Bola Ganjil: Saint-Etienne dan Gawang Persegi Hampden Park

Saint-Etienne bisa jadi juara Eropa pada 1976 jika bukan karena gawang persegi.

Diterbitkan 07 September 2020, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Saint-Etienne kembali melakukan comeback pada putaran selanjutnya melawan Ruch Chorzow asal Polandia. Tumbang 2-3 di partai pembuka, mereka lalu berjaya 2-0 demi mencapai semifinal.

Sayang Saint-Etienne terhenti di sana. Les Verts mesti mengakui keunggulan juara bertahan Bayern Munchen dengan agregat 0-2.

Petaka Gawang Persegi

Merasa bisa bersaing melawan tim-tim lain dari Eropa, Saint-Etienne lebih percaya diri di musim berikutnya. KB (Denmark), Rangers (Skotlandia), Dynamo Kyiv (Uni Soviet), dan PSV Einhoven (Belanda) berturut-turut ditaklukan dalam perjalanan mencapai final.

Musul lama menanti. Saint-Etienne menghadapi Bayern Munchen yang coba mencetak hattrick di Hampden Park. Franz Beckenbauer, Gerd Muller, Sepp Maier, dan Franz Roth mungkin sudah melewati usia emas. Namun, itu tidak mengurangi ambisi mereka mencari prestasi terakhir di ambang karier.

Final pun mempertemukan dua kubu. Bayern Munchen bermodal reputasi, pengalaman, dan fisik. Sementara Saint-Etienne memiliki kecepatan dengan strategi serangan balik, permainan sayap, dan umpan kilat.

Gol Muller dianulir karena offside. Saint-Etienne membalas melalui tendangan jarak jauh Bathenay. Sayang tendangannya mengenai mistar.

Nasib sial Saint-Etienne berlanjut tidak lama berselang. Tandukan Jacques Santini meneruskan umpan silang juga menerpa mistar gawang.

Bayern Munchen tersentak. Mereka tahu sudah dinaungi keberuntungan dan coba memaksimalkannya. Hasilnya adalah gol Franz Roth melalui tendangan bebas tidak langsung.

Setelahnya Saint-Etienne menekan dan beberapa kali mendapat peluang. Namun gol penyama kedudukan dan waktu pertandingan habis.

Pasukan Herbin hanya bisa menangis dan meratap nasib. Belakangan mereka menyesalkan bentuk gawang di Hampden Park yang masih berbetuk persegi, belum bundar seperti kebanyakan stadion lain. Jika gawang bundar, pemain dan suporter Les Verts yakin bola hasil tendangan Bathenay dan tandukan Santini bakal memantul masuk gawang.

Uniknya, meski takluk, publik Prancis menyambut Saint-Etienne sebagai pahlawan. Mereka mengarak tim di Champs-Elysees, Paris.

Sempat Berstatus Klub Yo-yo

Saint-Etienne kembali mencoba peruntungan semusim berselang. Sayang mereka sudah dipasangkan dengan Liverpool di perempat final. Les Verts akhirnya tumbang agregat 2-3 di hadapan The Reds yang kemudian jadi juara.

Setelah itu Saint-Etienne kesulitan mempertahankan masa keemasan. Mereka hanya bisa sekali menjadi juara pada 1981 mengandalkan pemuda Michel Platini. Dalam dua tahun kemudian, Platini pergi ke Juventus dan Herbin hengkang ke rival domestik Olympique Lyon. Sementara Rocher terkena skandal suap dan masuk penjara.

Saint-Etienne akhirnya terdegradasi pada 1984. Mereka lalu menjadi klub yo-yo dan turun naik ke kasta tertinggi, sebelum mulai stabil di abad ke-21. Namun, periode emas masa silam sulit diulang. Semua gara-gara gawang persegi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan