PSG Memahat Kenyataan Indah dengan Dominasi Mutlak

Selama bertahun-tahun, PSG dipandang sebagai proyek mahal yang belum membuahkan hasil di Eropa.

Diperbarui 01 Juni 2025, 10:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya menjawab keraguan dan mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya. Di final musim 2024/25, Les Parisiens menghajar Inter Milan 5-0 dalam pesta gemilang di Munich. Ini malam yang tak hanya mengukuhkan dominasi, tapi juga menandai berakhirnya penantian panjang.

Selama bertahun-tahun, PSG dipandang sebagai proyek mahal yang belum membuahkan hasil di Eropa. Gelar domestik bergelimang, tapi Liga Champions selalu terasa menjauh. Kini, trofi itu bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan indah yang dipahat dengan dominasi mutlak.

Kemenangan ini lebih dari sekadar angka di papan skor. Ini adalah penebusan, pembuktian, dan awal dari narasi baru—PSG bukan lagi pengejar, mereka sudah menjadi pemilik panggung.

PSG: Awal Terseok, Akhir Menakjubkan

Musim PSG tak selalu berjalan mulus. Di fase liga Liga Champions, mereka hanya menang empat kali dari delapan laga. Kekalahan dari Atletico Madrid di Matchday 4 membuat banyak pihak meragukan arah tim ini.

Namun, segalanya berubah ketika PSG bangkit menghadapi Manchester City. Kemenangan atas Salzburg di laga terakhir memastikan tiket ke fase gugur walau mereka hanya finis di peringkat ke-15 dari 16 tim yang lolos.

Momentum itu terus dijaga. PSG menghajar Brest 10-0 di babak play-off, tapi ujian sejati datang di babak 16 besar: menghadapi Liverpool, tim dengan DNA Eropa yang kuat.

PSG Melewati Neraka Anfield

PSG sempat tertinggal agregat setelah kalah 0-1 di Paris dari Liverpool. Namun, di Anfield, mereka menunjukkan ketahanan mental yang belum pernah terlihat sebelumnya—menang 1-0 dan unggul lewat adu penalti dramatis.

Kemenangan ini jadi titik balik. PSG merasakan bahwa musim ini berbeda. Mereka bukan sekadar koleksi talenta, tapi sudah menjelma menjadi satu kesatuan tim yang utuh.

Ousmane Dembele menjadi katalis di lini depan, Joao Neves mengatur tempo di tengah, dan Willian Pacho menjaga kestabilan di belakang. PSG tak lagi bergantung pada satu nama besar—mereka menang karena kolektivitas.

PSG Menaklukkan London, Menghancurkan Wakil Kota Milan

Usai melewati Liverpool, PSG menyingkirkan Aston Villa dan Arsenal. Gol cepat Dembele di Emirates menjadi pembeda, sementara kemenangan 2-1 di Paris memastikan tiket final.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Di Munich, PSG tampil sempurna. Inter Milan tak diberi ruang bernapas, kalah dalam duel, kalah dalam tempo, dan akhirnya kalah telak 0-5. PSG bermain intens, ganas, dan penuh kepercayaan diri. Luis Enrique memainkan peran besar di balik kemenangan ini. Dia mengubah PSG dari tim flamboyan menjadi kekuatan yang tangguh secara taktik dan mental.

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan