Membedah Taktik Igor Tudor di Juventus: Lebih Vertikal, Lebih Agresif, dan Lebih Efektif?

Juventus menemukan stabilitas di bawah arahan pelatih baru Igor Tudor

Diperbarui 12 Juni 2025, 11:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Juventus menemukan stabilitas di bawah arahan Igor Tudor. Setelah menggantikan Thiago Motta pada fase akhir musim 2024/2025, pelatih asal Kroasia itu membawa perubahan instan: Juventus hanya kalah sekali dari sembilan laga terakhir Serie A.

Sebuah catatan cukup meyakinkan hingga manajemen klub memutuskan untuk mempertahankan Tudor untuk musim 2025/2026. Bahkan, Juventus disebut telah menyodorkan kontrak baru hingga 2027 untuk sang pelatih.

Di balik catatan apik itu, ada pendekatan taktik yang benar-benar berbeda dari era sebelumnya. Selain itu, Igor Tudor juga tidak asing dengan sepak bola Italia. Dia pernah melatih Hellas Verona dan Lazio sebelum ke Juventus.

Igor Tudor datang dengan filosofi dan struktur permainan yang tegas, membawa Juventus keluar dari periode inkonsistensi dengan identitas baru: lebih agresif, lebih vertikal, dan jauh lebih efisien. Simak ulasan lebih lengkapnya di bawah ini:

Perubahan Paling Mencolok: Tiga Bek, Bukan Empat

Langkah taktis pertama dan paling mencolok dari Igor Tudor adalah perubahan formasi dasar. Jika Thiago Motta lebih nyaman dengan formasi empat bek, maka Igor Tudor kembali ke pakem yang selalu ia andalkan: tiga bek sejajar.

Formasi 3-4-2-1 menjadi pilihan utama. Federico Gatti, Renato Veiga, dan Pierre Kalulu mengisi trio bek tengah yang solid, sementara Lloyd Kelly kerap masuk rotasi untuk memberikan kekuatan fisik dan fleksibilitas.

Transisi ini tidak selalu mudah, mengingat skuad Juventus dibentuk dengan struktur empat bek. Namun, pendekatan taktis Tudor yang lugas dan komunikatif membuat proses adaptasi berjalan mulus.

Juventus hanya kebobolan tujuh kali dari sembilan laga bersama Igor Tudor musim 2024/2025 lalu. Juventus juga mencatat tiga kali nirbobol.

Dari Mendominasi Bola Menjadi Mendominasi Ruang

Salah satu perbedaan besar dari era Motta ke Tudor adalah perubahan mentalitas di lini tengah. Jika Motta mengandalkan penguasaan bola dan tempo lambat, Tudor justru mendorong para gelandang untuk bermain lebih vertikal dan langsung.

Manuel Locatelli dan Khephren Thuram biasanya menjadi poros ganda, dengan Douglas Luiz sebagai opsi tambahan yang eksplosif. Alih-alih menahan bola terlalu lama, mereka kini diarahkan untuk segera memutar permainan ke depan, mencari celah sebelum lawan sempat mengatur ulang pertahanan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sementara, peran bek sayap dalam sistem Tudor sangat vital. Andrea Cambiaso dan Timothy Weah diberi tanggung jawab besar untuk menjaga lebar serangan sekaligus membantu pertahanan. Keduanya aktif dalam overlap, rajin menyuplai bola dari sisi lapangan, serta memainkan peran krusial dalam transisi cepat dari bertahan ke menyerang.

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan