Final Liga Champions Paling Brutal Sepanjang Masa: PSG Cetak Rekor, Inter Menangis, Dunia Terpana

Biasanya, final Liga Champions adalah panggung pertarungan ketat dan penuh kehati-hatian. Tapi PSG melawan semua nalar dengan kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan di Munich.

Diperbarui 02 Juni 2025, 01:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ousmane Dembele: Dari Winger Rapuh Jadi Ujung Tombak Mematikan

Tak banyak yang menyangka Dembele akan berevolusi menjadi penyerang tengah kelas dunia. Tapi di bawah arahan Luis Enrique, ia menjelma jadi predator tajam yang juga aktif menekan lawan.

Pelatihnya bahkan menyebut Dembele layak memenangkan Ballon d'Or, bukan hanya karena gol-golnya, tetapi juga kontribusi tanpa bola. Tekanan tinggi dari sang pemain membuat Inter tak pernah nyaman membangun serangan.

Di final, Dembele tidak hanya mencetak gol, tapi juga memberi ketakutan konstan bagi bek-bek Inter. Pergerakannya dinamis, penuh kejutan, dan sangat sulit diprediksi.

PSG Lebih dari Sekadar Kumpulan Bintang

Meski individu-individu bersinar, PSG membuktikan diri sebagai satu unit yang utuh. Rotasi lini tengah mereka menjadi fondasi permainan yang mematikan dan efisien.

Vitinha dan Fabian Ruiz menampilkan kecerdasan taktis tinggi, memungkinkan pemain seperti Hakimi untuk menusuk dari sayap. Gol ketiga yang dicetak Doue hasil dari kombinasi brilian dari lini tengah ke depan.

Pergerakan penyerang yang cair—Doue, Kvaratskhelia, dan Dembele—memungkinkan PSG menciptakan ruang tanpa kehilangan keseimbangan. Mereka memainkan sepakbola berbasis kombinasi, bukan sekadar posisi.

Momen Bersejarah, Tapi Jangan Terlena

Meski kemenangan ini monumental, Luis Enrique dan PSG sadar betul bahwa Liga Champions bukan kompetisi yang menjamin dominasi jangka panjang. Kejayaan ini lahir dari kerja keras dan detail kecil, bukan sekadar nama besar.

PSG sempat hampir tersingkir oleh Liverpool lewat adu penalti, dan banyak bergantung pada Donnarumma saat melawan Arsenal. Di fase grup pun performa mereka kurang meyakinkan.

Namun pada akhirnya, dunia hanya mengingat malam puncak. Seperti Milan di tahun 1994, PSG kini punya malam keemasan yang akan dikenang sepanjang masa.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan