Mourinho, Seribu Hari Seribu kekacauan

Perang urat syaraf adalah trik yang dipercaya Mou untuk kesuksesan timnya. Pada gilirannya, tindakan yang menggunakan sentimen media massa itu memperburuk citranya.

Diterbitkan 22 Februari 2013, 02:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Lagi-lagi Jose Mourinho. Pelatih Real Madrid itu memang memiliki banyak sisi yang selalu dipergunjingkan. Sabtu, 24 Februari 2013, pria kelahiran Setubal, 26 Januari, 1963, itu, akan memimpin timnya bertandang ke markas Deportivo La Coruna di pekan ke-25 La Liga. Hari itu juga, tepat 1.000 hari Luso menginjakkan kakinya di Madrid.

Apa yang sudah diberikan Mou dalam 1.000 hari itu? Tentu saja gelar Piala Raja (2010/2011), Super Spanyol (2012), dan La Liga (2011/2012). Meski demikian, tiga gelar itu belum sebanding dengan sejumlah masalah yang ditimbulkannya. Harian Spanyol pro-Barcelona, El Mundo Deportivo, merangkum beberapa persoalan yang melingkari keberadaan Mourinho dalam 1.000 harinya.

Gagal Menghentikan Hegemoni Barcelona.
Usai membawa Inter Milan mengalahkan Bayern Muenchen di final Liga Champions 2010 di Santiago Bernabeu, Mourinho tak langsung pulang. Presiden Madrid, Florentino Perez, mengundangnya untuk sebuah pembicaraan besar: kontrak 16 juta euro dengan tujuan menghentikan dominasi Barca era Josep Guardiola.

Hingga hari keseribu, Mou memang sukses mempersembahkan gelar Piala Raja, Super Spanyol, dan La Liga. Namun target utama meruntuhkan dominasi Barca boleh dibilang gagal. Musim ini, Barca menjulang di pucuk klasemen sementara Mou terdiam di peringkat ketiga, terburuk dalam lima musim terakhir.

Tak Mendapat Simpati di Madrid dan Bernabeu.
Di klubnya sendiri, Mou tak bisa menyembunyikan kekecewaan karena ia tak pernah menjadi idola di stadion kebanggaan Los Blancos, Estadio Santiago Bernabeu. Kemenangan demi kemenangan yang terjadi di Bernabeu belum cukup bagi Madridista untuk menjatuhkan hati terhadap Mourinho. Mungkin karena sikap Mourinho yang kurang elegan di depan media massa dan cara timnya meraih kemenangan. Suporter menginginkan Madrid berjaya dengan wibawa, bukan dengan tuduhan permainan kotor dan kasar.

Belum Mempersembahkan La Decima
Hingga tahun ini, Madrid tercatat sudah sebelas tahun tanpa gelar di kompetisi Eropa. Mourinho datang ke Bernabeu dengan dua telapak

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

tangan yang terkepal: di dalamnya berisi gelar Liga Champions bersama FC Porto dan Inter Milan. Musim ini, peluang meraih Liga Champions masih terbuka. Namun tidak mudah mengingat duel pertama versus Manchester United di babak 16 besar Liga Champions di Santiago Bernabeu berakhir dengan skor 1-1.Prestasi yang Tak Sepadan dengan Belanja 180 Juta EuroPerez mengeluarkan duit lebih dari 180 juta euro untuk memuaskan petualangan Mourinho selama tiga musim terakhir. Dari sekian banyak rekrutan, mungkin hanya Angel Di Maria dan Mesut Ozil yang bisa dikatakan berhasil. Pemain seperti Kaka dan Nuri Sahin terbuang percuma. Yang terakhir, Fabio Coentrao (30 juta euro) dan Luka Modric (40 juta euro) belum menunjukkan sumbangan sepadan.Konflik Sesama ElitKeberadaan Mourinho bisa menyingkirkan pejabat lain yang dianggap tak berkesesuaian dengannya. Mantan pemain dan Direktur Olahraga Madrid, Jorge Valdano, adalah salah satu contoh. Yang terakhir, Zinedine Zidane berhenti untuk menjadi penasehat Mourinho. Kepergian Zidane meninggalkan kekosongan bagi keorganisasian klub secara keseluruhan. Kekuasaan BesarKekuasaan penuh atas ruang ganti adalah keistimewaan yang dimiliki Mourinho. Dengan fasilitas itu, Mourinho tak segan menolak tampil di depan pers. Yang paling mencolok adalah ketidakhadirannya di Gala Ballon D'Or 2012, 7 Januari lalu. Ia beralasan mempersiapkan latihan Madrid untuk Piala Raja. Padahal, Florentino Perez dan lima pemain Madrid yang termasuk dalam sebelas pemain terbaik pilihan FIFA (Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, Iker Casillas, Xabi Alonso, dan Marcelo) hadir di ajang tahunan itu.ProvokasiPerang urat syaraf adalah trik yang dipercaya Mou untuk kesuksesan timnya. Pada gilirannya, tindakan yang menggunakan sentimen media massa itu memperburuk citranya. Antara lain adalah aksi pencolokan mata pelatih Barcelona, Tito Vilanova, di leg kedua Piala Super Spanyol 2011 (saat itu Vilanova masih asisten Guardiola), perintah untuk sengaja mendapatkan kartu merah terhadap pemain dalam laga Madrid versus Ajax di Liga Champions 2010/2011, serta mempertanyakan keutamaan posisi Iker Casillas. (MD/Def)

Halaman
Show All
ervin.kumbang, DefTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan