Menakar Kekuatan Timnas Indonesia di Piala Dunia U-17 2023: Lini Depan Jadi Sorotan

Timnas Indonesia U-17 bakal menghadapi Ekuador di laga perdana Piala Dunia U-17 2023, Jumat (10/9/2023).

Diterbitkan 10 November 2023, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mengacu pada daftar nama pemain yang dirilis PSSI untuk Piala Dunia U-17 2023, Timnas Indonesia U-17 memang cuma mengantongi dua striker, yakni Arkhan Kaka (Persis Solo) dan Aulia Rahman (Persita Tangerang). Keduanya juga memiliki menit bermain yang terbilang masih minim di klub masing-masing.

Arkhan sendiri sejauh ini baru tampil dalam dua pertandingan Liga 1 2023/2024 bersama Persis dan belum menyumbang gol ataupun assists. Walau begitu, ia punya kontribusi cukup signifikan di level internasional berkat keberhasilannya mengoleksi masing-masing 2 dan 7 gol bagi Timnas Indonesia U-16 serta U-17.

Sementara itu, Aulia Rahman merupakan satu-satunya pemain hasil seleksi 12 kota yang berhasil tembus ke skuad Piala Dunia U-17 2023. Situs Transfermarkt mencatat Aulia Rahman saat ini merupakan bagian dari Persita Tangerang U-18 yang bergabung sejak awal tahun 2023.

Minimnya pengalaman berkompetisi duo striker Timnas Indonesia U-17 mau tak mau memunculkan kekhawatiran akan kemampuan Garuda Asia mencetak gol. Apalagi lini depan sering kali memang menjadi problem bagi Timnas Indonesia U-17 kala tampil di ajang internasional.

Amar Rayhan Brkic Bisa Jadi Solusi

Melihat situasi ini, Bung Kus menilai Timnas Indonesia U-17 perlu pandai-pandai memanfaatkan amunisi di sektor lain. Keberadaan penggawa diaspora Amar Rayhan Brkic, misalnya. Meski beroperasi di lini tengah, pemain Hoffenheim dinilai bisa memainkan peran yang mendukung striker di Piala Dunia U-17 2023.

"Saya berharap masuknya Amar itu bisa membantu membuat pilihan-pilihan di depan lebih banyak. Amar kan bisa main juga sebagai sosok yang mendukung striker, ya, sebagai second striker, sebagai gelandang serang. Kkelebihan dia di situ," papar Bung Kus.

"Kalau di belakang ini opsinya cukup banyak, di tengah juga belakangan agak lumayan. Akan tetapi, di depan itu memang tipis stok pemainnya, dan ini mudah-mudahan dipahami oleh pelatih dengan menyiapkan formasi yang lebih bisa memaksimalkan peran para gelandang."

"Ibaratnya begini, kekuatan tim ini bukan di depan. Ya sudah, kalau begitu kekuatan kita di mana? Kekuatan kita di belakang dan tengah. Kuatkan belakangnya, kuatkan tengahnya biar kekurangan di lini depan bisa diatasi oleh belakang dan tengah," tambah dia.

Kendati demikian, Bung Kus juga menilai Timnas Indonesia U-17 tak bisa memasang beban terlalu berat pada penggawa diaspora. Adapun selain Amar, Garuda Asia juga bakal mendapat bantuan dari pemain berdarah Indonesia-Brasil Welber Jardim yang kini bermain untuk Sao Paulo.

Secara teknis, keberadaa dua nama tersebut memang memberi bantuan besar buat Timnas Indonesia U-17. Pasalnya, pengalaman kompetisi mereka boleh dikata sedikit lebih advanced lantaran bermain di kawasan Eropa dan Amerika Selatan.

Kendati begitu, bukan berarti, Garuda Asia boleh langsung menggantungkan harapan untuk mengubah keseluruhan performa tim hanya pada Amar serta Welber.

"Kalau di usia muda ini kan sebetulnya hampir semua pemain pengalaman bertandingnya masih minim. Meskipun Welber katakanlah bermain di klub sekelas Sao Paulo, tetapi kompetisi U-17 kan tidak semasif kompetisidi senior, sehingga mungkin pengalaman dia juga masih terbatas."

"Sama halnya dengan Amar yang bermain di klub Jerman Hoffeinhem. Di kelompok usianya kan kompetisi belum semasif senior, sehingga kita juga tidak boleh memberi beban terlalu berlebihan kepada Welber dan Amar untuk bisa mengubah peta kekuatan, untuk bisa membuat Timnas Indonesia berubah menjadi tim yang luar biasa. Bebannya terlalu berat nanti buat mereka," ujar Bung Kus kepada Liputan6.com.

 

Butuh Lebih Banyak Pemain Berpengalaman

Lebih lanjut, Bung Kus tak menampik bahwa keberadaan dua penggawa diaspora memang punya efek positif buat Timnas Indonesia U-17. Hanya saja, ia menyayangkan kegagalan Garuda Asia menggaet lebih banyak pasukan sarat pengalaman seperti Welber dan Amar.

Menurut dia, taktik mendatangkan penggawa diaspora memang menjadi semacam shortcut untuk memperkaya amunisi. Namun sebetulnya, cara ini tak cuma bisa dilakukan dengan memanggil penggawa keturunan, tetapi juga lewat menghidupkan kompetisi usia muda di dalam negeri.

"Memang kita bersyukur mendapat tambahan dua jika (diaspora), meskipun kalau mau jujur, akan lebih bagus kalau kita bisa mendapat lebih dari itu. Pemain berpengalaman, ya, konteksnya. Bukan masalah diaspora, tetapi pemain yang berpelangalaman ikut kompetisi."

"Amar dan Welber kan pengalaman berkompetisinya di Eropa dan di Amerika Latin lumayan. Problemnya, di Indonesia ini tidak ada kompetisi. Jadi butuh pemain yang lebih banyak pengalaman berkompetisi, itu poinnya."

"Bukan masalah kualitas, bukan masalah diaspora, bukan masalah naturalisasi. Akan tetapi pemain kita ini di dalam negeri, pemain lokal, rata-rata tidak ikut kompetisi. Mungkin cuma Arkhan Kaka. Arkhan Kaka pun menit bermainnya di Persis Solo juga tidak banyak. Jadi memang problem kita, banyak pemain yang tidak mencicipi kompetisi dalam dua tahun terakhir," tandas Bung Kus.

 

Tak Kalah di Laga Perdana

Terlepas dari kekuatan skuad Timnas Indonesia U-17 secara umum, Bung Kus berharap Garuda Asia tak menelan kekalahan di laga perdana. Anak-anak asuh Bima Sakti harus bisa setidaknya menahan imbang Ekuador demi menjaga semangat dalam melakoni sisa dua pertandingan fase penyisihan grup.

"Grup kita ini tidak bisa dibilang grup ringan juga karena ini Piala Dunia, maka semua lawan itu sejujurnya berat. Indonesia kan tidak pernah ikut Piala Dunia, kemudian kita di kualifikasi ke Piala Asia saja kesulitan. Jadi sekarang tiba-tiba bermain di ajang Piala Dunia U-17, dengan materi pemain yang hampir sebagian besar sama dengan yang ikut kualifikasi Piala Asia, sehingga memang tantangannya cukup berat."

"Kita lihat bagaimana tim yang dianggap paling lemah di grup kita, Panama, itu bisa mengalahkan Bhayangkara U-19 dengan 1-0 begitu. Artinya, ini lawan yang kita anggap paling tidak berat nih dari segi nama besar negaranya. Jauhlah Panama itu dibandingkan sama Ekuador, sama Maroko juga masih cukup jauh. Akan tetapi mereka nyatanya bisa mengalahkan Bhayangkara U-19. Artinya nanti kita di Piala Dunia akan menghadapi lawan-lawan yang levelnya sebagian memang di atas kita. Jadi ini tantangan yang tidak mudah bagi Timnas Indonesia U-17 untuk menunjukkan permainan yang kalau bisa di atas standar mereka."

"Saya berharap lawan Ekuador, ya minimal jangan kalah lah, 1-1 atau 0-0 cukuplah buat saya. Jangan sampai kita memulai pertandingan dengan kekalahan karena itu akan memengaruhi mental di dua pertandingan berikutnya," tutup Bung Kus.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan