Pernah Jadi Korban Perundungan, Canelo Alvarez Kini Juara Dunia Tinju dengan Harta Berlimpah

Saul Canelo Alvarez pernah menjadi korban perundungan saat masih kecil.

Diterbitkan 09 November 2021, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Saul Canelo Alvarez menjadi juara sejati pertama tinju kelas menengah super usai memetik kemenangan atas Caleb Plant di Las Vegas, AS, akhir pekan lalu. Dalam duel ini Canelo Alvarez menang TKO ronde ke-11.

Bertarung di MGM Arena, Alvarez mengawinkan tiga gelar miliknya, yakni WBA, WBC, dan WBO dengan sabuk juara IBF yang sebelumnya dipegang Plant sejak 2019 lalu. Kemenangan ini juga sekaligus menempatkan Alvarez sebagai petinju keenam yang berhasil menggabungkan keempat gelar tersebut dalam satu kelas sejak badan tinju dunia WBO mulai diperkanalkan pada tahun 1988 yang lalu. 

Dia mengikuti jejak juara sejati kelas welter ringan, Josh Taylor, dan mantan bintang kelas penjelajah dan sekarang juara kelas berat unifikasi, Oleksandr Usyk, serta petinju lainnya seperti Terence Crawford, Bernard Hopkins dan Jermain Taylor. "Saya bangga menjadi satu dari enam itu," katanya.

Seperti dilansir dari Standar.co.uk, ini merupakan tonggak baru bagi perjalanan karier Alvarez di ring tinju profesional. Sebelumnya, dia juga sukses menjadi juara dunia di empat kelas berbeda. 

Sabtu lalu adalah kemenangan ke-57 Alvarez sepanjang kariernya. Terjun ke tinju profesional sejak usia 15 tahun, Alvarez hanya menderita satu kekalahan saat bertemu Floyd Mayweather Jr, 2013. 

 

 

 

Masa Kecil Canelo

Alvarez berasal dari Meksiko. Dalam sebuah wawancara, dia mengaku lahir di pinggiran kota Guadalaraja, Jalisco. Keluarganya berasal dari Los Reyes, Michoacán. Pada usia 5 tahun, Alvarez pindah bersama keluarganya ke rumah yang ditempati saat ini di Juanacatlán, Jalisco.

Alvarez merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara. Tinggal di daerah peternakan, dia sudah belajar cara menunggang kuda sejak belia. Kegiatan ini masih terus dilakukannya hingga kini.

Di keluarganya, Canelo Alvarez bukan satu-satunya petinju. Tiga kakaknya juga menggeluti olahraga adu jotos tersebut. Salah satunya merupakan mantan juara dunia WBA interim, Rigoberto Alvarez.

Darah juang tentara-tentara Irlandia diduga kuat mengalir dalam diri Alvarez. Ini tidak lepas dari rambutnya yang berwarna merah. Alvarez sendiri dalam bahasa Spanyol merupakan julukanbagi orang-orang dengan rambut seperti itu. Dan di Meksiko, pemilik rambu seperti ini umumnya adalah tentara Irlandia yang berjuang untuk Meksiko di Batalyon Saint Patrick selama Perang Meksiko-Amerika. "Mungkin saja leluhurku memang ada orang Irlandia," kata Alvarez.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Meski demikian, warna rambutnya membuat Alvarez menjadi korban perundungan di masa kecilnya. Teman-temannya mengolok-olok dia dengan sebutan "Jícama con Chile", yang kalau diterjemahkan menjadi jicama dengan bumbu cabe, salah satu cemilan yang cukup populer di Meksiko saat itu. Layaknya petinju pada umumnya, Alvarez mengawali karier dari amatir. Dia mulai mengenakan sarung tinju saat berusia 13 tahun tidak lama setelah menyaksikan debut kakaknya di tinju profesional. Kariernya terbilang mulus dengan 44 kali kemenangan dan dua kali kalah. Pada usia 15 tahun, dia kemudian beralih ke tinju profesional dan mulai mengumpulkan satu per satu gelar juara dunia. Sepanjang kariernya, Alvarez bertarung di lima kelas berbeda, mulai dari welter, menengah ringan, menengah, menengah super, dan kelas berat ringan. Dia kemudian berhasil merebut gelar juara dunia di empat kelas berbeda, mulai dari menengah ringan hingga berat ringan. Dan kemenangan TKO atas Plant mengantarkan petinju 31 tahun itu menjadi juara sejati pertama untuk kelas menengah super.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan