Bayang-Bayang Gelap Timnas Indonesia di Piala AFF: Sepak Bola Gajah Memalukan dan Dualisme Federasi

Jelang partisipasi di Piala AFF 2024, sejarah gelap tetap membayangi Timnas Indonesia. Bagaimana tidak, Garuda pernah terlibat skandal besar di ajang tersebut.

Diterbitkan 07 Desember 2024, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jelang partisipasi di Piala AFF 2024, sejarah gelap tetap membayangi Timnas Indonesia. Bagaimana tidak, Garuda pernah terlibat skandal besar di ajang tersebut.  

Piala AFF 2007 menjadi salah satu momen paling suram dalam sejarah Merah Putih. Keberadaan Indonesia di turnamen ini tidak hanya gagal mencapai semifinal, tetapi juga terhenti di fase grup, yang mengecewakan banyak penggemar.

Dipimpin oleh pelatih asal Inggris, Peter White, Indonesia tergabung dalam Grup B bersama Singapura, Vietnam, dan Laos. Awal kompetisi dimulai dengan baik, di mana Skuad Garuda berhasil mengalahkan Laos dengan skor 3-1. Dua gol dicetak oleh Atep, ditambah satu gol dari Saktiawan Sinaga.

Di pertandingan kedua, Indonesia berhadapan dengan Vietnam. Dalam laga tersebut, Indonesia hampir mengalami kekalahan, namun Saktiawan Sinaga berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dengan golnya di menit terakhir pertandingan.

Sayangnya, di laga terakhir melawan Singapura, timnas Indonesia kembali harus puas dengan hasil imbang 2-2. Hasil ini membuat Indonesia tersingkir dari kompetisi karena kalah dalam produktivitas gol dibandingkan Singapura dan Vietnam. Singapura sebelumnya meraih kemenangan telak 11-0 atas Laos, sementara Vietnam juga mencatatkan kemenangan besar 9-0 melawan tim yang sama.

Performa Indonesia di Piala AFF 2007 sangat kontras dengan pencapaian mereka di Piala AFF 2004. Pada tahun tersebut, di bawah arahan Peter White, Indonesia berhasil melaju hingga final meskipun akhirnya harus mengakui keunggulan Singapura.

Akibat hasil buruk tersebut, Peter White menjadi sasaran kritik. Setelah kegagalan ini, posisi kepelatihan Indonesia diambil alih oleh pelatih asal Bulgaria, Ivan Kolev, yang diharapkan dapat membawa perubahan positif bagi tim.

Piala AFF 2007 menjadi pelajaran berharga bagi Timnas Indonesia untuk memperbaiki diri di masa mendatang, dengan harapan untuk kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Asia Tenggara.

Sepak Bola Gajah 1998

Piala AFF, yang dulunya dikenal sebagai Piala Tiger, pertama kali digelar pada tahun 1996. Dalam edisi keduanya pada tahun 1998, Indonesia mengalami momen yang penuh kenangan, baik manis maupun pahit. Pada turnamen yang berlangsung di Vietnam itu, Timnas Indonesia tergabung dalam Grup A bersama Thailand, Myanmar, dan Filipina.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pencapaian Indonesia di Piala AFF 1998 cukup mengesankan. Di bawah kepemimpinan pelatih Rusdy Bahalwan, Timnas berhasil meraih posisi ketiga setelah mengalahkan Thailand dalam adu penalti dengan skor 5-4 di babak semifinal. Lima pemain, yaitu Uston Nawawi, Bima Sakti, Yusuf Ekodono, Kuncoro, dan Imam Riyadi, memainkan peranan penting dengan sukses mengeksekusi penalti tanpa kesalahan. Walaupun pencapaian di semifinal patut diapresiasi, nama besar Timnas Indonesia tercoreng oleh tuduhan "sepak bola gajah" saat menghadapi Thailand dalam perebutan status juara grup. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Thong Nhat, Ho Chi Minh City, menunjukkan tempo yang lambat. Skor 2-2 hampir bertahan hingga akhir pertandingan, namun Thailand berhasil mencetak gol tambahan dan menutup laga dengan kemenangan 3-2. Gol bunuh diri yang dilakukan Mursyid Efendi menjadi titik balik yang tidak diinginkan. Belakangan, terungkap bahwa Indonesia sengaja kalah untuk menghindari pertemuan dengan Vietnam di semifinal. Keputusan ini menciptakan stigma yang sulit dihilangkan, dan meskipun peristiwa tersebut sudah berlalu, aib ini terus membayangi setiap kali Piala AFF digelar. Kisah ini menjadi pengingat akan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi oleh Timnas Indonesia di pentas sepak bola internasional.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan