Kisah Robin Deakin dan 51 Kekalahan Beruntun yang Mendunia

Mike Tyson dan Floyd Mayweather Jr juga ikut membagikan kisah Robin Deakin ke publik.

Diterbitkan 25 Agustus 2022, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kecanduan Rasa Sakit

Seiring bertambahnya usia, kemampuan Deakin juga ikut meningkat. Dia akhirnya mengikuti kejuaraan amatir dan berhasil melangkah ke babak semifinal ABA Championships kelas welter ringan. Selain itu, Deakin juga mampu merebut medali perak dalam kejuaraan amatir Limassol Cup di Cyprus. 

 

Setelah melewati 76 pertandingan di amatir, Deakin lalu beralih ke tinju profesional tahun 2006. Di laga perdana, Deakin langsung merebut kemenangan angka atas Shaun Walton di York Hall, London. 

Namun hasil ini ternyata bukan awal cerita popularitasnya. Justru hasil pertandingan kedua melawan Eduards Krauklis di Wembley Arena yang melekat pada karier profesionalnya: runner up tinju abadi!

Ya, dalam laga itu Deakin kalah yang akhirnya terus berlanjut hingga ke partai-partai berikutnya. Sepanjang tahun 2007 hingga 2014, Deakin total mengalami 51 kekalahan beruntun hingga surat-surat kabar di Inggris menobatkannya sebagai petinju profesional terburuk sepanjang sejarah.   

Dewan Tinju Britania Raya kemudian mencabut lisensi bertinjunya demi alasan keamanan. Deakin belum menyerah. Dia kemudian mendapat izin dari otoritas di Jerman. 

"Saya kecanduan terhadap rasa sakit. Ini terdengar konyol, tapi saya suka hal-hal yang dihindari orang. Saya suka rasa sakit, saya suka berada di daerah antah berantah dan terjun ke sana dan mengalami kejadian yang buruk. Menang dan kalah sejatinya bukan masalah bagi saya," katanya.

"Setiap kali saya melawan petinju hebat, saya ingin terlihat ambil bagian. Menggelapkan diri, Suzi Wong selalu membuat peralatan bertinju saya terlihat bagus. Saya selalu masuk ring dengan penampilan terbaik, tapi keluar menjadi yang kedua," beber Deakin menambahkan. 

 

Akhir Penantian Panjang

 

Penantian panjang Deakin akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2015 dia mampu memetik kemenangan kedua sepanjang kariernya usai mengalahkan petinju Latvia, Deniss Kornilovs. Uniknya, kemenangan diraih di lokasi yang sama saat dia merebut kemenangan perdananya 9 tahun lalu. 

Tak ada sabuk yang diperebutkan. Namun Deakin sangat emosional menyambut kemenangan itu. 

Air matanya tumpah usai pertandingan. "Saya tidak tahu apakah itu karena senang, saya pikir itu lebih kepada rasa lega. Seperti ada beban yang baru saja lepas dari pundakku," beber Deakin. 

 

Kemenangan kedua Deakin juga mendunia setelah mendapat sorotan dari dua legenda hidup tinju pro, Mike Tyson dan Floyd Mayweather Jr. Keduanya ikut berbagi cerita mengenai pengalaman Deakin sebagai penyandang disabilitas yang akhirnya bisa tampil di atas ring melawan petinju-petinju normal. 

"Itu sangat luar biasa, kemenangan saya akhirnya bisa mendunia," beber Deakin. 

Deakin akhirnya gantung sarung tangan pada tahun 2018, mengakhiri karir tinju profesionalnya dengan hanya dua kemenangan dari 55 pertarungannya. Tapi dia belum selesai bertarung.

 

Naluri Bertarung

Cobaan hidup kembali menimpanya. Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap. Dalam kondisi ini, dia mulai depresi dan mencari pelarian dengan mengikut pertarungan tinju brutal tanpa sarung tangan. 

Beruntung, dia tidak bertahan terlalu lama di dunia ini. Dia memutuskan mundur setelah meraih 1 hasil draw dan 3 kali kalah. Dia kini menjalani kehidupan yang menyenangkan bersama kekasihnya Kristy. 

Naluri bertarung Deakin belum sepenuhnya luntur. Meski tidak serutin dulu, Deakin masih menjalani satu-dua pertandingan. Bulan lalu dia secara mengejutkan kembali lagi bertarung melawan Ben Hatchett. Hasilnya seperti biasa, Deakin kalah. Meski demikian, Deakin tetap merasa bangga.

"Saya selalu diberitahu bahwa saya tidak akan menjadi petinju oleh guru di sekolah karena kecacatan saya. Saya ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa Anda bisa melakukannya jika Anda mau," kata Deakin. "Menang atau kalah aku tidak peduli, aku hanya suka bertarung." bebernya. 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan