Pembinaaan Bulu Tangkis Pakai Sport Science Dikenalkan di Audisi PB Djarum 2022

Audisi Umum PB Djarum 2022 juga diisi dengan peluncuran buku soal sport science yang bisa membuat pembinaan bulu tangkis Indonesia lebih efektif.

Diperbarui 19 Oktober 2022, 15:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mantan atlet dan pelatih legendaris bulu tangkis Indonesia, Basri Yusuf meluncurkan buku berjudul "Pembinaan Badminton Berbasis Sport Science" di sela-sela digelarnya Audisi Umum PB Djarum 2022 yang berlangsung di GOR Jati, Kudus, Rabu (19/10/2022). Ini buku serial yang terdiri dari enam buku yang mengungkapkan tahapan pembinaan pemain bulu tangkis atau badminton berdasarkan kronologi biologis.

Sport science sangat berpengaruh terhadap pembibitan maupun bekal bagi karier para atlet, selain bakat dan juga penguasaan teknik. Menurut Sofyan Basri, yang juga Ketua Pengprov PBSI Jawa Tengah, pelatihan berbasis sport science sangat penting untuk pembinaan atlet jangka panjang. Selain itu, metode ini juga mampu membantu pelatih mengeluarkan potensi terbaik dari para atlet bulutangkis yang mereka bina.

“Buku ini membedah mengenai pendekatan sport science, program pelatihan, kejuaraan, dan pemulihan berdasarkan kronologi biologis dalam tiga bagian, yaitu sebelum puber, pada saat puber dan setelah puber," kata Basri kepada wartawan.

"Di setiap pertumbuhan atlet itu harus dimaksimalkan secara keseluruhan sesuai dengan tahapannya, bukan kronologi usianya. Jangka panjang itu bisa dalam kurun waktu 10 tahun atau 10 ribu jam latihan.

Dia mengatakan banyak pelatih yang terburu-buru memberi pelatihan berat padahal tidak sesuai dengan kondisi biologis sang atlet. "Untuk jangka panjang ini tidak baik karena mungkin saat dewasa prestasi sang atlet malah menurun," ujar mantan pelatih Hariyanto Arbi ini.

 

Enam Tingkatan

Program pelatihan di buku ini dibagi ke dalam enam tingkatan berdasarkan kelompok usia. Melalui enam tahapan ini, Basri sekaligus menegaskan bahwa prestasi tidak dapat diraih dengan cara instan, namun melalui pembinaan jangka panjang. Penggunaan sport science membantu dalam menganalisa lebih banyak hal dan efekif bagi pembinaan.

Basri mengatakan, awal mula ide menulis buku ini muncul pada tahun 2005, ketika menetap di Singapura. Kala itu, ia membuat suatu diagram sederhana sebagai bahan evaluasi kepelatihan yang tepat untuk diterapkan.

Mantan atlet yang memulai karier sebagai atlet Pelatnas di tahun 1975 ini, menganggap bahwa diagram tersebut harus dikembangkan secara serius menjadi karya ilmiah. Namun, lantaran aktivitas yang cukup padat, ia akhirnya baru bisa memulai proses penggarapan buku dalam dua tahun terakhir.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

“Buku ini merupakan kristalisasi dari pengalaman saya sebagai pemain, pelatih sejak tahun 1980, pengurus, dan sekaligus trainer bagi para pelatih. Perjalanan panjang tersebut menginspirasi setiap kata yang tertuang dalam buku ini. Idealisme sekaligus kepedulian terhadap masa depan prestasi badminton Indonesia adalah keyakinan yang tidak bisa ditawar,” katanya.

Halaman
Show All
Defri Saefullah, Bogi TriyadiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan