Bola Ganjil: Kutukan 100 Tahun Penyintas Holocaust untuk Mantan Tim

Simak kisah Bela Guttmann, sosok di balik sukses dan nestapa SL Benfica di panggung Eropa.

Diterbitkan 17 September 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Doa Eusebio di Makam Guttmann

Betapa anggapan tersebut benar adanya. Benfica lolos ke fina kompetisi Eropa yakni Piala Champions (1963, 1965, 1968, 1988, 1990) dan Piala UEFA/Liga Europa (1983, 2013, 2014), tapi selalu tumbang.

Coba mengubah peruntungan, Eusebio mengunjungi makam Guttmann, yang dikubur di Wina, jelang final Piala Champions 1990. Benfica dijadwalkan bersua AC Milan di kota sama.

Di sana Eusebio berdoa dan meminta mantan pelatihnya membatalkan sumpah. Usaha itu tidak berbuah manis. Benfica tumbang 0-1 akibat gol Frank Rijkaard.

Kutukan Guttmann hingga kini masih membayangi psikologis Benfica saat berkompetisi di Eropa, terlepas dominasi klub pada pentas domestik. Musim ini mereka bahkan sudah tersisih di kualifikasi ketiga Liga Champions.

Guttmann terus bekerja hingga 1973. Dia bahkan sempat kembali ke Benfica dan melatih tim pada periode 1965.

Namun Guttmann gagal mengulang kesuksesan. Benfica mengakhiri Liga Portugal di posisi dua, serta tersingkir di perempat final Piala Portugal dan Piala Champions. Dia kemudian memutuskan hengkang dan menakhodai klub Swiss Servette.

Selamat dari Holocaust

Kutukan Benfica hanya jadi salah satu kisah menarik dalam hidup Guttmann, yang meninggal dunia pada 1981. Berdarah Yahudi, dia harus meninggalkan tanah kelahiran demi menghindari antisemitisme yang diusung pemimpin Hungaria Miklos Horthy. Guttmann kemudian kabur ke Amerika Serikat.

Di Negeri Paman Sam, dia juga mengajar dansa, membuka bar, serta menanam investasi di pasar saham demi bertahan hidup. Namun, Guttmann hampir kehilangan seluruh hartanya akibat keruntuhan Wall Street 1929.

Gutmann kembali ke Eropa untuk melatih pada 1932. Ketika Nazi Jerman menginvasi Hungaria, dia sempat bersembunyi di loteng iparnya.

Sayang Guttmann tetap ketahuan dan dikirim ke kamp konsentrasi. Dia sukses melarikan diri pada Desember 1944 sebelum dikirim ke Auschwitz. Namun, sang ayah Abraham, kakak perempuan Szeren, serta keluarga besarnya tidak berhasil lolos dan dibunuh di sana.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan