Terjangkit Covid-19, Ketua IPC Andrew Parsons Lewatkan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022

Andrew Parsons menjadi pejabat tinggi pertama yang dipastikan absen di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 akibat terjangkit COVID-19.

Diperbarui 05 Februari 2022, 12:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Presiden Komite Paralimiade Dunia (IPC), Andrew Parsons, dipastikan absen di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Parsons batal bertolak ke Negeri Tirai Bambu setelah dinyatakan terjangkit COVID-19.  

Dilansir dari Insidethegames, Parsons menjadi pejabat tinggi olahraga pertama yang absen karena COVID-19. Lewat akun Twitter-nya, Parsons pun menyampaikan selamat berjuang bagi para atlet. 

"Saya tidak bisa menghadiri Olimpiade Musim Dingin karena baru saja dikabarkan positif COVID-19. Selamat berjuang semua Olimpian, IOC, dan Beijing 2022," tulis Andrew Parsons.

Pria asal Brasil itu juga menyatakan ingin fokus kepada pemulihan agar bisa hadir saat Paralimpiade Musim Dingin 2022. Ajang ini akan berlangsung Maret 2022 setelah Olimpiade Musim Dingin berakhir. 

Sementara itu, Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 bakal berlangsung mulai 4 hingga 20 Februari 2022. Sebanyak 91 negara bakal berpartisipasi pada kejuaraan multicabang empat tahunan itu. 

 

WHO Optimistis

Pandemi COVID-19 yang belum berakhir, plus kehadiran varian Omicron telah menimbulkan kekhawatoran terkait keamanan Olimpiade Musim Dingin kali ini. Hanya saja, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) optimistis kegiatan ini tidak bakal memperburuk situasi pandemi yang ada saat ini. 

Direktur Kedaruratan WHO, Michael Ryan mengatakan, badan kesehatan PBB telah bekerja dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dalam menyelenggarakan Olimpiade yang aman. 

“Pihak berwenang China memiliki tindakan yang sangat ketat, dan mereka telah merilis serangkaian buku pedoman yang berbeda. Kami terus meninjau pedoman itu dengan IOC,” katanya dalam jumpa pers, Kamis (271/2022) seperti dilansir dari France24.com.

“Saya yakin dengan informasi yang kami miliki, bahwa langkah-langkah yang diterapkan untuk Olimpiade sangat ketat dan sangat kuat dan kami, pada titik ini, tidak melihat peningkatan risiko penularan penyakit dalam konteks tersebut,” Ryan menambahkan. 

Sejarah Olimpiade Musim Dingin

Olimpiade musim dingin telah berlangsung sejak 1924. Peserta yang ambil bagian tidak sebanyak Olimpiade musim panas karena tanpa sebagian besar negara yang berada di daerah khatulistiwa.

Olimpiade musim dingin berlangsung setiap empat tahun. Awalnya, kejuaraan ini digelar bersamaan dengan Olimpiade musim panas. Hanya saja, sejak Olimpiade Musim Dingin Norwegia 1994 lalu, penyelenggaraannya diubah menjadi dua tahun setelah perhelatan Olimpiade Musim Panas.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Norwegia jadi negara tersukses di Olimpiade Musim Dingin dengan 8 gelar. Uni Soviet menyusul di urutan kedua dengan 7 gelar. Jerman berada di urutan ketiga dengan 3 gelar disusul Rusia dengan 2 gelar. Sementara Amerika Serikat, Swedia, Jerman Barat, dan Kanada, masing-masing satu gelar. Olimpiade Musim Dingin mempertandingkan olahraga-olahraga yang berlangsung di atas es atau salju. Setidaknya ada lima cabang olahraga orgininal yang kemudian dipecah menjadi sembilan nomor. Kelima cabor tersebut adalah, bobsleigh, curling, hoki es, ski Nordik, dan skating. Ski nordik kemudian dipecah menjadi patroli militer, ski lintas alam, dan gabungan nordik dan ski lompat. Sementara cabang skating juga dibadi ke dalam dua nomor, yakni disiplin figure skating dan speed skating. Seiring perjalanan waktu, cabang-cabang olahraga ini kembali bertambah. Saat ini setidaknya terdapat 15 jenis olahraga yang dipertandingkan pada Olimpiade Musim Dingin. Seperti halnya Olimpiade Musim Panas, Olimpiade Musim Dingin juga sempat terhenti oleh Perang Dunia I dan II. Selain itu, Perang dingin juga pernah menjalar ke kejuaraan ini saat Uni Soviet ambil bagian pertama kali tahun 1956. Ketengangan antara blok Barat dan Blok Timur sangat terasa di setiap arena. Uni Soviet yang melihat peluang dalam menyebarkan ideologinya mati-matian dalam mempersiapkan atletnya agar bisa bersaing di setiap cabang olahraga yang dipertandingkan . Tidak hanya mengirimkan pelajar, pegawai, dan tentara, Uni Soviet juga mengirim atlet profesional. Sementara saat itu, negara-negara lain termasuk dari blok Barat hanya diperkuat oleh atlet amatir.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan