Pencetak Gol Tercepat Piala Dunia dan Kehidupannya Sebagai Sopir Taksi

Hasan Sukur adalah legenda sepakbola Turki. Ia juga menjadi pencetak gol tercepat Piala Dunia, yang belum terpecahkan hingga saat ini. Keputusannya terjun ke dunia politik membuatnya jadi musuh pemerintah Turki. Kini ia jadi sopir taksi dan berjualan buku.

Diterbitkan 29 Agustus 2022, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Korea Selatan mencetak gol keduanya yang dari Song Chong-gug di masa injury time. Turki menduduki posisi ketiga dan Korea Selatan keempat.

Hasan Sukur memang jadi andalan Turki di Piala Dunia 2002 itu. Di level klub, Hakan Sukur merupakan ikon Galatasaray. Ia memenangkan delapan gelar liga bersama klub dari kota Istanbul tersebut dalam tiga periode berbeda antara 1993 dan 2008.

Terbaik

Tiga kali, Sukur menjadi top scorer Liga Turki dengan menorehkan 19 gol pada 1996-1997, 32 gol pada 1997-1998, dan 38 gol pada 1998-1999.

Torehan 249 gol pemain dengan julukan Banteng dari Bosphorus ini masih menjadi rekor di Super Liga Turki.

Ketajamannya merembet ke level kontinental. Hakan Sukur merupakan pemain Turki dengan raihan gol terbanyak di Liga Champions (22 gol).

Ia mencetak gol pertama di Liga Champions saat kontra Avenir Beggen (Luksemburg) pada Agustus 1994 dan menutupnya kontra Mlada Boleslav pada Agustus 2006.

Hakan Sukur juga menceploskan 11 gol di Piala UEFA dan 4 di Piala Winners.

Pada 1997, Hakan Sukur memenangi trofi IHFFS Top Division Goal Scorer 2019 edisi perdana.

Ia merupakan penyerang terbaik dari 60 kompetisi teratas di dunia versi Federasi Internasional Sejarah Sepakbola dan Statistik tersebut dengan catatan 38 gol dari 32 pertandingan pada 1996-1997.

Meski begitu Sukur tidak menikmati nasib baik seperti di tanah kelahirannya ketika mencoba melangkahkan kakinya di berbagai liga lainnya.

Ia pernah bergabung di Liga Italia Serie A bersama dengan Torino, Inter Milan, dan Parma serta di Liga Inggris bersama Blackburn.

Parlemen

 

Sukur hanya mencetak 9 gol dari 44 penampilan di Liga Italia bersama ketiga klub tadi, sementara ia hanya bermain 9 kali dan mencetak dua gol bersama Blackburn.

Sukur lalu pensiun dari lapangan hijau pada 2008, dan tiga tahun kemudian memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Ia terpilih menjadi anggota Parlemen Turki pada 2011, sebagai bagian dari partai AKP Erdogen mewakili distrik kedua di Provinsi Istanbul.

Namun, ia meninggalkan partai tersebut setelah hanya hanya dua tahun dan menempuh jalur independen.

Sukur yang dilahirkan pada 1 September 1971 di Adapazari, Sakarya, salah satu kawasan di barat laut negara Turki, dikenal dekat dengan Fethullah Gulen, seorang cendekiawan Muslim yang juga menjadi rival Erdogan.

Gullen bersama pendukungnya dituduh oleh Endorgen menjadi motor di balik usaha kudeta pada 2016 dan dicap sebagai gerakan teroris.

Sukur turut terkena imbasannya. Pemerintah Turki pada Februari 2016 mengeluarkan perintah penangkapan Sukur setelah ia dinilai menghina Presiden Erdogan di Twitter.

Pemerintah Turki menyebutnya sebagai sebagai "anggota buron Organisasi Teroris Fetullah (FETO)."

Sopir Taksi

Sukur kemudian melarikan diri dari Turki dan mengasingkan diri di Amerika Serikat.

"Saya tidak punya apa-apa lagi. Erdogan telah merampas semuanya: hak untuk merdeka, berekspresi, dan bekerja. Mereka juga menangkap ayah saya, rumah. Usaha, dan rekening banknya di Turki telah disita oleh pemerintah Erdogan." kata Sukur kepada media asal Jerman, Welt am Sonnt.

Ini bukan pertama kalinya Sukur berbicara tentang masalah ini. Pada 2018 ia mengatakan kepada New York Times: "Ini negara saya; Saya suka orang-orangnya, meskipun pandangan mereka tentang saya terdistorsi oleh media yang dikendalikan [pemerintah]."

Di Amerika Serikat ia membuka restoran di Palo Alto, sebuah daerah terkaya di Wilayah Teluk San Francisco.

Restoran itu lalu ditutupnya karena merasa mendapatkan terror dari Erdogan melalui kedatangan sekelompok orang yang memainkan music Dombra. Musik ini didaulat oleh partai AKP sebagai music aseli Turki.

Ditutupnya restoran itu membuat kehidupan Sukur makin sulit.

"Kini, saya menjadi sopir Uber dan menjual buku," tutur Sukur.

Ia berulang kali menolak segala tuduhan yang diberikan oleh pemerintah Erdogan.

"Saya dituduh sebagai kaki tangan sebuah upaya kudeta? Jika demikian, apa peran saya?"

Menjadi sopir taksi, Sukur menceritakan Sebagian suka dukanya, yang kadang tak terkait dengan pekerjaannya sebagai penyedia jasa.

“Seorang penumpang masuk ke mobil sekali dan berkata, 'Saya kenal Anda. Dan aku mencintaimu sebagai pemain, tapi aku harus keluar. Maaf, saya tidak ingin ada hubungannya dengan Anda. '

“Sebelum mencoba kudeta di Turki, saya bertemu dengan salah satu rekan senegara saya, seorang mahasiswa. Dia sendirian di jalan. Dia memintaku untuk selfie. Ketika dia kembali ke Turki, pihak berwenang menemukan foto itu di teleponnya. Dia ditangkap segera, menghabiskan 14 bulan di balik jeruji besi. Pihak berwenang di sana sengaja melakukannya. Dan sangat brutal..”

Sukur menceritakan semua itu dengan tatapan mata yang sedih.

“Mereka ingin saya dihapus, mereka ingin saya tidak ada,” ujarnya lirih. ***

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yo Kavya, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan