5 Tips Mengatur Keuangan Pribadi Saat New Normal

Setelah tiga bulan terakhir produktivitas masyarakat menurun drastis, tentunya juga berpengaruh pada daya beli sebagian besar masyarakat.

Diperbarui 26 Juni 2020, 09:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) harus dijalani masyarakat Indonesia dalam beberapa bulan terakhir sejak mewabahnya virus Corona COVID-19. Untungnya memasuki bulan Juni 2020 ini, PSBB mulai dilonggarkan di beberapa daerah di Indonesia. Kini masyarakat menyongsong new normal.

Meskipun kurva belum terlihat melandai dan masih menunjukkan penambahan kasus baru, pendekatan aktivitas sehari-hari dengan metode ‘new normal’ tidak terelakkan lagi untuk segera menghidupkan denyut perekonomian yang sempat terganggu.

Kini pemerintah mulai membuka berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara perlahan dan terbatas. Kondisi ‘new normal’ dianggap sebagai suatu solusi dengan menerapkan protokol kesehatan agar masyarakat tetap bisa produktif dan terhindar dari virus corona COVID-19. Masyarakat dihimbau untuk melakukan adaptasi perubahan perilaku saat pelonggaran PSBB dan bersiap untuk beraktivitas secara ‘new normal’.

Adaptasi tersebut juga berlaku dalam hal manajemen keuangan pribadi. Setelah tiga bulan terakhir produktivitas masyarakat menurun drastis, tentunya juga berpengaruh pada daya beli sebagian besar masyarakat serta kondisi keuangan pribadi mereka.

Penyesuaian anggaran dan manajemen keuangan pribadi sangat penting di masa new normal ini. Berikut lima langkah yang perlu dilakukan setiap individu untuk mengatur keuangan pribadi dalam menghadapi ‘new normal’ menurut Grant Thornton Indonesia:

 

 

 

 

1. Review Kondisi Keuangan Pribadi

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat dengan cermat kondisi keuangan saat ini dari sisi pemasukan dan pengeluaran.

Identifikasi semua pengeluaran mulai dari laporan kartu kredit hingga berbagai tagihan rutin seperti listrik dan air, coba untuk lakukan review dari tiga bulan lalu dan awasi pengeluaran tahunan yang akan segera jatuh tempo seperti pajak rumah, pajak kendaraan bermotor hingga uang sekolah anak yang dibayarkan beberapa bulan di muka. Bandingkan dengan pemasukan tetap yang diterima tiap bulan untuk mendapat jawaban apakah kondisi keuangan pribadi berisiko atau tidak.

2. Idenfikasi Kebutuhan vs Keinginan

Seringkali kita masih terjebak antara keinginan dan menempatkan hal tersebut sebagai kebutuhan. Langkah signifikan berikutnya adalah mulai mengidentifikasi kebutuhan reguler dan menuliskan apa saja keinginan yang menyedot penghasilan maupun tabungan serta mengendalikan hasrat berbelanja atas keinginan tersebut.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Untuk lebih mudahnya, kebutuhan adalah sesuatu yang akan memengaruhi kemampuan seseorang untuk hidup, semua yang tidak termasuk dalam kategori tersebut dapat dianggap sebagai keinginan.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Thomas, Fadjriah NurdiarsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan