski Klopp tak lagi berada di kursi manajer, pengaruhnya masih terasa dalam keputusan rekrutmen ini. Ia sempat mengeluh karena minimnya belanja, tapi juga membantu menciptakan sistem yang memungkinkan transfer besar terjadi di era berikutnya. Kebijakan hemat Klopp, serta peningkatan nilai jual pemain, menjadi fondasi dari transfer Wirtz.

Kini, Arne Slot mewarisi skuad yang tetap kompetitif dan ditopang dengan pembelian bertarget. Wirtz bukan sekadar nama besar, tapi representasi dari filosofi yang telah terbukti ampuh. Slot tinggal menerjemahkan potensi itu ke dalam sistem permainan yang bisa membawa Liverpool ke era baru.

Dan seperti banyak rekrutan sebelumnya, Wirtz datang bukan sebagai superstar instan, tapi sebagai proyek jangka panjang yang siap dipoles. Di tangan manajemen yang disiplin dan pelatih yang tepat, ia bisa menjadi wajah baru Liverpool untuk lima tahun ke depan.

Jika segalanya berjalan sesuai rencana, maka transfer Wirtz bukan hanya sukses finansial, tapi juga kesuksesan strategis yang mempertegas posisi Liverpool sebagai klub modern yang tahu cara membeli dan membentuk juara.

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan