Bola Ganjil: Kutukan 100 Tahun Penyintas Holocaust untuk Mantan Tim

Simak kisah Bela Guttmann, sosok di balik sukses dan nestapa SL Benfica di panggung Eropa.

Diterbitkan 17 September 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bela Guttmann bukan pelatih sepak bola biasa. Ada dua kutipannya yang menjadi legenda dan terbukti kebenarannya. 

Pertama menyangkut durasi kerja. Guttmann menyebut pelatih tidak boleh bekerja di satu tempat terlalu lama.

Jika ada yang demikian, sosok berkebangsaan Hungaria tersebut menilai yang bersangkutan bakal kesulitan merebut prestasi karena semakin besarnya tantangan. "Pada musim pertama, sang pelatih bisa bekerja tenang. Periode kedua lebih sulit. Sementara kampanye ketiga adalah fatal," ungkapnya.

Pandangan Guttmann terbukti tepat. Jose Mourinho kerap terpuruk di musim ketiga bersama sejumlah tim yang dipimpinnya. Pep Guardiola juga letih setelah terlalu lama menangani Barcelona. 

Guttmann juga menjalankan sendiri filosofi tersebut. Dia maksimal bekerja dua tahun bersama 17 klub sejak menjadi pelatih pada 1933.

Beberapa nama besar yang pernah ditanganinya dalam periode itu adalah AC Milan, Sao Paulo, dan FC Porto. Sebelum akhirnya Guttmann tiba di Estadio da Luz untuk menakhodai SL Benfica pada 1960.

Saksikan Video Benfica Berikut Ini

Kemenangan Beruntun Berbuah Petaka

Guttmann membawa Benfica mempertahankan status juara Portugal pada musim pertamanya. Selain itu, dia juga membantu As Aguias memenangkan Piala Champions (cikal Liga Champions). Benfica pun menjadi klub kedua yang menguasai Eropa setelah Real Madrid menguasai lima edisi pertama.

Prestasi itu jadi modal baginya di kampanye berikut. Gelar liga lepas, namun Benfica memenangkan Piala Portugal. Guttmann juga sukses mempersembahkan titel Piala Champions kedua.

Pemain andalannya ketika itu adalah Mario Coluna, Jose Aguas, dan tentunya Eusebio. The Black Panther mencetak dua gol di final Piala Champions 1962 ke gawang Real Madrid dan membawa timnya menang 5-3.

Prestasi itu meyakinkan Guttmann untuk mencoba tinggal di Benfica dan melakoni musim ketiga. Namun, dia juga meminta bonus yang dijanjikan manajemen atas prestasi yang diraih.

Namun, direksi Benfica ingkar. Guttmann kemudian menyumpahi Benfica. Tidak ada yang tahu kalimat persis yang diucapkannya. Namun, banyak yang mengklaim dia mengutuk As Aguias tidak akan menjadi juara kompetisi Eropa selama 100 tahun. Guttmann kemudian mundur dan beralasan Benfica tidak membutuhkan jasanya lagi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan