HEADLINE: Gegap Gempita Piala Dunia 2022 Qatar, Siapa Juara Perdana di Timur Tengah?

Banyak hal yang membuat Piala Dunia Qatar 2022 berbeda dari edisi-edisi sebelumnya.

Diterbitkan 19 November 2022, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tidak terasa, Piala Dunia 2022 akan segera berlangsung di Qatar. Panggung termegah bagi para pesepak bola papan atas itu siap memanjakan mata para pencinta bola di berbagai penjuru dunia mulai 20 November - 18 Desember 2022.

Ini kali pertama Piala Dunia berlangsung di Timur Tengah. FIFA selaku induk sepak bola dunia telah menunjuk Qatar sebagai tuan rumah. Negara di semenanjung Jazerah Arab itu berhasil mengalahkan calon kuat lainnya, yakni Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, dan Jepang.

Dari empat negara ini, hanya Australia yang belum pernah jadi tuan rumah Piala Dunia. Sisanya, sudah berpengalaman menggelar event akbar empat tahunan itu. Indonesia juga sempat ikut mengajukan diri, tapi proposal PSSI ditolak karena tidak mendapatkan izin pemerintah.

Pengumuman dilakukan pada 2 Desember 2010 lalu oleh Sepp Blatter saat masih jadi presiden FIFA. "Pemenang tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah Qatar," ujar Blatter membaca isi amplop di tangannya. Delegasi dari Qatar langsung bangkit. Mereka bersorak gembira, berangkulan dan sebagian tampak meneteskan air mata. Perjuangan meyakinkan FIFA tidak sia-sia.

"Terima kasih atas kesempatan ini, dan terima kasih karena sudah mengembangkan pertandingan ini. Terima kasih sudah memberi Qatar kesempatan. Kami tidak akan mengecewakan. Kalian akan bangga kepada kami dan Anda akan bangga kepada Timur Tengah. Ini janji kami," ujar HE Sheikh Mohammed bin Hamad Al-Thani, Ketua Delegasi Bidding Qatar 2022 dalam sambutannya usai penguman pemenang.

Sebagai negara kaya, Qatar sebenarnya punya segalanya untuk menggelar Piala Dunia 2022. Dengan total PDB Qatar mencapai USD146,4 miliar (2020), Qatar bisa membangun apa saja untuk kelancaran event ini.

Meski demikian, penunjukan Qatar tetap saja memicu resistensi. Cuaca panas jadi salah satu penyebabnya. Selain itu, ukuran Qatar juga dianggap tidak cocok untuk event sebesar Piala Dunia.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Blatter bahkan menyesali penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunai 2022. Menurut Blatter, komite eksekutif FIFA seharusnya memberikan kesempatan tersebut kepada Amerika Serikat. "Kami Komite Eksekutif FIFA sebenarnya sepakat bahwa Rusia harus mendapatkan Piala Dunia 2018.Setelah itu, Amerika Serikat jadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Itu akan menjadi isyarat perdamaian jika dua lawan politik lama jadi tuan rumah Piala Dunia secara bergantian," ujar Blatter dikutip Sky Sports. "Qatar negara yang terlalu kecil. Sepak bola dan Piala Dunia terlalu besar untuk Qatar. Saya ulangi, memilih Qatar adalah sebuah kesalahan," ujar pria yang tersandung kasus korupsi tersebut. Berkaca dari sejarah, kritik terhadap penunjukan tuan rumah Piala Dunia bukan kali ini saja terjadi. Pada edisi-edisi sebelumnya, hal ini juga biasa terjadi, seperti pada Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 lalu. Saat Piala Dunia pertama kali digelar di benua Afrika, tidak sedikit yang meragukannya. Benua yang selalu terjerembab dalam berbagai masalah kemanusiaan, seperti perang, kelaparan, dan kemiskinan itu dianggap bukan pilihan tepat menggelar event akbar sekelas Piala Dunia. Belum lagi angka kriminalitas yang tinggi di Afrika Selatan kian menambah suram wajah Piala Dunia 2010. Mundur lebih jauh lagi, penunjukkan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 juga tak luput dari cemooh. Bagaimana mungkin pentas sepak bola paling akbar di muka bumi digelar di negara yang tidak menyukai permainan 11 lawan 11 itu. Di AS, bisbol dan basket masih jadi olahraga paling populer. Namun di tengah gempuran kritik, kedua agenda ini berjalan sesuai rencana. Piala Dunia Afsel tetap menghadirkan kemeriahan dan drama-drama lapangan hijau yang melekat di benak para pencinta sepak bola dunia. Atau setidaknya, Anda tidak akan lupa dengan 'Waka Waka' yang jadi lagu resmi kala itu. Begitu juga dengan Piala Dunia 1994. Selain meriah, Piala Dunia juga meninggalkan jejak penting di Negeri Paman Sam. Piala Dunia AS merupakan cikal bakal munculnya Major League Soccer (MLS) yang belakangan menjadi pelabuhan bagi pemain-pemain kelas dunia di masa tua sebelum pensiun. Nah, terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 akan menghadirkan babak baru bagi perjalanan kejuaraan sepak bola empat tahunan itu. Lantas, mampukah Qatar memukau dunia?

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan