Bola Ganjil: Kontrak 1 Laga Awali Melesatnya Gheorghe Hagi

Sebelum bersinar bersama Rumania di Piala Dunia 1994, ada kisah unik melibatkan karier Gheorghe Hagi.

Diterbitkan 11 Mei 2021, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lahir pada 5 Februari 1965 di Sacale, wilayah administratif kecil di Constanta, Gheorghe Hagi dikenal sebagai pesepak bola terbaik sepanjang sejarah Rumania. Tampil di tiga edisi Piala Dunia, membela Barcelona dan Real Madrid, serta jadi legenda di Galatasaray, sosok yang kemudian dijuluki Maradona dari Karpatia ini merupakan salah satu pemain terdepan pada 1990-an.

Namun, perjalanan Hagi yang kerap terlupakan sebenarnya hadir satu dekade sebelumnya.

Hagi memulai karier di tim lokal junior Farul Constanta. Dia menghabiskan lima musim di sana setelah bergabung di usia 10 tahun.

Talentanya menarik perhatian pemandu bakat Federasi Sepak Bola Rumania (FRF). Dia diboyong ke Bucharest untuk membela Luceafarul Bucuresti, tim junior yang sengaja dibentuk bagi talenta berbakat dan mengasah mereka berkembang bersama.

Menghabiskan dua tahun di sana, Hagi kembali ke Constanta. Dirasa siap tampil di level tertinggi, dia kembali ke ibu kota pada umur 18 tahun dan memperkuat Sportul Studentesc.

Hagi mencetak 62 gol dari 118 pertandingan selama empat tahun bersama Sportul. Rekor impresif yang menarik perhatian klub terdepan Rumania Steaua Bucuresti. Namun, kepindahannya kala itu mendominasi pemberintaan media setempat.

Saksikan Video Berikut Ini

Kontrak Unik

Steaua dan Dinamo Bucuresti bersaing untuk mendominasi sepak bola di Rumania. Steaua disokong militer, sedangkan Dinamo didukung polisi rahasia.

Dinamo menancapkan hegemoni pada 1960-an dan 1970-an. Namun, kedatangan Valentin Ceausescu, putra diktator rumania Nicolae ke Steaua pada 1983 mengubah segalanya.

Steaua menjadi juara liga lima musim beruntun, plus empat gelar piala domestik. Mereka juga membukukan rekor dunia tidak terkalahkan dalam 116 pertandingan.

Ros-Albastrii juga sukses menjadi juara Eropa dengan memenangkan Piala Champions 1986. Mereka menalukkan Barcelona di final melalui adu penalti.

Meski komposisi tim sudah kuat, Ceausescu tetap menginginkan Hagi. Mereka mengikatnya dengan kontrak unik yang hanya berlaku untuk satu pertandingan: Piala Super Eropa melawan Dynamo Kyiv.

Bersinar di Steaua

Manuver Steaua berbuah manis. Hagi mencetak satu-satunya gol penentu kemenangan dan koleksi prestasi Steaua bertambah.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sesuai kesepakatan, sang pemain semestinya kembali ke Sportul. Namun Steaua menyadari potensi Hagi dan enggan kehilangan. Mereka pun merekrutnya dengan status permanen. Steaua bahkan sama sekali tidak membayar uang transfer ke Sportul karena sepak bola Rumania masih berstatus amatir. Bagi pemuda berusia 22 tahun, situasi seperti ini bisa memengaruhi psikologis dan penurunan performa. Tapi tidak bagi Hagi. Dia mencatat periode terproduktif sepanjang karier. Bersama Steaua, total Hagi mencetak 88 gol dari 118 laga di seluruh kompetisi. Dia membawa tim memenangkan tiga titel liga, dua piala domestik, serta tentunya gelar Piala Super Eropa. Sayang Hagi urung menjuarai Piala Champions. Meski lolos ke final 1989, Steaua harus mengakui keunggulan AC Milan arahan Arrigo Sacchi.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan