Cerita Singkat Kompetisi Sepak Bola Indonesia di Masa Lalu, Galatama

Galatama merupakan kompetisi sepak bola profesional pertama di Indonesia yang menyita perhatian penggemar di tanah air.

Diterbitkan 11 April 2020, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Perjalanan sepak bola Indonesia telah dimulai berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan Soeratin sudah memulai langkahnya sejak era penjajah. Namun, kompetisi sepak bola 'modern' dan non-amatir baru ada pada akhir 1970-an. Kompetisi itu disebut Galatama, atau Liga Sepak bola Utama.

Ada pun definisi modern dan profesional terletak pada pengelolaan kompetisi dan klub-klub pesertanya. Kompetisi sepak bola yang baik tak bisa lepas dari faktor industri sepak bola itu sendiri. Kompetisi harus berjenjang dan berkelanjutan serta bisa menjual.

Klub-klubnya pun harus mandiri secara finansial, memiliki struktur organisasi yang jelas, dan berjenjang. Klub profesional tidak diperbolehkan menggunakan anggaran daerah atau negara. Oleh karena itu, pengelolaan klub selayaknya berorientasi pada keuntungan dan prestasi, sama seperti perusahaan pada umumnya.

"Untuk mengatur nasib sendiri, Liga Utama telah menyiapkan anggaran dasar dan anggaran rumahtangga sendiri. Yang menarik dari anggaran rumahtangga itu adalah dicantumkannya secara terang-terangan adanya status profesional bagi pemain yang tergabung dalam Liga Utama. Selama ini ada semacam ketakutan terhadap kata tersebut. 'Padahal dalam praktiknya mereka sudah profesional,' kata T.D. Pardede, bos Klub Pardedetex," tulis artikel di Majalah Tempo terbitan 19 Juni 1982.

Sebelum era Galatama, sudah ada kompetisi sepak bola amatir yang dikenal dengan era Perserikatan. Bond-bond ternama bermunculan seperti Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, PSIM Mataram, Persib Bandung, hingga PSKK Kupang.

Pada perjalanannya, Perserikatan yang sudah melekat dengan rakyat, meski pun berstatus liga amatir, memiliki penikmat yang luar biasa. Sebab, ada kesan local pride yang mewakili daerah tertentu. Persib misalnya, dinilai mewakili warga Bandung, bahkan cenderung 'klubnya Jawa Barat'. Kecenderungan serupa juga terjadi di klub Perserikatan lainnya.

Sementara Galatama, meski rapi dan lebih modern pada masanya, terbilang sepi penonton. Artinya, tidak ada fanatisme dan rasa kepemilikan dari orang-orang di mana klub Galatama itu berada. Beberapa klub Galatama masih eksis hingga kini, sebut saja Arema dan Semen Padang.

Asal Mula Galatama

Pada 1975, PSSI selaku induk sepak bola Indonesia tengah disibukkan dengan persiapan Turnamen Piala Ratu atau Queens Cup di Thailand. Mencoba pragmatis, PSSI lalu berencana menggelar turnamen antarklub yang pesertanya berasal dari lima kota besar Tanah Air, seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, dan Medan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

PSSI, pada 30 Agustus - 4 September 1975, akhirnya menggelar turnamen yang diikuti oleh Bintang Utara (anggota PSMS Medan), Jayakarta (Persija), UNI (Persib), Blitar Putra (PSBI Blitar), Assyabaab (Persebaya), dan PSAD (PSM Makassar). Jayakarta menjuarai turnamen tersebut dan mendapat piala bergilir dari Ketum PSSI saat itu, Bardosono. Bola.com belum bisa memastikan apakah turnamen yang kelak diubah menjadi Kejurnas Antarklub Amatir Perserikatan (lalu dikenal dengan mana Galatama) itu ditetapkan pada 1979 atau 1980. Yang jelas, untuk mengikuti Galatama, klub-klub amatir harus menjadi klub profesional. Beberapa klub lantas mengubah namanya. UNI misalnya, mengubah nama menjadi Bandung Raya. Ini dilakukan agar tidak ada kebingungan mana UNI yang amatir, mana UNI yang profesional. Dalam kasus lain, pada Galatama edisi pertama yang dihelat pada 1979-1980, muncul Sari Bumi Raya. Media lokal Bandung menulisnya Sari Bumi Raya 1979. Sebab, ada Sari Bumi Raya amatir yang sudah ada sejak 1976. Pada 23 Maret 1976, Bardosono menyatakan bahwa PSSI akan menelurkan klub-klub profesional di Indonesia. Lima bulan berselang, tepatnya 15 Agustus, Bardosono meresmikan delapan klub profesional pertama di Indonesia pada upacara peresmian di kantor PSSI, Senayan, Jakarta. Delapan klub itu adalah: Pardedetex (Medan) Bangka Putra (Sungailiat, Bangka) Jayakarta (Jakarta) Buana Putra (Jakarta) Tunas Jaya (Jakarta) Warna Agung (Jakarta) Palu Putra (Palu) Beringin Putra (Makassar) Menariknya, pemain-pemain di delapan klub tersebut harus menunggu setahun lamanya sebelum mendapat predikat pemain profesional. Pada 15 Oktober 1975, setelah PON IX/1977, Bardosono, melalui Direktur Kompetisi, Soebronto, diminta untuk mengesahkan hal tersebut. Akan tetapi, Ali Sadikin yang terpilih sebagai ketua umum PSSI periode 1977-1981, dalam sebuah Kongres Luar Biasa (KLB) batal mengesahkan status pemain profesional. Alasannya, Ali melihat pelaksanaan kompetisi profesional di Indonesia terlalu tergesa-gesa. Selain itu, dinilainya rencana pembentukan kompetisi yang kelak bernama Galatama itu mengindahkan garis birokrasi. Seharusnya, hal itu dibicarakan lebih dulu dengan KONI Pusat dan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu, pada 1978, PSSI dalam Sidang Paripurna Pengurus membentuk prorgam Gala, yakni Galatama, Galasiswa, Galakarya, dan Galanita. Pada kurun waktu 1976 hingga 1979, klub-klub profesional itu sudah melangsungkan banyak pertandingan meski belum ada wadah kompetisi profesionalnya. Tahun 1977 misalnya, ada laga antara Pardedetex kontra Warna Agung di Stadion Teladan, Medan. Laga itu disebut-sebut sebagai pembukaan liga sepak bola profesional. Galatama lantas terselenggara pada 1979. Ketika itu, baru ada delapan klub yang mengikuti Galatama edisi pertama. Galatama dianggap sebagai kompetisi sepak bola profesional pertama bersama Liga Hong Kong. Bahkan, Jepang yang memiliki J-League disebut-sebut belajar pada kompetisi Galatama. Klub-klub Galatama juga sempat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Kramayudha Tiga Berlian pernah menjadi juara tiga Liga Champions Asia. Pelita Jaya, Pupuk Kaltim, dan Semen Padang juga serupa. Pelita Jaya dan Pupuk Kaltim misalnya pernah melaju hingga empat besar Liga Champions Asia.

Halaman
Show All
Gregah Nurikhsani, Windi WicaksonoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan