Mengenal 2 Tokoh Revolusi Kuba yang Temani Diego Maradona Hingga ke Liang Lahat

Diego Maradona meninggal dunia di usia 60 tahun pada Rabu (25/11/2020).

Diterbitkan 27 November 2020, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Diego Maradona merupakan maestro sepak bola yang pernah ada. Tak terbantahkan. Kemampuannya mengolah si kulit bundar nyaris belum ada yang mampu menyamai. Jenius, bertenaga, dan berani. Ketiganya menjadikan Maradona seperti peluru yang dengan mudah menembus pertahanan lawan. 

Namun kebintangan Maradona tidak hanya lahir dari statistik gol dan trofi yang diraihnya. Nama besarnya tumbuh seiring kehidupan di luar lapangan yang pernuh warna, termasuk sikap politik. 

Semasa hidupnya, Maradona dikenal sangat dekat dengan kelompok sayap kiri yang berkuasa di Amerika Latin. Negara komunis Kuba, bahkan ibarat rumah kedua bagi mantan pemain Napoli itu. 

Di awal 2000, Maradona pernah menetap empat tahun di sana saat menjalani terapi ketergantungan terhadap narkoba. Dalam sebuah wawancara, Maradona mengaku sangat nyaman tinggal di Kuba. Bahkan rumor menyebutkan Diego Maradona sampai punya keturunan di negeri cerutu itu. 

"Saya merasa seperti orang Kuba. Mereka telah memberi saya banyak cinta selama saya sakit dan fakta hari ii saya masih bisa bangun pagi dan berolahraga, berbicara dengan Anda, dengan saudara-saudara saya atau melakukan wawancara, saya berhutang banyak kepada Fidel (Castro)," katanya saat diwawancara mengenai kematian Fidel Castro pada 2016 seperti dilansir dari France24.

Ya, sosok Fidel Castro lah yang mengawali cinta Maradona kepada Kuba. Mereka pertama kali bertemu pada tahun 1987 atau setahun setelah Argentina merebut Piala Dunia 1986. Hubungan keduanya semakin dekat dan mereka beberapa kali bertemu setelah itu. Selama menjalani rehabilitasi di Havana, pandangan politik Fidel semakin dalam tertancam di benak pesepak bola kidal itu. 

 

Saksikan juga video menarik di bawah ini

Siapa Fidel Castro? 

Fidel Castro merupakan presiden terlama yang memimpin Kuba. Tercatat, sejak terpilih pada tahun 1976, Castro yang menyandang gelar sarjana hukum itu memerintah hingga tahun 2008. Castro kemudian lengser dan posisinya kemudian digantikan oleh adiknya, Raul Castro hingga asat ini.

Castro merupakan tokoh revolusioner Kuba saat menumbangkan rezim diktator Fulgencio Batista. Sempat dipenjara akibat kegagalan penyerangan Moncada Barracks, Castro sempat melarikan diri di Meksiko dan membentuk gerakan 26 Juli bersama adiknya, Raul Gonzales dan Ernesto 'Che' Guevara.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Fidel dan kroninya dikenal memiliki idiologi Marxist–Leninist. Mereka kemudian berhasil merekrut revolusioner lain dan mulai melancarkan serangan secara gerilya terhadap pemerintahan Batista dari pegunungan Sierra Maestra. Gerakan ini akhirnya sukses menumbangkan Batista pada 1959. Namun perjuangan Castro yang akhirnya diangkat sebagai perdana menteri belum berakhir. Konfliknya dengan Amerika Serikat kian meruncing dan ditandai dengan embargo ekonomi yang dilancarkan ke negaranya. Invasi Teluk Babi yang dilancarkan Amerika Serikat dengan mengirim para kriminal sebagai tentara pada tahun 1961 semakin memperuncing ketegangan kedua negara. Castro bersama tentaranya berhasil menggagalkan misi itu dan membalasnya dengan memberi izin kepada Uni Soviet untuk menempatkan senjata nuklirnya di Kuba. Sikap ini kemudian melahirkan perang dingin 1962. Di luar perjalanan politik yang berliku, Castro dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Selain baseball yang menjadi olahraga populer di Kuba, Castro juga ternyata menyukai sepak bola. Kedekatannya dengan Maradona membuat hubungannya dengan Castro tidak hanya diwarnai dengan perbincangan tentang politik saja. Seperti dilansir dari BBC, semasa hidupnya, Castro sering menelepon Maradona di pagi hari untuk berbincang politik dan olahraga. Bagi Maradona, Fidel adalah ayah keduanya.

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan