Simfoni yang Berakhir tapi Warisannya Abadi di Real Madrid: Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro

Ketiganya datang ke Real Madrid dari latar belakang yang berbeda, dengan label harga yang, dalam konteks sepak bola modern, tergolong murah.

Diperbarui 23 Mei 2025, 08:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tak hanya Liga Champions, mereka juga membawa pulang gelar-gelar domestik seperti La Liga, Copa del Rey, hingga Piala Dunia Antarklub. Konsistensi dan chemistry mereka menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai skenario pertandingan.

Dalam formasi 4-3-3 andalan Zinedine Zidane dan para pelatih setelah maupun sebelumnya, Casemiro menjadi pelindung lini belakang, Modric sang kreator, dan Kroos si pengatur ritme. Kombinasi peran itu membuat Real Madrid menjadi tim yang tak hanya kuat, tetapi juga indah untuk ditonton.

Menutup Lembaran Emas

Kini, babak itu resmi ditutup. Casemiro membela di Manchester United, Kroos akan gantung sepatu setelah Piala Eropa 2024, dan Modric, meski masih bermain, telah mengucapkan salam perpisahan. Meski pahit, Madridistas tahu: mereka beruntung pernah menyaksikan era ini.

Kepergian mereka bukan akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk mengenang masa kejayaan dan membangun masa depan. Dengan gelandang muda seperti Federico Valverde, Eduardo Camavinga, dan Jude Bellingham, tongkat estafet sudah disiapkan.

Namun, membentuk harmoni seperti era Casemiro-Modric-Kroos? Mungkin akan butuh waktu dan keajaiban bagi Real Madrid untuk bisa menghadirkan simfoni indah dengan warisan abadi tersebut.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan