Bola Ganjil: Aksi Tanpa Malu Yugoslavia dalam Pengaturan Skor

Pengaturan skor ada di mana-mana. Praktik korupsi dalam olahraga, khususnya sepak bola, sulit dihindari karena hasrat segelintir orang mencari keuntungan.

Diterbitkan 07 Juni 2021, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
>Hasil: 4-0

Vojvodina vs Dinamo Zagreb

Dengan Vojvodina sudah terdegradasi, Dinamo Zagreb butuh kemenangan meyakinkan demi mendapat tiket kualifikasi Piala UEFA.

Hasil: 1-7

Sutjeska vs Buducnost

Hasil imbang membantu kedua tim menghindari degradasi. Hasil imbang dengan skor besar akan memperbesar kans mereka mewujudkan misi tersebut. Pasalnya, produktivitas jadi kriteria kedua untuk membedakan setelah poin dan selisih gol.

Hasil: 5-5

Hajduk Split vs Dinamo Vinkovci

Hajduk wajib menang untuk mengamankan tiket Piala UEFA. Sementara striker Dinamo mesti mencetak tiga gol demi menjadi top skor liga yang akan membantu proses negosiasi transfer ke klub Italia, Empoli.

Hasil: 5-3, Cop mencetak hattrick

Velez Mostar vs OFK Belgrade

OFK membutuhkan kemenangan demi memperbesar kans bertahan di kasta tertinggi. Sedangkan Velez mantap duduk di peringkat tiga dan punya rekor impresif di kandnag.

Hasil: 2-3

Celik vs Rijeka

Rijeka membutuhkan satu angka untuk lolos Piala UEFA musim depan. Celik juga membutuhkan poin serupa demi menghindari degradasi.

Hasil: 1-1

Sementara dua pertandingan lain, Pristina vs Vardar 0-0 dan Osijek vs Sloboda Tuzla 2-1, dianggap wajar karena keempat tim yang bertanding tidak memiliki kepentingan.

Protes Partizan

Tidak sampai sepekan berselang, Sajber memutuskan hasil seluruh pertandingan batal dan diulang. Selain itu, tim yang dicurigai akan memulai musim berikutnya dengan hukuman minus enam angka.

Akhirnya 10 hari kemudian seluruh tim dijadwalkan kembali bertanding. Namun Partizan menolak.

"Mustahil kami bermain lagi. Kami adalah juara. Pemain kami sudah berlibur musim panas," tulis keterangan resmi klub. "Mengikuti laga ulangan sama saja kami mengakui terlibat pengaturan skor. Kami tidak melakukannya."

Sajber bersikeras dengan keputusannya. Dia meminta Partizan mengajukan keberatan formal ke otoritas. Partizan menerima tantangan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, mereka sampai mengirim surat ke Mahkamah Konstitusi dan Pengadilan Buruh.

Namun, dengan menolak bermain, Partizan ditetapkan walkout (WO) dan kalah 0-3. Red Star juga tumbang 1-2 dari FK. Namun, mereka mendapat hasil yang cukup untuk jadi juara. Semula kalah minus satu gol dari Partizan, Red Star kini unggul plus satu gol.

Motif Terselubung

Insiden ini mengawali sengketa panjang. Publik semula menganggap Sajber sebagai revolusioner karena menegakkan keadilan dan memerangi korupsi. Meski begitu, dukungan perlahan berkurang. Dia dianggap bermain politik dan memiliki motif terselubung.

Partizan kemudian tampil di Piala UEFA musim berikutnya. Mereka langsung disingkirkan Borussia Monchengladbach pada babak pertama.

Di pentas domestik, vonis pengurangan enam angka juga membuat mereka harus merelakan gelar ke Vardar Skopje yang bebas penalti. Partizan hanya tertinggal satu poin.

Sementara pertarungan di hadapan hukum terus berlanjut. Partizan bisa tersenyum karena Pengadilan Konstitusi dan Pengadilan Buruh menganulir keputusan Sajber karena kurangnya bukti. Partizan akhirnya dianugerahi gelar 1986 plus 1987.

Sajber mengundurkan diri menyusul keluarnya keputusan hukum. Dia terus kehilangan dukungan hingga akhirnya terisolasi. Sajber meninggal akibat kanker pada 2003. Rumor menyebut dirinya terlibat penyelundupan perhiasan di hari tua.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan