Bola Ganjil: Patah Hati Pertama Bayern di Liga Champions, Bukan karena MU

Simak cerita kekecewaan Bayern Munchen di final Liga Champions pada 1987.

Diterbitkan 21 Oktober 2020, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang menganggap final Liga Champions 1999 sebagai aib terbesar sepanjang sejarah Bayern Munchen. Unggul 1-0 hingga 90 menit, raksasa Jerman itu akhirnya tumbang akibat dua gol Manchester United di injury time.

Nyatanya mimpi buruk itu hanyalah ulangan dari pengalaman horor serupa yang kerap dilupakan publik. Momen tersebut hadir pada laga puncak 1987 ketika kompetisi masih bernama Piala Champions.

Bayern Munchen menghadapi FC Porto sebagai favorit berbekal reputasi dan capaian menjadi juara ganda Jerman semusim sebelumnya.

Arsitek Bayern Munchen saat itu adalah Udo Lattek yang berada di awal periode kedua bersama klub. Pada masa kerja pertama di Bavaria pada 1970-1975, dia sukses mempersembahkan tiga gelar Bundesliga dan Piala Champions 1974.

Lattek meninggalkan Bayern Munchen pada Januari 1975. Sempat mengasingkan diri, dia pergi ke Borussia Monchengladbach dan membawa klub memenangkan dua gelar liga, masuk final Piala Champions 1977, serta gelar Piala UEFA 1999.

Setelah gagal di Borussia Dortmund, Lattek hengkang ke Barcelona dan merebut Piala Winners 1982. Capaian itu membawanya meraih prestasi unik sebagai pelatih yang memenangkan tiga kompetisi Eropa.

Namun, posisinya di Camp Nou melemah akibat friksi dengan Diego Maradona dan dirinya memutuskan kembali ke Bayern Munchen.

Saksikan Video Bayern Munchen Berikut Ini

Perbandingan Skuat

Empat tahun berselang, Lattek kembali di puncak sepak bola Eropa dan berkesempatan memenangkan Si Telinga Besar untuk kali kedua.

Optimisme membayangi. Meski kapten Klaus Augenthaler dilarang bemain serta duo Roland Wohlfarth dan Hans Dorfner cedera, Bayern Munchen masih memiliki banyak bintang. Norbert Eder, Lothar Matthaus, Dieter Hoeness, dan Andreas Brehme merupakan pilar di klub dan timnas.

Bayern Munchen juga punya Jean-Marie Pfaff, saat itu dianggap sebagai kiper terbaik dunia.

Di seberang berdiri FC Porto. Tim asal Portugal ini kehilangan striker sekaligus kapten Fernando Gomes serta bek tengah Lima Pereira. Walau juga punya banyak pemain berkualitas, kualitas mereka tidak semegah penggawa Bayern Munchen.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Lattek akan adu strategi melawan Artur Jorge, pelatih yang menimba ilmu di Jerman Timur. Namun, tidak seperti Lattek, Jorge harus mulai dari bawah sebelum mendapat pekerjaan di klub top. Dia menangani Vitoria de Guimaraes, Belenenses, dan Portimonense sebelum FC Porto meminangnya pada 1984.

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan