Terasa Kesunyian di Qatar Usai Berakhirnya Piala Dunia 2022 yang Mengesankan

Qatar membuktikan dirinya mampu menyelenggarakan Piala Dunia 2022 dengan sukses. Turnamen yang di luar dugaan siapa pun mampu menyajikan kejutan demi kejutan

Diperbarui 21 Desember 2022, 10:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Qatar sukses menjadi penyelenggara Piala Dunia 2022 dan menepis keraguan banyak orang terhadap negara yang namanya kurang dikenal di sepak bola internasional. Penyelenggaraan turnamen dibumbui dengan gencarnya serangan terhadap pelaksanaan hak asasi manusia, larangan LGBT dan ketatnya hukum di sana.

Qatar juga gagal bicara banyak di Piala Dunia 2022. Di tengah badai protes penunjukan sebagai penyelenggara, mereka malah mencatatkan dirinya sebagai tuan rumah pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tersingkir setelah dua pertandingan. 

Menurut catatan yang dilansir ESPN, Afrika Selatan menjadi negara tuan rumah lainnya yang tersingkir di fase grup saat mereka menggelar Piala Dunia 2010. Namun, kala itu Afrika Selatan masih bertahan hingga laga ketiga, dan tersingkir dengan mencatat satu kemenangan dan satu hasil imbang.

Anak asuh Felix Sanchez bahkan dipastikan sudah tersisih setelah Grup A menyelesaikan dua putaran. Kekalahan 1-3 dari Senegal ditambah skor imbang Belanda vs Ekuador, membuat mereka secara matematis mustahil ke babak. Kesempatan meraih angka maksimal adalah tiga saat menghadapi Belanda. Namun, justru Qatar kemasukan dua gol saat bertemu tim Oranje.

Hasil ini membuat Qatar bernasib sama seperti Afrika Selatan pada 2010, yang juga terhenti di fase grup. Sebagai gambaran, tuan rumah biasanya memiliki rapor bagus di Piala Dunia. Mereka memanfaatkan keunggulan berupa jumlah suporter untuk melangkah jauh.

Namun, ada catatan lain yang membuat Qatar lebih buruk ketimbang Afsel. Mereka menjadi tuan rumah pertama yang menderita kekalahan pada penampilan perdana turnamen usai dipermalukan Ekuador, Minggu (20/11/2022). 

Piala Dunia 2022 nyatanya menghasilkan kejutan demi kejutan, diakhiri dengan final yang dramatis, ada yang menyebutnya terbaik sepanjang masa. Argentina dan Prancis menyajikan drama yang menggedor jantung.

 

 

Terbangun

Dua belas tahun lamanya Qatar mempersiapkan turnamen empat tahunan yang paling bergengsi itu. Even itu pergi dalam waktu 28 hari, membawa serta jutaan orang, nyanyian parau di jalanan dan semua isu.

Al Jazeera dengan puitis menggambarkan bagaimana warga Qatar bersikap setelah Piala Dunia dengan segala hiruk pikuknya sudah berakhir.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

“Keesokan paginya, Qatar terbangun dengan kesadaran Piala Dunia telah berakhir.” “Saya merasakan kesedihan yang luar biasa ketika saya masuk kerja pagi ini untuk melihat tempat ini begitu kosong,” kata Ahmed Salam, seorang penjaga toko di sebuah toko pakaian di Souq, kepada Al Jazeera. “Ada begitu banyak keaktifan di daerah ini. Kami hampir tidak punya waktu untuk duduk atau istirahat… tetapi suasananya luar biasa.” Lorong-lorong Souq Waqif yang populer di ibu kota, Doha, hanyalah bayangan dari diri mereka sendiri yang dipenuhi oleh orang Brasil, Argentina, Maroko, dan penggemar puluhan negara lain yang berpartisipasi. Salam, yang berasal dari India, mengatakan dia berharap turnamen besar seperti Piala Dunia FIFA diadakan “setiap tahun” di negara tersebut. “Satu-satunya tempat di luar India yang pernah saya kunjungi adalah Qatar. Sangat menyenangkan memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang dari seluruh dunia.”

Halaman
Show All
Yo Kavya, Fadjriah Nurdiarsih, AY YustiawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan