Dibenci Semua Pemain, Hanya Diego Forlan yang Mampu Taklukkan Jabulani di Piala Dunia 2010

Ada yang sama-sama dibenci oleh para pemain di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yakni bola resmi dari adidas yang bernama Jabulani.

Diterbitkan 24 Oktober 2022, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan merupakan turnamen dengan banyak momen yang tak terlupakan. Salah satunya adalah Vuvuzela, alat musik tiup khas Afrika Selatan atau biasa disebut Lepatata (dalam bahasa Tswana).

Vuvuzela yang ditiup fans Afrika Selatan dirasakan sangat mengganggu pemain karena suaranya yang keras memekakkan telinga.

Kapten Prancis, Patrice Evra bahkan mengeluhkan berisiknya Vuvuzela itu. "Kami tak bisa tidur karena Vuvuzela. Orang-orang di sini sudah membunyikannya sejak pukul 6 pagi," ujar Evra.

Sebaliknya, pelatih dan legenda Jerman Barat, Franz Beckenbauer justeru menilai Vuvuzela adalah hal yang luar biasa.

"Beberapa pihak mengkritik Vuvuzela karena suaranya yang berbeda, membuat suasana berbeda, tapi ini Afrika dan Vuvuzela milik Afrika. Saya mendatangi sejumlah stadion untuk menyaksikan beberapa pertandingan, dan saya pikir Vuvuzela adalah hal yang luar biasa," kata Beckenbauer.

Namun ada yang mendapat penilaian serupa dari seluruh pemain, yakni bola resmi Piala Dunia 2010 yang bernama Jabulani. Bola itu dirancang oleh adidas.

Sebelum Piala Dunia 2010 digelar di Afrika Selatan, adidas meluncurkan bola resmi. Itu hal biasa dan sudah mereka lakukan setiap turnamen akan digelar. Tapi, yang terjadi saat itu diluar dugaan. Jabulani menuai kecaman dari banyak pesepak bola dunia, khususnya kiper.

Jabulani adalah bola adidas ke-11 di Piala Dunia. Bola ini memiliki 11 warna yang dikatakan mewakili 11 pemain tim sepak bola serta 11 bahasa resmi dan 11 suku di Afrika Selatan. Namanya berarti "Untuk Merayakan" dalam Bahasa Zulu, salah satu dari 11 bahasa tersebut.

Jabulani menjadi musuh bersama para pemain, terutama kiper. Beberapa fitur teknis yang tertanam di Jabulani membuat Piala Dunia itu sedikit kurang meriah. Setidaknya untuk adidas dan kolaborator ilmiahnya di Loughborough University.

Laporan Aneh

Sejak 1960-an, sebagian besar bola standar terdiri dari 32 panel campuran segi enam dan segi lima. Tapi, adidas merombak pakem. Bola Piala Dunia 2006, Teamgeist, terbuat dari 14 panel melengkung, dan empat tahun kemudian Jabulani memotong angka itu menjadi hanya delapan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Pengurangan panel yang diikat secara termal daripada dijahit itu membuat bola lebih bulat dari sebelumnya. Tapi, ketika para pemain mulai menendangnya, segera menjadi jelas bahwa adidas telah membuat sebuah kesalahan fatal yang dikenang hingga bertahun-tahun kemudian. Beberapa minggu sebelum pertandingan pembukaan turnamen, laporan aneh mulai muncul tentang Jabulani. Itu muncul dari semua peserta Piala Dunia, termasuk oleh nama-nama populer. Xavi Hernandez contohnya. Gelandang legendaris Spanyol yang bisa melakukan operan dengan mata tertutup itu mengatakan bahwa bola banyak bergerak sehingga sulit dikendalikan Lain lagi komentar penjaga gawang Jepang, Eiji Kawashima. "Saya melihat bola 30 cm di hadapan saya tapi tiba-tiba bola menghilang. Saya tidak bisa menjelaskannya," ujarnya saat ditanya tentang gol Belanda yang seharusnya bisa ia selamatkan.   "Bola ini sangat menyulitkan untuk penjaga gawang dan juga kami para pemain," komentar striker Argentina, Lionel Messi.

Halaman
Show All
Yo Kavya, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan